Telolet om Telolet Jalanan Nusantara

Om telolet
Om telolet om

Telolet om telolet menjadi sangat ramai di bumi nusantara ini. Bahkan sudah go internasional sampai negara japan dan amerika pun juga ikut-ikutan. “Telolet om telolet”. Kita ndak usah “gumun”, nanti tak jelaskan di bawah. 

Ya lucu, ya mangkel (geram). Lha gimana, tiap kita buka sosmed isinya telolet, di jalanan juga banyak orang yang minta “telolet” ke bis bis yang lewat. Temen-temen disini pasti juga mengalami seperti saya. Tapi kebahagiaan sederhana ini ternyata juga menimbulkan ketidaksenangan di kalangan kalangan tertentu, khususnya kaum intelektual. Akhirnya saya pun gatal, bikin kopi dan nulis uneg uneg ini

MENYIKAPI TELOLET

Sebelum sikap manusia terbentuk dan terealisasi, maka proses sebelumnya adalah proses menata cara pandang, sudut pandang dan jarak pandang akal kita terhadap hal tersebut. 

Satu-satunya ilmu di dunia yang mampu menata itu adalah cara pandang jawa, menggunakan filsafat jawa kuno. Dimana sebuah peradaban tertua dengan kekayaan bahasa yang sangat detail, akurat serta kuat poros katanya. 

Biarlah teloleters menciptakan kebahagiaan mereka sendiri, karena pemerintahan ini tak mampu membahagiakan mereka sebagaimana seharusnya

Om telolet om adalah sebuah temuan kata yang baru dari jepara yang sangat detail menggambarkan sesuatu. 

Telolet: berarti bunyi klakson bus. Tidak mungkin mereka minta telolet ke ambulan lewat 😕

Sebelumnya juga banyak sekali temuan kata baru beberapa tahun belakangan ini seperti; 

Alay: Berarti orang kampungan yang lebay. Berasal dari lagu jawa dangdut koplo “Alay, Anak Layangan..”

Asolole: Berarti bebas enak nikmat. Berasal dari lagu Triomacan

Ababil: Anak baru gedhe yang labil

Labil: Tidak stabil tingkah lakunya

Kimcil: berarti kimpet cilik. Remaja putri yang lelakunya sok dewasa, padahal belum

Gondes: Berarti Gondrong deso. 

Dan masih banyak lagi istilah baru yang kita miliki. Itu baru 5 tahun belakangan ini. Belum 100 tahun lalu, 1000 tahun lalu, bahkan 2000 tahun sebelum masehi, dimana nusantara ini sudah “Gemah ripah lohjinawi”, nyaman dan bermanusia baik tidak seperti kaum babylonia, mesir dan arab pada saat itu hingga terpaksa laknat Allah diturunkan beserta wahyu kepada para nabi. 

Saya bukan anti daerah lain, yang saya maksud ini juga bukan jawa sentris. Jawa itu ya nusantara/indonesia ini. Entah keturunan mana pun yang sudah mendarah dengan tanah ini. 
Istilah lama seperti Kecut, pesing, gragas, maling, nguntal, dahar dll sudah tak terhitung jumlahnya. Belum dari betawi, madura, kutai, borneo dll. 

Butuh bertahun tahun hingga berabad abad untuk menemukan 1 kata/istilah baru dalam pustaka bahasa. 

Maka gak usah gumunan, gak usah melarang, gak usah muni muni ada euforia telolet. Biarlah mereka mencari kebahagiaan mereka dengan caranya sendiri. 

“Pintar itu perlu, tapi disaat saat tertentu menjadi bodoh itu juga perlu”

Biarlah mereka menikmati telolet, karna mereka memang bodoh secara sistem pendidikan yang ada, tapi mereka sangat pintar perihal mengubah tahu menjadi daging sapi, mereka pintar memawangi dirinya dan mampu lebih besar dari masalah hidup sendiri. 

“Kebaikan tidak bisa berdiri sendiri dan tidak bisa berhenti. Karena baik untuk kita belum tentu baik untuk orang lain, baik untuk orang banyak. Pun baik dari orang banyak juga belum tentu baik untuk diri kita sendiri” 

Hanya kita sendiri yang bisa mencari tau siapa diri kita? Dan seperti apa kehebatan kehebatan yang kita punya? Kita itu ayam, elang, gajah, semut, atau apa? Sehingga kita tau kelemahan dan kelebihan diri kita. Karena kalau ayam tidak mungkin bisa terbang, kalau gajah tidak mungkin bisa berenang. 

Kenapa negara negara besar sangat melirik kita? Sangat kepo dengan apa yang kita lakukan sampai mereka mau meniru kita. Kenapa kita malah tidak bangga. Why? 

Kalo saya kok malah pengen menikmati telolet sambil ngopi ☕😁 Jam jam sore cocok nih, yok budal golek telolet nang terminal ben marem 🚌🚆🚃🚍🚆 😄

Iklan