Kursi Rimba

Puisi
Kursi rimba (img: artpeoplegallery)

Karena ia adalah pintu masuk rumah dari furniture furniture besar yang sudah terbungkus rapi
Karena ia adalah jendela dari sirkulasi asap asap yang menyesakkan penghuni

Karena ia adalah tamu yang meniduri pemilik rumah yang sudah menyuguhi kopi

Karena ia adalah gula dari rasa manis yang menggerogoti sel sel tubuh hingga mati

ia lah Koh Ah ah.. sang pekerja panggung hiburan dari hitamnya bisnis dunia

#kekopian #kopi #ngopidulu #ngopi #kopilampung #kopiindonesia

Bercumbu dengan Lapar


Teori teori gizi dunia tak sepenuhnya berlaku untuk orang indonesia sepertiku. Karena Setelah 27 tahun aku baru bisa merasakan bahwa lapar itu ternyata adalah sebuah kenikmatan, ya.. kenikmatan. 

Ketika perutku berbunyi beberapa kali,

kedua tanganku mulai gemetar hingga tak kuat mengepal, 

sel sel ku terbangun dan bersatu 

Mereka berjuang aktif bekerja untukku

Lapar, Aku bisa menikmatimu. 

Hai sahabat, cobalah rasakan dengan kejujuran hatimu. Senikmat apa kau bercum dengan laparmu? 

Hai sahabat, setiap moment ku dengan lapar tak pernah kukeluhkan. Andai ia bisa lebih lama kunikmati tanpa tubuhku kelaparan, maka perut perut di jakarta juga tidak akan anti kepadanya, tak perlu mereka mencari uang hanya untuk sekedar makan. 

Dicko Purnomo

2 Nov 2016

Segelas Kopi Leng Cuk

Celeng bertanya kepada Jancuk. “Cuk, kita ini sebenernya haus apa doyan to? Kalau haus kan gak harus minumnya kopi? Kalau doyan kenapa rakus. Kita ini sebenernya doyan kopi apa? Kok semua kopi kita minum. Dari sachet sampe spesialty” 

Jancuk menjawab, “Iyo leng, hari ini Kita minum segelas kopi saja dulu, kita makan sepiring saja dulu, kita pahami seilmu saja dulu”

Satu saja yang sederhana, 

Satu saja yang mudah dipahami, 

Satu saja yang menyatukan, 

Satu saja yang selalu ditengah.

Celeng bertutur. Dalam bahasa indonesia, Mutlak = penuh, genap, utuh, 100%, tidak boleh tidak. Itu bersifat mengikat. 

“Bukannya estimologinya dari bahasa arab Muthlaq = tidak terikat? Kenapa gitu cuk?”

“Ya sementara ini kita ambil jalan tengah saja, yang selalu lebih baik. Bisa betmakna penuh, bisa hampir penuh, bisa setengah penuh dan opacity serta gradasi lainnya 😁” 
“Dari pengamatanku, Sepertinya akan bubar Negeri ini. Tapi gimana, Aku bangun setiap pagi saja sudah repot dengan urusan keluargaku, sudah bingung dengan cicilan cicilan yang sudah jatuh tempo. Jadi, misalkan bubar juga nggak penting penting amat bagiku. Tinggal kita hijrah ke keraton atau ke jawa timur bukan?” 

Iya lah cuk, Hidup disini kita musti “nyicil” memahami asal usul kata perkata, biar kita makin lama makin tau, kata apa saja yang sudah mengalami pergeseran makna dari tahun 1800 an – 2016 sekarang. 

Karena hanya dengan “modal” 1 kata saja, sebuah generasi bisa dirusak/dirobohkan. Semakin jauh kita kebelakang menyusuri 400-600 tahun yang lalu. 

Kita diinjak dengan kaki tak tampak

Kita ditonjok dengan tangan tak tampak

Kita dihina dengan suara suara merdu

Kita diberaki dengan roti roti rasa pisang cokelat dan keju

Makanya leng, aku memilih menyerah saja jadi wartawan dan sementara ini memilih menjadi seniman pencari hakikat saja, pencari Tauhid 😁 

Bagus cuk. Biar tetep kuat otak kita, akal sehat kita, kita perlu kopi lagi nih.

“Sik sik leng.. pancen celeng kowe. Bentar dulu” 

Kalau yang namanya akal ya mesti sehat lah 😦 Jadi nggak ada apa itu akal sehat, kalau berakal itu pastinya sudah sehat otaknya. Otak sehat, maka jadilah akal. Gimana to leng?” 😕

“Oh iya juga cuk. Sorry sorry, khilaf 😁. Aku juga manusia leng, banyak salah. Gara gara ngopi kok jadi pinter juga kamu leng” 

Lha iya to leng. Biar otak maksimal maka dibutuhkan lah kopi. Kalau temen kita gak biasa ngopi ya suruh coba aja sekali kali kalau mau, segelas saja dulu lah, sehari 1x di pagi hari udah cukup kan leng. Kalau kerja otaknya lebih keras ya tinggal nanti siang tambah segelas lagi. Bagus gak leng? ☕😁 

Lha iya, “Kita sendiri yang tau kebutuhan diri kita”

Undangan Malam Puncak Bahasa dan Sastra untuk Jogja dan Sekitarnya

Lesehan bahasa dan sastra
Penyair dan pembaca puisi itu beda. Tapi banyak wartawan yg tidak mengerti hal itu. Membahayakan para pembaca.

Banyak estimologi kata yg sudah tak kuat porosnya, menyimpang artinya. Kenapa pemerintah mengubah balai pustaka, menjadi balai bahasa, badan bahasa, hingga nama nama lain yg ternyata tak ada bedanya.

Kenapa istilah koruptor, bukan maling, bukan pencuri? Bukan perampok?  Kenapa istilah ahli = mahir, bukan pembawa acara dsb.

Bahasa indonesia itu ada 3, yaitu bahasa indonesia baik, benar dan enak. Lalu menjalar menjadi bahasa hukum, bahasa konstitusi, bahasa birokrasi, bahasa politik, bahasa dagang, bahasa spiritual hingga bahasa pengangguran seperti saya ini.

Mari sinau bareng Senin 31 Oktober 2016 mulai jam 18.30 WIB sampai pagi hari. Seperti biasanya, Kita tutur tutur, berdialektika, berbudaya bersama Caknun. Jangan lupa bawa kopi sendiri ☕😁 

Kepalan Syair Pemuda Desaku

Video create : https://www.instagram.com/p/BMHLbHmhfzsrAba8hzchrmAwMzwB9mPUeitugg0/ 

​Tepung tepung rakyat merapatkan barisan, koran koran malah berdagang. Pemuda pemuda mengepalkan tangan, para pejabat malah unjuk kemaluan.

Kami bermartabat. Berani berjabat tegak dengan para pejabat dunia. 

“Kami terang dalam kegelapan, kaya dalam kemiskinan”

Bisa bisanya kau ucapkan sumpah pemuda melebur menjadi satu

Kenapa tidak Kau ucapkan sumpah pemuda sunda dulu

Kau ucapkan sumpah pemuda jawa dulu

Kau ucapkan sumpah pemuda batak dulu

Kau ucapkan sumpah pemuda bugis dulu

Kau ucapkan sumpah pemuda borneo dulu

Barulah kau akan baik saat bersumpah Indonesia. 

Kalau itu terbalik, maka jangan salahkan Tuhan jika nilai nilai pemudamu terbalik. 

Ingatlah pemuda pemuda bangsaku

Indonesia itu baru ada di tahun 1850

Lalu dimanakah pemuda pemuda abad 7? 

Dimanakah pemuda pemuda yg sudah berjiwa baik 

bahkan saat sebelum ajaran agama itu datang

Wahai pemuda desaku

Menghormati perjuangan sesepuh itu wajib

Tapi jangan sempit pikiranmu

Karena berhenti menghormati sama saja kau berhenti mencintai 

28 Okt 2016

Note: Lukisan karya teman saya Hendri ( @hendry_art ) asal jepara, menggunakan tepung, koran dan konte. 

​PUISI: KOPI DARI DINAS PERTANIAN TUHAN 

Kopi Juria from Colol

Wahai saudara saudara kekopian. Terus tanamlah kopi ini. Rawat ia layaknya kau merawat darah dagingmu sendiri. 

Tugasmu hanya merawat, tak bisa menumbuhkan, tak bisa membuahkan. 

Tugasmu adalah memupuk potensi potensi anakmu, bukan mendidiknya, bukan pula merobotkannya. 

Biarkan ia otentik menjadi dirinya sendiri sesuai kehendak siapa yang menumbuhkannya. Siapa yang menghentikan pertumbuhan kemaluannya, rambutnya, kukunya dan semuanya. 

Wahai saudara saudara kekopian. Berdagang lah dengan bermartabat, dengan berdaulat. 

Jual lah kopi apa adanya saja. Tak perlu terburu-buru menawarkan kesana kesini. Jangan tergesa menjadi materialisme. Hasil bukan lah segalanya. Sukses punya arti yg terlalu luas. Namun Berbagi akan menumbuhan cinta yang mulia. 

Jangan khawatir kopimu tak laku, kopi akan terus dibutuhkan hingga akhir zaman. 

Hingga para staf dinas pertanian Tuhan berhenti menumbuhkannya. .

Okt 2016

Dicko Purnomo

​MENCARI DALAM PENCARIAN

(Foto:
Andrea Safa Sabrina)

Hai saudaraku. Kenapa kau berhenti dengan mencintai satu karya? Kenapa kau batasi dirimu dengan dinding dinding besimu. Kau biarkan akar akar pohon yang kau sirami menjerat kakimu sendiri hingga jiwamu pun ikut terpenjara. Tak ingin kah kau bisa berjalan saudaraku? 

Bagaimana mungkin kau bisa berhenti mencintai? Jika ia yang kau cintai tak pernah puas dengan karyanya sendiri. 

Bagaimana mungkin kau bisa menikmati? Jika nikmat yang ia beri membuatmu terpaku semakin dalam, terinjak, namun kau berterimakasih. 

Hai saudaraku. Karya adalah hujan, airnya adalah cintamu. Karya adalah ombak, gelombangnya adalah cintamu. Karya adalah malam, kegelapan adalah cintamu. 

Hai saudaraku. Bangkitlah! Besarkan hatimu. Cintai sebanyak banyaknya karya lain dengan terus terus dan terus. Bahkan jika esok kau tinggalkan dirimu, kau pun harus terus mencari, karena cintamu adalah mencari dalam pencarian. 

Oktober 2016