Makrifat Rasa dalam Kopi

Rasa kopi
Merasakan Kopi
Banyak sekali hal baik yang bisa kita ambil soal kedalaman rasa bagi pecinta kopi. 

Saya tidak sedang cupping taste secangkir kopi single origin, biarlah cupper / Q Grader yang bisa menjelaskan soal itu. Tapi saya akan bicara soal potensi diri dan kualitas diri tanpa teory, hanya sekedar menggunakan RASA.

Jika kita bisa mendalami rasa, maka kita akan menemukan surga dalam diri. Sangat dalam, bahkan ada rasa di dalam rasa yang tidak bisa dipahami dengan pendekatan ilmu tampak manapun. Karena tidak semua hal harus dengan pembuktian kasat mata, karena faktanya banyak yang kita percaya meski tidak pernah ia menampakkan diri, bahkan belum pernah kita lihat sama sekali. 

Apa kamu pernah melihat Tuhan, malaikat, Nabi nabi, hingga melihat bentuk gelombang suara, jaringan internet dan sms yang ghaib karena bisa mengirim kata dengan cepat dalam jarak yang sangat jauh? Seperti apa bentuknya? Kenapa kamu percaya? 

Jika kita bisa mengolah rasa yang tidak bisa dilihat seperti itu maka, 

Tujuanmu bekerja menjadi bukan untuk kaya seperti Kaum Sudra

Tujuanmu belajar dan berlatih bukan untuk pintar dan kuat seperti kaum ksatria

Namun menjadi Brahmana adalah tujuanmu, yang bisa sudra dan bisa ksatria pada saat saat tertentu yang memang diperlukan pada saat itu. 

Ngopi dulu
Ristreto Coffee, sweet and strong taste. Sangat kuat dan melembut dilidah

Merasakan hidup kita sendiri lebih baik daripada merasakan hidup orang lain, karena tidak ada manusia yang mampu merasakan hidup orang lain kecuali dengan perasaannya sendiri. Tidak perlu disanggah, karena kedalaman hakikat rasaku tidak ada yang bisa tahu. 

“Seperti sedekah dan hadiah, meski sama sama memberi, tapi menggunakan rasa yang berbeda”

Filosofi Kekopian

Budaya ngopi
Kulit kopi, buah kopi dan biji kopi

Terimakasih buat temen temen setia pembaca blog ini atau pun instagram (@dickopurnomo). Sebuah kebanggan buat saya dipuji oleh kalian. Hal itu justru membuat saya perlu berdiplomasi, semakin merunduk, semakin rendah dan semakin merasa bukan siapa-siapa. Karena memang sejatinya yang memuji selalu lebih tinggi daripada yang dipuji. 

Kali ini saya membahas filosofi yang sangat dasar. Saya merasa ada hal yang perlu di “dandani”, diperbaiki atau direkonstruksi pemahamannya karena sudah salah kaprah dalam setahun ini. Meski tidak saya sebutkan secara “gamblang” (terbuka), semoga temen temen bisa menangkap apa yang saya maksud. 

Ini bukan soal buku, film ataupun kedai filosofi kopi itu. Ini filosofi kekopian (dunia kopi) yang saya pelajari beberapa tahun belakangan ini. 

Saya kira semua orang-orang panggung itu bukan Tuhan kok, bukan Malaikat kok, bukan Rosul utusan Tuhan kok. Semuanya sama kok, kita pun bisa menemukan filosofi diri kita sendiri. Justru itu akan menghasilkan sebuah filosofi yang otentik, yang original, murni, suci tanpa sekedar adopsi sana sini.

Oke? Kita buang saja kata filosofi, atau saya ganti dengan yang lebih sederhana. Saya akan mencoba memahami 1 red cherry coffee / satu buah kopi dengan Ilmu pendekatan budaya. Jika kita ingin membudayakan sesuatu, maka hal yang utama adalah rekonstruksi pemahaman, sesuai dengan urutan urutan dalam kebudayaan. Sebagaimana dipilihnya nama Bumi, ibu kota, ibu jari, ibu pertiwi. Karena pemilihan nama “ibu” tersebut adalah soal pendekatan budaya, yang bersifat feminim. 

Namanya Ilmu, maka sifatnya harus bisa berlaku untuk semua hal. Karena Ilmu adalah pola, atau sesuatu yang berpola adalah ilmu. Maka ia bukan hanya sekedar pengetahuan/informasi, ia lebih dari itu.

Dalam ilmu, ketika objek diganti, pola itu akan tetap berlaku. Pola ini bisa kita gunakan untuk pendekatan dalam dunia pendidikan, Agama, Strategi marketing, kekopian, hingga PDKT dengan cewek. 

Ya, berbagi ilmu itu gratis tanpa syarat, tanpa koma dan langsung titik. Kalau ada acara seminar, workshop atau apapun yang sejenis bersifat “berbagi ilmu” tapi wajib membayar, maka besar kemungkinan acara tersebut adalah acara bisnis. Hanya ada untung untungan. Berapa untungnya, apa keuntungannya dan untuk apa tujuannya. Makanya kita jangan “gumunan” mudah ikut ikutan ini itu. Telaah dulu, cari tau apa benar mereka berbagi, apa benar mereka sedekah? 

FILOSOFI KEKOPIAN 

  1. Kulit = Melindungi, mengayomi
  2. Buah = Menyayangi, mencintai, lembut, manis, feminimisme 
  3. Biji = Mengatur, keras, sistematis 

Urutannya itu 1 2 3, jangan kita balik balik, nanti kacau. Baru mau kenalan sama cewek kok udah ngatur ngatur (No.3 biji). Mau mengenalkan kopi kok udah ngatur ngatur harus ini harus itu. Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Ya pasti lari dong dia. Ya cuma ngopi sesekali, habis itu ya nyusu lagi, nyaset lagi 😄 

Banyak sekali aturan aturan yang diberlakukan dalam dunia kekopian yang bersifat “liberal monopoli”. 

Jujur, sebagai penikmat kopi saya takut, saya merasa di atur atur. Tidak boleh giling halus lah, tidak boleh suhu sekian lah, tidak boleh pakai ini lah, itu lah, harus pakai kopi ini lah, timbangan lah, timer lah, alat-alat khusus lah. 

Saya pun mbatin, Mereka ini berbudaya enggak ya? Kok saya heran, gak bisa dicerna dalam logika saya tentang aturan aturan itu ๐Ÿ˜• 

Kalau mau berfilosofi, mau pakai filosofi yang mana? Yunani atau jawa atau apa?

Mari sama sama kita belajar lagi, apa itu kulit kopi, apa itu buah kopi, apa itu biji kopi. Hal apa saja yang bisa kita pelajari dengan satu buah kopi ini. 

“Karena Firman Allah juga diturunkan melalui kopi”

Mereka yang harusnya meniru cara ngopimu

Kopi dan biskuit

โ€‹Teman kopi adalah biscuits, sahabat kopi adalah brownis. Brownis’e mbahmu ๐Ÿ˜•

Piye to ilat mu? Jajanan pasar 500 rupiah ini jelas jelas lebih nikmat dibanding biscuits 5000 rupiah itu. Apalagi buat temen ngopi robusta. Kenikmatannya setingkat diatas teman dan sahabat. 

Jajanan pasar
Kopi dan pukis

Jika โ€‹teman kopi adalah biscuits

Jika sahabat kopi adalah brownis

Maka

Kekasih kopi adalah pukis

Mau apa? Jelas jelas jumlah jajanan di indonesia itu ada ratusan. Saking (terlalu) banyaknya, mustahil mereka (negara negara lain) bisa meniru kita. Mereka pengen banget meniru kamu, kok kamu malah meniru mereka. Kopi aja mereka ndak punya kok mau ngajari ngopi. Piye to iki ๐Ÿ˜•

Merasakan kopi bisa detail banget, saking detailnya saya tidak bisa membedakan yang mana peminum kopi, yang mana roaster dan yang mana Q-Grader. Tapi merasakan makanan aja gak bisa. Ahli 1 hal itu bagus, tapi jangan sampai dibodohkan dalam banyak hal lainnya.
Hmm ๐Ÿ˜• lagi lagi memang bener. “Hidupku memang murah, cintamu saja yang membuatnya mahal”

Kok Menanam Bibit Besi

Sunda RancabaliHolland tourism in Sunda Rancabali (@bengalano
Kalau negara bukan penghasil kopi bilang “cafein tinggi itu buruk”, maka saya memilih minum kopi dengan cafein tinggi.

Kalau negara bukan penghasil tembakau bilang “nikotin tinggi itu buruk”, maka saya memilih tembakau dengan nikotin tinggi. 

Cara berbisnis negara negara bukan penghasil kopi adalah menciptakan “alat-alat kopi” modern dan terus berinovasi, karena mereka sadar diri, negaranya tidak bisa berbisnis dengan menghasilkan kopi. 

Ini bukan hanya perihal tembakau dan kopi saja, semua hasil bumi juga seperti itu. 

“Namanya juga bisnis”

“Semakin bisnis itu maju, semakin banyak hutangnya”

“Pemodal lebih besar selalu menguasai bisnis”

“Penguasa bisnis tertinggi selalu pencipta bisnis itu sendiri”

Puisi petani
“Pertanian adalah soal maju mundurnya suatu bangsa” – Soekarno

Sekarang negara japan menjadi negara maju penghutang terbesar di dunia. Lha kalau semua negara negara hutang, pertanyaannya “Hutang pada siapa?” Ya dengan panitia belakang panggung yang ternyata orangnya hanya itu itu saja.
Jadi tak perlu heran dengan kemajuan teknologi negara negara itu, nyatanya dari dulu bisnisnya tidak ada yang benar benar berubah kan?

Kok malah kita mau adopsi cara cara bisnis negara japan, Yunani, Italia, china, Amerika itu. 

“Kok malah menanam bibit besi”

“Kok malah memupuk dengan batu bata”

“Kok malah menutup siraman dengan genteng”

“Kok malah menganti sawah menjadi rumah mewah”

Kopi Just Black untuk Perubahan Indonesia

Ritual ngopi sore ini cukup berat bahasannya. Banyak banget yang ingin aku tuliskan. Entah, bingung rasanya, harus kumulai darimana ini? 😯 Hmm ๐Ÿ˜• .. ya baiknya emang dimulai dari secangkir kopi. Oh iya ya 😄

image
Percipio dan Dokumentasi

Sebelumnya, aku mau berterimakasih kepada temen-temen yang setia menunggu tulisan terbaru blog yang baru saya rintis ini. Beberapa temen bilang, “Tulisan kamu bagus, ayo nulis lagi donk, kapan nih update artikelnya, aku tunggu lho postingan barunya, dsb”. Jujur, kalian adalah pondasi semangatku untuk menulis. Andai kalian tau, sebenernya aku malu karna blog ini hanyalah berisi curhatan spontan usai “ritual ngopi” dan lebih sering “baper”. Sesekali emang ada retorika yang tertuang begitu saja tanpa pikir panjang, apalagi research, enggak. Tapi saya bangga jika curhatan saja bisa bermanfaat untuk orang lain (pembaca), apalagi kalau serius.

Ngopi dulu, dari beberapa koleksi kopi dirumah,  kali ini kupilih kopi pemberian dari Erna Dewi (Radja Koffie, Bali). Aku memanggilnya Mamih Nena 😁 Hallo mih? How are you? 😁 Kopi ini berasal dari Desa Adat Sepang, Bali. Ya, Sepang itu ada di Pulau Dewata Bali, bukan Sirkuit di Malaysia ๐Ÿ˜• Baru tau kan kalau Kopi Bali itu nggak cuma di Kawasan Kintamani? 😦 Ya sama, aku juga belum lama tau kalau ternyata banyak daerah daerah penghasil kopi Arabika di Bali.

Kopi ini ku sajikan secara modern coffee, dengan bantuan “alat tempur” jenis pour over V60 metal filter buatan Hario Japan. Jujur, hasilnya nikmat banget. Kompleksitas rasanya dapet banget. Pahit, asam, manis (bukan tambahan gula) menyatu menghasilkan harmonisasi rasa yang begitu indah. Alunan musik instrumental saxophone Mindi Abair semakin menambah keindahan moment gerimis di sore ini.

DENGAN KOPI “JUST BLACK”, PERUBAHAN BESAR BISA TERJADI

Dunia kopi menyadarkanku kalau ternyata banyak sekali manfaat sosial yang diperoleh dari secangkir kopi. Tak salah jika ku sebut kopi adalah minuman terbaik di dunia setelah air putih/mineral dan tanah air Kita begitu kaya akan kopi.

Menurutku, Indonesia akan menjadi “Raja Kopi” ketika seluruh kalangan masyarakatnya mengkonsumsi kopi hitam murni / “just black”: organik, merah matang, tanpa gula, tanpa susu dan tanpa tambahan unsur lain kecuali air. Karena dengan just black manfaat bagi tubuh akan didapat maksimal: badan produktif, otak pun bekerja dengan optimal.

Berbanding terbalik dengan minuman beralkohol yang merupakan minuman sesat. Karena miras adalah minuman dari penjajah terselubung ciptaan Manusia penyembah Iblis di balik layar. Dan mirisnya, banyak sekali dari kalangan Kita mulai dari buruh, sopir, pelajar, mahasiswa, pengusaha, polisi, tentara hingga pejabat negara pun ternoda dengan alkohol. Mereka terjerat nikmat, namun ternyata dibodohkan tanpa sadar.

Disisi lain, perkembangan teknologi tentu sangat baik. Temuan baru tidak layak Kita salahkan, karna telah terbukti nyata sangat bermanfaat bagi khalayak untuk mempermudah sesuatu pekerjaan.

Tidak terlepas dari masalah itu, belakangan ini aku sangat bangga dengan semua pelaku kopi mulai dari hulu (kebun) hingga hilir (cangkir) yang setia mengedukasi kopi dengan tujuan yang sama, yaitu “Budaya Ngopi yang lebih baik”. Semua pihak berkesinambungan, terhubung erat menjadi satu kesatuan karena kopi.

Meski beberapa kedai menggunakan varian lain seperti cappucinno, coffee latte, dkk untuk menunjang sisi ekonomi/pendapatan. Bagiku sah sah saja, itu ide yang smart. Karna mungkin kalau aku punya kedai juga toh akan menggunakan cara yang sama. Namun terpenting adalah kualitas kopi, karna perihal rasa hasil tak bisa dibohongi, tak bisa direkayasa.

Dirumah, dalam hal kecil sederhana coba aku terapkan. Beberapa hari ini kedatangan tamu yang ingin membuka kedai atau warung kopi. Ada yang baru penasaran, ada yang peka melihat peluang bisnis dan ada juga yang bener bener “maniak kopi”. Selalu kukatakan, kalau bicara kopi ya “just black”. Icip dulu, setidaknya setiap minum kopi harus berani coba dulu tanpa gula. Jangan cupu, Kita perlu mengesampingkan dulu selera pribadi.

Itulah contoh kecil awal perubahan budaya ngopi. Bagaimana jika diterapkan oleh pemilik kedai/cafe, artis, pejabat dan orang orang berpengaruh lainnya? Tentunya progress akan lebih cepat. Manfaat akan terserap lebih banyak, semua sisi negara ini menjadi lebih baik dan perubahan pun akan terjadi pada Indonesia generasi mendatang.

Kecocokan Rasa Bagi Percipio Coffee

image
Percipio Coffee

Berangkat dari hobi ngopi jadi dipercaya orang lain itu seneng banget rasanya. Terimakasih sudah menggunakan percipio coffee” baik untuk kedai maupun rumahan.

Meski kopi jenis arabika dan robusta ini di roasting menggunakan alat sederhana (anggap saja perabotan rumah tangga), tapi dengan high quality control semua bisa dimaksimalkan. Minimalnya bisa menyuguhkan kopi layak minum. Kalo nggak layak, ya baiknya jangan diminum, kembalikan saja. Dengan senang hati kok, supaya percipio bisa mawas diri untuk belajar lagi lagi dan lagi .

Limited edition. Ya, maaf kalau kopi dan stok memang nggak banyak. Single origin nya juga nggak banyak. Jujur, untuk mempelajari satu saja kopi daerah itu butuh waktu lama. Kalau mau pesan kopi pun harus pre order dulu, biar kopinya bisa di nikmati saat “Golden Time“: best moment, best taste and flavour. Bagi kami, disitulah kunci pertama kenikmatan. Setelah panjangnya proses kerja keras dari petani sampai ke roaster, barulah kenikmatan itu ada, meski jangka waktu nggak terlalu lama.

Ada perspektif yang menarik bahwa

“Tidak ada yang namanya kopi itu nggak enak, yang ada hanyalah ketidak cocokan rasa”

. Sebuah pesepsi rasa yang dihasilkan dari hasil riset otak: menganalisa dan membandingkan. Sama halnya ketika kita di tolak cewek. Bukannya itu penolakan, tapi itulah ketidakcocokan jiwa .. hehe ๐Ÿ˜€

Selamat ngopi, semoga cocok 😁