Menikah dengan 4 Hal

Menikah
Menikah dengan 4 hal
MENIKAH. Menurut konsep hukum Tuhan, setiap Manusia dalam perjalanannya perlu menikahkan dirinya dengan 4 hal:

  1. Menikahkan dirinya dengan Tuhan dan para staf-Nya
  2. Menikahkan dirinya dengan alam semesta
  3. Menikahkan dirinya dengan dirinya sendiri
  4. Menikahkan dirinya denganmu dalam pelaminan 

Sebagaimana Roh kita juga menikah dengan 4 hal. Yaitu menikah dengan akal, hati, perut dan syahwat kita. Atau sebagaimana “sedulur papat” kita nikahi juga meski tanpa kita sadar keberadaan mereka.

Jika kita sombong karena sudah menikah dengan sesama manusia, sesungguhnya kita belum lah berarti apa apa dimataNya

“Janganlah sunyi kau anggap tiada”

Islam Menikah Hanya Karena Allah

image

Menikah adalah jalan berketurunan yang diwajibkan Allah untuk kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Namun kita semua pasti setuju kalau menikah itu tidak semudah pacaran, karna ada yang bilang “menikah itu menyatukan dua keluarga menjadi satu”.

Betul, tapi itu merupakan rencana manusia. Benar tidaknya mari kita lihat saja disekeliling kita. Mulai dari keluarga Ayah dan Ibu kandung kita, lalu saudara kita, tetangga kita dan teman-teman kita. Apa kenyataannya 2 keluarga mereka bersatu? Bersatu berarti bisa saling membantu ketika ada anggota keluarga yang kesusahan dan berbagi kebahagiaan di kedua keluarga itu.

Mereka mayoritas Muslim kan? Jujur aja, walaupun aku lahir dari keluarga muslim tapi aku merasa baru menjadi dan sadar muslim beberapa bulan yang lalu setelah mempelajari ilmu perbandingan agama pagi siang malam. Bayangkan! butuh 26 tahun untuk merasakan nikmatnya iman, indahnya ketaqwaan menjadi muslim yang rahmatan lil alamin. Ternyata ini memperkuat benteng pemurtatan aqidah. Masyaallah, seketika banyak yang berubah, tokoh idola berubah, selera berubah dan pola pikir pun berubah.

Kembali lagi, hidup ini memanf tidak sendiri. Ketika menemui masalah sosial dan budaya, biasanya perbebatan muncul. Banyak orang berdebat hanya karena dia ingin terlihat hebat dalam berdebat, bukan mencari jawaban dan mau legowo menerima kebenaran dalam perdebatan itu. Setiap orang pasti membela keturunan, keluarga dan kalangannya. Orang Yahudi menikah karena harta, orang Nasrani menikah karena keelokan, orang Arab menikah karena nasab dan orang Islam menikah karna ketaqwaan. Gak perlu kita sakit hati, itu fakta dari jaman nabi sampai saat ini, entah sudah berapa generasi.

Keempat golongan ini sudah ada di semua kalangan, banyak keluarga dan budaya. Ingatlah kalo kita hidup di jaman perang aqidah. Bisa aku beropini, kalau muslim yang realistis adalah yahudi dan nasrani secara aqidah. Siapapun dia, tanpa kecuali, termasuk keluarga kita sendiri.

“Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya di antara pasanganmu dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka… Sesungguhnya hartamu dan anakmu, hanyalah ujian bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabuun: 14-15)

Lalu ketika muslim ditanya, semua pasti setuju mau menikah karna Allah. Namun sebagian muslim lainnya akan bilang “Ya pasti, Aku mau menikah karena Allah tapi jaman sekarang harus realistis juga donk, gila loe hari gini”. Oke.. Gak bisa dipungkiri, Muslim seperti ini sudah menjadi masalah sosial disekitar kita. Karena perjuangan hidup, kerja keras, sudah sukses, kaya raya dan ilmu yang tinggi secara tidak sadar akan membawa kita pada yang namanya “menuntut” dengan mengatakan ini yang terbaik buatku, buat anakku dan buat keluargaku.

Kalau ada muslim Menikah karena Allah tapi juga realistis, berarti dia juga setuju kalau Allah itu juga realistis. Itu logika saya. Sekali lagi, ini benar-benar masalah sosial yang sudah terjadi sejak dulu. Kalau orang Jawa bilang “bibit, bebet, bobot” Tapi saya tetap bilang TIDAK SETUJU. Saya bukanlah orang jawa yang kurang ajar sama budaya sendiri, budaya dari leluhur. Saya hormati dan ikuti kok, tapi ketika ada suatu pertentangan, harus dikembalikan ke “Firman Allah sebagai panduan hidup seluruh manusia”. Sebagai muslim yang lahir dari keturunan manapun, kalian harus setuju itu.

Budaya jawa itu baik, satu contoh aja “Wong apik ketemu wong apik, wong olo ketemu wong olo”. Kalau dalam bahasa indonesia artinya “Orang baik ketemu orang baik, orang jahat ketemu orang jahat”. Yang dimaksud ‘ketemu’ diatas adalah jodoh. Ternyata itu berasal dari sebuah Firman Allah dalam surat ini,

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula}” (QS. An Nuur: 26).

Al-Hafizh Ibnu Katsiir menerangkan Ayat mulia yang menjadi hakim atas orang-orang yang mengaku mencintai Allah, namun ia tidak berjalan di atas sunnah Nabi-Nya. Maka sesungguhnya ia telah berdusta dalam pengakuannya itu. Pengakuan apa? Ya pengakuan Muslim menikah karena Allah.

“Katakanlah (hai Muhammad), jika kalian (benar-benar) mencintai Allâh maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang” (QS. Al-‘Imrân: 31)

Dalam Hadist shahih, Al-Bukhâri juga menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan dari urusan kami, maka amalan itu tertolak.”

Muslim realistis itu beramal dengan pengetahuannya, berencana untuk masa depan duniawi yang lebih baik. Lalu darimana asal realistis ini? Tidak lain adalah diciptakan oleh manusia belaka. Karna Allah jelas tidak realistis duniawi tapi realistis “gaib” dalam melihat hati dan iman setiap manusia.

Aku sadar keimananku masih sangat tipis, makanya menikah masih jauh dari pemikiran saat ini. Belum menunggu seseorang, tapi masih menunggu diri sendiri. Menikah juga bukan berarti jodoh, tapi kalau jodoh pasti menikah. Lebih lanjut, menikah juga bukan cinta, faktanya ketika ada perceraian yang diperebutkan anak, bukan berebut cinta.

Aku tidak bisa realistis. Bukan berarti Aku merendahkan wanita. Satu-satunya Agama yang paling menghormati wanita adalah Islam, jangankan ulama-ulama besar, sarjana Kristiani dunia sekelas Dr. William Campbell pun sudah setuju. Masa’ aku enggak.

Oke, sebagai contoh, biarkan sejenak saya ikut menjadi realistis dan logis penuh dengan sebab akibat, peluang dan kemungkinan lainnya. Dari segi harta, ketika wanita menikah dengan laki-laki, semua kekayaan lelaki menjadi milik wanitanya. Kapan? Langsung saat itu juga. Kalau cerai? kekayaan jadi milik siapa? Tetap milik Wanita, lha lelaki dapet apa?

Sementara wanita dinikahi karena kesuburannya. Jangankan cerai, masih menikah aja lelaki belum pasti bisa mendapatkan kesuburan itu. Kapan punya anak? Kapan hamilnya? Meskipun sudah dinyatakan subur oleh dokter ahli tapi tidak ada peluang yang pasti. Bukan aku yang bilang, banyak ahli embriologi menyatakan itu.

Itulah satu bukti kenapa Rasulullah SAW mengijinkan pernikahan dengan mahar sarung, cincin besi bahkan sandal sekalipun. Ah itu kan jaman nabi? Kira-kira kalau dibandingkan jaman sekarang dengan mahar 10 juta besar mana? Mari berfikir realistis dan logis.

Insyaallah kedepan aku tidak akan membanggakan harta untuk menikahi seorang wanita dan tidak mempermasalahkan harta, keturunan tertentu, pendidikan, dll. Aku percaya masih banyak muslim yang tidak perlu realistis memikirkan masa depan/duniawi. Banyak sekali inspiraai pejuang muslim wanita yang bisa dicontoh. Jelas itu lebih mulia daripada mencontoh tetangga atau keluargamu.

Sekarang, aku udah siap menerima sanggahan apapun dan siapapun termasuk orang tuaku sendiri. Buktikan kalau menikah itu “harus” realistis, tentunya dalam perspektif Al-Quran. Aku bersumpah hanya akan menikah karna Allah, mengikuti ajaran Nabi Muhammad dan Insyaallah siap menghadapi cercaan sosial apapun. Artikel ini aku tulis dalam keadaan sadar, sehat dan tanpa tekanan dari siapapun. Tidak juga dengan tujuan untuk memaksa hati seseorang. Apalagi membangkang kepada Ibu, orang pertama kedua ketiga yang harus kita hormati sebelum keempat barulah bapak. Sungguh mulia wanita dalam islam. Semoga semua orang mendapatkan Hidayah-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin..

Sebesar apapun pengorbanan dan pembuktian duniawi adalah sia-sia tanpa Ridha-Nya. Karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang mampu mengubah hati orang lain dan tugas ku hanya menyampaikannya.

Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita) dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?”. (QS. Al Anbiya : 109)

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. (QS. Yaasin : 17)

Hanya Allah yang memberikan taufik dan hidayah.