Makrifat Rasa dalam Kopi

Rasa kopi
Merasakan Kopi
Banyak sekali hal baik yang bisa kita ambil soal kedalaman rasa bagi pecinta kopi. 

Saya tidak sedang cupping taste secangkir kopi single origin, biarlah cupper / Q Grader yang bisa menjelaskan soal itu. Tapi saya akan bicara soal potensi diri dan kualitas diri tanpa teory, hanya sekedar menggunakan RASA.

Jika kita bisa mendalami rasa, maka kita akan menemukan surga dalam diri. Sangat dalam, bahkan ada rasa di dalam rasa yang tidak bisa dipahami dengan pendekatan ilmu tampak manapun. Karena tidak semua hal harus dengan pembuktian kasat mata, karena faktanya banyak yang kita percaya meski tidak pernah ia menampakkan diri, bahkan belum pernah kita lihat sama sekali. 

Apa kamu pernah melihat Tuhan, malaikat, Nabi nabi, hingga melihat bentuk gelombang suara, jaringan internet dan sms yang ghaib karena bisa mengirim kata dengan cepat dalam jarak yang sangat jauh? Seperti apa bentuknya? Kenapa kamu percaya? 

Jika kita bisa mengolah rasa yang tidak bisa dilihat seperti itu maka, 

Tujuanmu bekerja menjadi bukan untuk kaya seperti Kaum Sudra

Tujuanmu belajar dan berlatih bukan untuk pintar dan kuat seperti kaum ksatria

Namun menjadi Brahmana adalah tujuanmu, yang bisa sudra dan bisa ksatria pada saat saat tertentu yang memang diperlukan pada saat itu. 

Ngopi dulu
Ristreto Coffee, sweet and strong taste. Sangat kuat dan melembut dilidah

Merasakan hidup kita sendiri lebih baik daripada merasakan hidup orang lain, karena tidak ada manusia yang mampu merasakan hidup orang lain kecuali dengan perasaannya sendiri. Tidak perlu disanggah, karena kedalaman hakikat rasaku tidak ada yang bisa tahu. 

“Seperti sedekah dan hadiah, meski sama sama memberi, tapi menggunakan rasa yang berbeda”

Iklan

Filosofi Kekopian

Budaya ngopi
Kulit kopi, buah kopi dan biji kopi

Terimakasih buat temen temen setia pembaca blog ini atau pun instagram (@dickopurnomo). Sebuah kebanggan buat saya dipuji oleh kalian. Hal itu justru membuat saya perlu berdiplomasi, semakin merunduk, semakin rendah dan semakin merasa bukan siapa-siapa. Karena memang sejatinya yang memuji selalu lebih tinggi daripada yang dipuji. 

Kali ini saya membahas filosofi yang sangat dasar. Saya merasa ada hal yang perlu di “dandani”, diperbaiki atau direkonstruksi pemahamannya karena sudah salah kaprah dalam setahun ini. Meski tidak saya sebutkan secara “gamblang” (terbuka), semoga temen temen bisa menangkap apa yang saya maksud. 

Ini bukan soal buku, film ataupun kedai filosofi kopi itu. Ini filosofi kekopian (dunia kopi) yang saya pelajari beberapa tahun belakangan ini. 

Saya kira semua orang-orang panggung itu bukan Tuhan kok, bukan Malaikat kok, bukan Rosul utusan Tuhan kok. Semuanya sama kok, kita pun bisa menemukan filosofi diri kita sendiri. Justru itu akan menghasilkan sebuah filosofi yang otentik, yang original, murni, suci tanpa sekedar adopsi sana sini.

Oke? Kita buang saja kata filosofi, atau saya ganti dengan yang lebih sederhana. Saya akan mencoba memahami 1 red cherry coffee / satu buah kopi dengan Ilmu pendekatan budaya. Jika kita ingin membudayakan sesuatu, maka hal yang utama adalah rekonstruksi pemahaman, sesuai dengan urutan urutan dalam kebudayaan. Sebagaimana dipilihnya nama Bumi, ibu kota, ibu jari, ibu pertiwi. Karena pemilihan nama “ibu” tersebut adalah soal pendekatan budaya, yang bersifat feminim. 

Namanya Ilmu, maka sifatnya harus bisa berlaku untuk semua hal. Karena Ilmu adalah pola, atau sesuatu yang berpola adalah ilmu. Maka ia bukan hanya sekedar pengetahuan/informasi, ia lebih dari itu.

Dalam ilmu, ketika objek diganti, pola itu akan tetap berlaku. Pola ini bisa kita gunakan untuk pendekatan dalam dunia pendidikan, Agama, Strategi marketing, kekopian, hingga PDKT dengan cewek. 

Ya, berbagi ilmu itu gratis tanpa syarat, tanpa koma dan langsung titik. Kalau ada acara seminar, workshop atau apapun yang sejenis bersifat “berbagi ilmu” tapi wajib membayar, maka besar kemungkinan acara tersebut adalah acara bisnis. Hanya ada untung untungan. Berapa untungnya, apa keuntungannya dan untuk apa tujuannya. Makanya kita jangan “gumunan” mudah ikut ikutan ini itu. Telaah dulu, cari tau apa benar mereka berbagi, apa benar mereka sedekah? 

FILOSOFI KEKOPIAN 

  1. Kulit = Melindungi, mengayomi
  2. Buah = Menyayangi, mencintai, lembut, manis, feminimisme 
  3. Biji = Mengatur, keras, sistematis 

Urutannya itu 1 2 3, jangan kita balik balik, nanti kacau. Baru mau kenalan sama cewek kok udah ngatur ngatur (No.3 biji). Mau mengenalkan kopi kok udah ngatur ngatur harus ini harus itu. Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Ya pasti lari dong dia. Ya cuma ngopi sesekali, habis itu ya nyusu lagi, nyaset lagi 😄 

Banyak sekali aturan aturan yang diberlakukan dalam dunia kekopian yang bersifat “liberal monopoli”. 

Jujur, sebagai penikmat kopi saya takut, saya merasa di atur atur. Tidak boleh giling halus lah, tidak boleh suhu sekian lah, tidak boleh pakai ini lah, itu lah, harus pakai kopi ini lah, timbangan lah, timer lah, alat-alat khusus lah. 

Saya pun mbatin, Mereka ini berbudaya enggak ya? Kok saya heran, gak bisa dicerna dalam logika saya tentang aturan aturan itu 😕 

Kalau mau berfilosofi, mau pakai filosofi yang mana? Yunani atau jawa atau apa?

Mari sama sama kita belajar lagi, apa itu kulit kopi, apa itu buah kopi, apa itu biji kopi. Hal apa saja yang bisa kita pelajari dengan satu buah kopi ini. 

“Karena Firman Allah juga diturunkan melalui kopi”

Mereka yang harusnya meniru cara ngopimu

Kopi dan biskuit

​Teman kopi adalah biscuits, sahabat kopi adalah brownis. Brownis’e mbahmu 😕

Piye to ilat mu? Jajanan pasar 500 rupiah ini jelas jelas lebih nikmat dibanding biscuits 5000 rupiah itu. Apalagi buat temen ngopi robusta. Kenikmatannya setingkat diatas teman dan sahabat. 

Jajanan pasar
Kopi dan pukis

Jika ​teman kopi adalah biscuits

Jika sahabat kopi adalah brownis

Maka

Kekasih kopi adalah pukis

Mau apa? Jelas jelas jumlah jajanan di indonesia itu ada ratusan. Saking (terlalu) banyaknya, mustahil mereka (negara negara lain) bisa meniru kita. Mereka pengen banget meniru kamu, kok kamu malah meniru mereka. Kopi aja mereka ndak punya kok mau ngajari ngopi. Piye to iki 😕

Merasakan kopi bisa detail banget, saking detailnya saya tidak bisa membedakan yang mana peminum kopi, yang mana roaster dan yang mana Q-Grader. Tapi merasakan makanan aja gak bisa. Ahli 1 hal itu bagus, tapi jangan sampai dibodohkan dalam banyak hal lainnya.
Hmm 😕 lagi lagi memang bener. “Hidupku memang murah, cintamu saja yang membuatnya mahal”

Kok Menanam Bibit Besi

Sunda RancabaliHolland tourism in Sunda Rancabali (@bengalano
Kalau negara bukan penghasil kopi bilang “cafein tinggi itu buruk”, maka saya memilih minum kopi dengan cafein tinggi.

Kalau negara bukan penghasil tembakau bilang “nikotin tinggi itu buruk”, maka saya memilih tembakau dengan nikotin tinggi. 

Cara berbisnis negara negara bukan penghasil kopi adalah menciptakan “alat-alat kopi” modern dan terus berinovasi, karena mereka sadar diri, negaranya tidak bisa berbisnis dengan menghasilkan kopi. 

Ini bukan hanya perihal tembakau dan kopi saja, semua hasil bumi juga seperti itu. 

“Namanya juga bisnis”

“Semakin bisnis itu maju, semakin banyak hutangnya”

“Pemodal lebih besar selalu menguasai bisnis”

“Penguasa bisnis tertinggi selalu pencipta bisnis itu sendiri”

Puisi petani
“Pertanian adalah soal maju mundurnya suatu bangsa” – Soekarno

Sekarang negara japan menjadi negara maju penghutang terbesar di dunia. Lha kalau semua negara negara hutang, pertanyaannya “Hutang pada siapa?” Ya dengan panitia belakang panggung yang ternyata orangnya hanya itu itu saja.
Jadi tak perlu heran dengan kemajuan teknologi negara negara itu, nyatanya dari dulu bisnisnya tidak ada yang benar benar berubah kan?

Kok malah kita mau adopsi cara cara bisnis negara japan, Yunani, Italia, china, Amerika itu. 

“Kok malah menanam bibit besi”

“Kok malah memupuk dengan batu bata”

“Kok malah menutup siraman dengan genteng”

“Kok malah menganti sawah menjadi rumah mewah”

Menyambung Hidup dengan Kopi Espresso 5000 rupiah

Kopi espresso
Esspresso from yummy coffee indomaret

Nyambung Urip Limaribu begitu saya menyebutnya. Alias menyambung hidup dengan limaribu rupiah. 
Adalah espresso dari yummy coffee di indomaret. Ini salah satu kopi favorite saya. Terutama kalau listrik dirumah mati atau gas elpiji habis atau stok kopi habis.

Bukan saya marketing perusahaan ini. Memang secara teknis kopi ini terlalu jauh untuk kita sebut espresso, Tapi ada baiknya temen temen pemilik cafe dan kedai belajar mengenal kopi seharga Rp5000 sekali pencet ini sebelum menjual kopi 20.000-30.000 /cup kepada pelanggan. Karena yang mahal adalah baristanya, brewernya, tempatnya, fasilitasnya, pelayanannya, komunikasinya, obrolannya, persaudaraannya. Kalau Kopi tidak pernah mahal. Catet! 

“Kopi tidak pernah mahal” 

Barulah kemudian mahal murah ini menjadi relatif untuk kepentingan bisnis, karena manusianya memang hidup dengan pemahaman yang relatif.

Kemungkinan kopi ini menggunakan kopi blend robusta 8 : 2 arabika dengan roastbean yang juga fresh. Murah meriah untuk menyambung hidup saya. Ya sebenarnya 

“hidupku sangat murah, tapi cintamu yang selalu membuatnya menjadi mahal”

#kopi #kopiindomaret #kopiindonesia #ngopisiang 

Saya Tidak Terlalu Cinta Kopi


​Ilmu gaib (tak tampak) tidak mengenal, siapa penulisnya? Apa gelarnya? Apa jabatannya? Apa karyanya? Karena setiap nafas bahkan setiap sel makhluk selalu ada campur tangan Sang Pencipta, Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widhi, Tuhan, Allah, Bapa atau nama apapun itu selama nama yang Agung temuan manusia.  

Terkadang, saya ngomong juga baru tau setelah saya omongkan. Saya nulis juga baru tau setelah saya tuliskan. Saya main gitar juga baru tau setelah saya main gitar. Saya nyeduh kopi juga baru tau setelah saya nyeduh kopi.

Karena semua ini adalah perihal budaya, terjadi improvisasi dan mengalir begitu saja. Tidak ada standarisasi seperti halnya dalam bisnis dan management, tidak ada teori teori maupun fakta ilmiah yang saya dekap terlalu lama. 

Saya berani mengorbankan biji kopi untuk mendapatkan segelas kopi. 

Saya berani mengorbankan segelas kopi untuk mendapatkan manfaat dalam tenaga, hati dan pikiran.

Saya berani mengorbankan tenaga, hati dan pikiran untuk mendapatkan rizki

Saya berani mengorbankan rizki untuk mendapatkan kebenaran

Saya berani mengorbankan kebenaran untuk mendapatkan kebaikan

Saya berani mengorbankan kebaikan untuk mendapatkan kepuasan

Saya berani mengorbankan kepuasan untuk mendapatkan kemuliaan

Saya berani mengorbankan pemahaman lama untuk mendapat pemahaman baru. 

Itulah ilmu rasa dalam bahasa, musik blues, jazz hingga kopi sejauh yang saya rasakan selama ini. 

Saya benar benar tidak terlalu cinta semuanya. Tidak terlalu cinta musik, tidak terlalu cinta kopi dan tidak tidak terlalu lainnya. Karena untuk perihal cinta pun saya juga baru tau setelah saya mencinta. 

Kopi Kontinuasi dan Kopi Adopsi


KEKOPIAN. Aku memandang dalam bingung. Menoleh ke pohon pohon kopi pagi itu. Ditemani segelas kopi hitam aku bertanya kepada Tuhan, 

“Ya Tuhan, Kenapa mereka bilang support petani kopi indonesia jika yang mereka sebarkan adalah gaya hidup kemewahan kota?” 

“Ya Tuhan, Kenapa penikmat kopi seperti kami mereka sebut target market. Apa kami hanya target bagi mereka-mereka untuk terus mengeruk uang kami” 

“Ya Tuhan, Kenapa domino effect bisa sampai ke negeriku yang sudah kaya ini” 

Di lain hari seorang petani juga bingung dan bertanya kepadaku, 

“Mas, bagaimana cara membuat kopi yg ada gambarnya itu” 

Aku pun tak bisa menjawabnya, karna untuk grinder kopi saja ia tak punya 😥 

Berdasarkan riset iseng sederhana yang dilakukan @hendry__art di dunia maya, ternyata lebih dari 90% postingan akun pribadi, kedai, cafe dan media kopi terus mengunggah kemewahan. Mereka berkompetisi dagang dan popularitas. Entah seberapa tinggi nilai advetorial yang mereka komunikasikan dari belakang panggung. Kami yakin itu tidak lah cuma-cuma. Sementara kurang dari 10% saja kopi hitam mereka angkat. 

Bukan aku anti gaya hidup kota, anti modern dan tidak support petani. Tapi mbok ya nggak perlu munafik. Lantang memuliakan petani tapi tak sebanding dengan apa yang kita lakukan untuk mereka. Lha beli bean saja masih nawar-nawar kok bilang support. Kalau support ya ajari mereka mandiri, sampai bisa memasarkan produknya sendiri, sampai keluarga keluarganya bisa membuka kedai kedai sendiri. Ilmu kok diperjual belikan, ilmu itu ya dibagi. 

Takut miskin kan? Ya betul, karena kita memang tidak seberani seperti para petani. Mereka tak takut miskin, tak takut makan apa, kita yang takut makan apa. Kok malah kita yang “ngajari” bertahan hidup kepada petani. 

Dilain sudut, aku faham betul orang-orang kekopian. Aku kenal baik beberapa dari mereka. Mulai dari tukang ngopi sepertiku, petani, barista, roaster ternama hingga pejabat pejabat pemerintahan. Mereka begitu mencintai kopi, dan bercita-cita sama, agar kopi ini bisa dinikmati semua kalangan. 

Tapi selalu saja ada hal-hal yang membuat kami terkotak-kotak. Memang betul syair prabu Joyoboyo, “Wong tani ditali-tali”. Gak bisa bergerak, nggak bisa bertindak. Meski semua orang memuliakan petani, tapi tindakan-tindakan kita tak pernah benar-benar sejalan dengan petani. 

Jika petani menganut paham kontinuasi, kita menganut paham adopsi. Jika petani belajar banyak dengan tradisi, dengan budaya, dengan sesepuh-sesepuhnya. Kita justru merusak tradisi mereka dengan pengetahuan modern kemarin sore yang kita miliki. Memang, Isu kesehatan selalu menjadi strategi jitu setelah isu agama. 

Kalau kata senior saya, Amron, jangan sampai kita menganut agama diam. Yaitu manusia dengan nilai-nilai cuek, acuh tak acuh dengan hal-hal yang sederhana disekekilingnya. Tak penting untuk dirinya sendiri. 

Mungkin mereka lupa kalau manusia itu punya 3 peran di dunia. Yaitu manusia sebagai makhluk hidup, manusia sebagai kekasih Tuhan dan manusia sebagai khilafah atas dirinya sendiri. Persis seperti filosofi kopi yang terdiri dari kulit, buah dan biji kopi. 

Ingin aku pergi dari keramaian ini, tapi aku masih butuh kopi dalam hari hariku. 

Aku memilih berhenti saja dulu jualan kopi dan menjadi penikmat saja. Aku tidak takut pelangganku hilang, karena aku tak punya “target market”. Aku tak faham apa itu kesuksesan. Bingung, harus mulai dari mana aku. Petani, proses lepas panen, roaster, barista atau pemilik kedai saja? 

Kemana kesedihanku ini akan mengalir? Apakah benar liberalisme dunia juga ada dalam dunia kekopian kita? 

Melalui dunia kekopian, Kami sudah terbiasa berbeda, jadi dunia kami sangat menyenangkan. Berbeda itu sehat. 

Tapi aku sadar, kesedihan memang sesekali perlu datang. Agar aku kuat mengolah kesedihan ini. 


Teman-temanku pasti akan bilang, “jangan sedih mas, ngopi saja dulu”. 

Dan aku juga bilang, jangan percaya dengan omonganku. Jangan membenarkan dan menyalahkan dengan tidak merangkulku. Karena aku cuma tutur-tutur saja, bisa berubah pikiran kapan saja semau hati dan pikiranku. 


Photo by: Camera Indonesia @anak_dusun_ 

#kopi #kopiindonesia #budayangopi #budayakopi #barista #coffee #ngopi #kopinusantara #kopiindonesiakeren

​PUISI: KOPI DARI DINAS PERTANIAN TUHAN 

Kopi Juria from Colol

Wahai saudara saudara kekopian. Terus tanamlah kopi ini. Rawat ia layaknya kau merawat darah dagingmu sendiri. 

Tugasmu hanya merawat, tak bisa menumbuhkan, tak bisa membuahkan. 

Tugasmu adalah memupuk potensi potensi anakmu, bukan mendidiknya, bukan pula merobotkannya. 

Biarkan ia otentik menjadi dirinya sendiri sesuai kehendak siapa yang menumbuhkannya. Siapa yang menghentikan pertumbuhan kemaluannya, rambutnya, kukunya dan semuanya. 

Wahai saudara saudara kekopian. Berdagang lah dengan bermartabat, dengan berdaulat. 

Jual lah kopi apa adanya saja. Tak perlu terburu-buru menawarkan kesana kesini. Jangan tergesa menjadi materialisme. Hasil bukan lah segalanya. Sukses punya arti yg terlalu luas. Namun Berbagi akan menumbuhan cinta yang mulia. 

Jangan khawatir kopimu tak laku, kopi akan terus dibutuhkan hingga akhir zaman. 

Hingga para staf dinas pertanian Tuhan berhenti menumbuhkannya. .

Okt 2016

Dicko Purnomo

Pemahaman Budaya Kopi Bertitik Pusat

Aku punya temen yg sangat perfecsionis soal kopi, sampai sampai ia “mentuhankan arabica” dan “mengibliskan robusta” dengan akalnya. Cara berfikirnya seperti seniman top dengan keotentikannya. Tapi bukan ke arah “kopi matematikawan” seperti seperti orang orang yg mengaku ahli itu. Pokoknya sering gak sampe akal ku menerima cara berfikirnya itu. Logikanya gak masuk akal. Lha gimana, 

“robusta yg dikasih sedikit jeruk nipis = arabica bercitrus tinggi”.

Pinter opo Gendheng ki bocah 😵

Cukup layak disebut cendekiawan, lha gimana? semua tukang seduh, semua kedai kopi berani ia cacat habis dari kualitas kopi, seduhan kopi, penyajian, marketing sampai konsep konsepnya, seperti seorang pengamat yg derajatnya selalu lebih tinggi dibanding para pelakunya. Ia meniru, eksperimen, improve, bahkan ia berani berfikir terbang, melambung, absurd, berfatamorgana hingga mencapai puncak romantisme romantisme rasa. Duh edan edan edan 😦

Tapi kesalahannya adalah satu, yaitu berani sekali kau mengadu hal ini kepadaku .. hahaha 😄 

Kan sudah ku bilang, “Kemana pun, sejauh apapun kau pergi, kau akan kembali ke titik pusat”. Tergantung pemahamanmu berapa lama nanti. Ketika pola pola pemahaman akal, hati dan hasratmu mulai terbentuk, mulai membijak, mulai saat itu lah energimu akan mencari akar dan mencenderungkan diri ke “titik pusat”. 

Pemimpin, pekerja, pelukis, pemusik, bahkan pengopi pun akan seperti seperti itu. Contoh aja yg gampang, figur figur top seperti Soekarno, Suharto, KoesPlus, Iwan Fals, Umbu, Rendra, Caknun dsb. Apakah mereka kembali ke titik pusat dalam ujung pencariannya? 

Dunia kekopian juga seperti itu. Lha gimana, masak gara gara kamu kenal cewek lain, cewekmu sendiri kau tinggalkan. Malah milih lstri orang yg lebih subur. 😕 Kalau kamu ketemu orang orang seperti ini, udah lah jangan diganggu. Biarkan saja sebiar biarmu, yg penting masih berhubungan baik bersaudara. 

Jika mereka sekarang meninggalkan robusta, cuma doyan arabika, tapi secara otomatis mereka akan menghargai petani. Tidak mungkin tidak. Bagus kan? Tapi tunggu dulu, nanti mereka akan jenuh dengan sendirinya, lalu kembali doyan robusta, lalu kembali juga doyan kopi sachet, doyan kopi cap “kapal keruk” (meskipun kadang kadang saja karena sikon lah) 😄, lalu mereka akan menuju ke titik spiritual, yg saya menyebutnya “God Spot” atau titik ketuhanan (Bukan Tuhan, tapi sifat Tuhan dengan imbuhan ke-an). Sebuah titik tengah dalam dimensi lingkaran dengan arahnya tak terhingga, sifatnya banyak, sifatnya beragam dan bisa berubah ubah. Gak perlu percaya, saya ini cuma tutur tutur saja disini. Anggaplah ini obrolan hangat biasa di sebuah warung kopi kecil. 

Lalu saya bertanya kepada temenku ini, 

“Modern coffee itu salah satu produk budaya kopi atau budaya kopi yg lebih luas?”

“Hasrat pencarian dan pengetahuanmu itu apakah bener bener bisa memuaskan ‘Rasa kebudayaan’?”

“Atau malah tidak sama sekali?”

Ya tidak perlu dijawab juga, karena setiap manusia memiliki alam rasa dan kesadaran naluriah terhadap `titik pusat’ sendiri sendiri. 

Ini bukan kemunduran, bukan konservatisme, bukan pembelaan orang pribumi. Saya tidak berani mengarahkan apapun, tidak berani menyuruh, apalagi menyalahkan. Tidak, aku bener bener tidak berani. Maksudku, agar kita sama sama belajar tentang budaya yang “Semakin berisi, semakin merunduk”. Kalau versi jawa timur, jok kemaki kon.. haha 😄 

Semua kopi itu baik kok teman teman, gak ada yg salah. Kopi pecah pun juga tak minum kok dirumah. Tapi bisa menjadi gak baik kalau kopi pecah dikelola oleh orang orang yg tidak benar. Apalagi kopi kualitas bagus. Karena benar belum tentu baik, tapi kalo baik pasti benar. Syukur syukur mulia, ya baik ya benar 😁 

Akhirnya temen saya ini kembali lagi doyan kopi hitam jenis apapun tanpa gula, setelah saya bilang bahwa “bitter atau pahit pada kopi arabika mustahil bisa lebih nikmat dari pait kopi robusta”. Modyar.. mumet mumet sisan. Haha 😄 

Salam kekopian 😁

Cerpen #MyCupsOfStory: Si Hitam Layar Kaca

mycupofstory-poster-759x500
nulisbuku.com

Bener Meriah.

Aku hidup sebatang kara dan tinggal jauh dari keramaian kota. Bersyukur Aku masih punya sehektar tanah dan rumah kayu sederhana ini.

Sudah 40 hari ini Aku lebih sering main ke rumah tetangga untuk sekedar bersosialisasi atau menonton acara televisi daripada di rumah. Jujur, Aku takut kesepian. Rasanya kemarin siang aku memeluk istriku di dapur yang lagi masak Sayur Lodeh Labu Siam kesukaanku. Tengku adalah panggilan sayang untuk suami.

“Iya sabar tengku, bentar lagi juga matang” katanya saat mulai kugoda. Kurengkuh ia dari belakang dan kugigit-gigit rambutnya ikal panjang dengan bibirku, aku pikir itu mie.

Aku kangen kebersamaan 30 tahun dengannya. Ia yang selalu sabar dan rajin mengerjakan pekerjaan rumah.

Lalu Ku temani anak angkatku sampai ia terlelap. Usia 7 tahun adalah masa-masa menyenangkan. Andai takdir Tuhan berkehendak lain, pasti bisa ku ulangi lagi hari-hari seperti itu.

Aku angkat tabunganku yang terbuat dari bambu itu, semakin ringan saja. Padahal hanya untuk mengisi perutku 2x setiap hari. Aku pikir benar kata Fadhilah, tetanggaku.

“Bang, usia Bang Ali sudah 60 tahun kan? Mana ada orang mau pakai tenaga abang?”

Ya betul juga.Tulangku yang tadinya “tulang besi” kini sudah menjadi kayu. Ototku melemah. Baru angkat kayu sebentar sudah letih sekali rasanya. Pun pikiranku, sering kali Aku lupa menaruh barangku sendiri. Sementara tenaga tukang kayu yang masih muda banyak sekali di desa ini.

Tapi aku bersyukur punya tetangga yang baik seperti Fadhilah. Atas bantuan mereka, akhirnya sekarang Aku sudah bisa mandiri. Mulailah ku tanam beberapa rempah-rempah, sayuran, buah-buahan dan bebebapa pohon kopi di belakang rumah secara tumpang sari. Ya meski tak banyak jumlahnya, tak ada sisa untuk dijual, setidaknya setiap hari Aku bisa masak sendiri tanpa mengeluarkan uang, tanpa merusuhi tetanggaku. Terpenting hari ini bisa cukup makan dan ngopi. Sudah, itu aja. Aku sudah bersyukur.

Malam-malam ku begitu gelap. Tak ada lampu, tak ada aliran listrik, karena sudah dicabut oleh PLN karena 2 bulan tidak membayar. Tak apa, Aku mulai terbiasa dengan gelap. Mataku lebih peka menangkap warna dan bentuk dalam kegelapan.
Bersyukur air sumurku di belakang rumah melimpah ruah. Tak akan habis meski digunakan oleh satu desa sekalipun.

***

Takengon. 13 km dari Bener Meriah.

Jam 5 pagi, sebuah kedai kopi kecil yang berada disamping Masjid itu telah dibuka. Usai melaksanakan ibadah Sholat subuh, biasanya warga sekitar ngopi pagi di kedai dan sarapan, sebelum memulai aktivitas.

Namanya Bang Aoda, 30 tahun. Ia pemilik “Kedai Kupie”, satu-satunya kedai di Takengon yang hanya menyajikan “air hitam” dan “air putih” dalam daftar menu minumannya.

“Ada kopi apa hari ini bang Aoda?” Tanya seorang pelanggan yang memakai peci itu.

“Ini ada beberapa Kopi Arabica dari Takengon, Gayo Lues, Lintong, Bluebatak Samosir, Kerinci, Java Sunda, Wonosobo, Ijen, Bali Sepang, Kintamani, dan Toraja Sapan”

“Roasting kapan nih bang Aoda?”

“Sebagian Minggu lalu roastingnya, ndak ada kopi yang terlalu lama disini. Alhamdulillah, biasanya seminggu sudah habis” Menurut Aoda, aroma dan rasa biji kopi akan maksimal di hari ke 7-10 setelah proses roasting. Istilahnya ‘resting time’, atau masa istirahat biji kopi usai tahap roasting, guna mengeluarkan unsur gas karbon dan merubah beberapa unsure lain yang terkandung dalam biji kopi sangrai (roastbean).

“Ku cium aromanya enak semua nih bang. Wah wah, emang jago roasting bang Aoda ini” Pria asli Tanah Rencong ini tersenyum lebar dan mengacungkan dua jempol tangannya.

***

Paris

Sudah 10 tahun lamanya Aoda menekuni dunia “hitam” ini. Tepatnya berfokus pada proses roasting. Bukan main-main perihal memaksimalkan biji kopi. Skill roasting Aoda begitu mumpuni. Ia pernah dinobatkan sebagai The Best Specialty Roaster of The Year di Paris, menggunakan mesin roasting buatan John, kawannya di Jakarta.

Keberhasilan Aoda tidak ajaib begitu saja. Setiap hari ia melatih indra penciumannya agar lebih peka. Mengenali satu jenis biji kopi satu persatu untuk menemukan dan menentukan pola roasting. Karna baginya, roasting bukan sekedar memanggang biji seperti kacang tanah. Temperatur, putaran drum, aliran udara lubang untuk melihat sample itu sangat penting. Maka dari itu dibutuhkan mesin roasting berteknologi modern yang mendukung. Ia pun memilih berhenti merokok tembakau dan menghindari masakan pedas.

Kompetisi roasters di Paris itu merupakan pengalaman Aoda pertama kalinya. Selain mendapat sertifikat, dan uang senilai 7000 US Dollar, ia juga direkrut oleh sebuah perusahaan mesin roasting ternama di Paris. Namun para Juri kebingungan, ia sebagai pemenang malah justru menolak tawaran tersebut.

“Thanks, I just want to know my roast skill”

***

Bener Meriah.

Dataran tinggi Gayo memang salah satu penghasil kopi terbaik dan jumlahnya pun tak sedikit. Di desaku saja 90% warga menamam kopi jenis Arabica. Aku salah satunya. Dengan menanam kopi, maka kebutuhan keluarga akan lebih kecukupan, karna kopi ini di ekspor ke Amerika dengan harga yang lebih tinggi. Biasanya, setelah Aku dan para petani lain memetik buah kopi merah, langsung Kita setorkan ke koperasi untuk di proses lepas panen selama dua hingga empat minggu. Barulah mereka (koperasi) mengekspor ke Amerika dan Eropa.

Sebagai petani aku percaya dengan koperasi. Soal budidaya kopi, aku juga cukup berpengalaman. Namun ada satu hal yang membekas, saat tragedi itu menimpaku. Kebun kopi mulikku ini terserang hama penyakit yang mengerikan. Menggerogoti satu pohon lalu menyebar ke pohon lainnya. Aku ingat betul penjelasan dari peneliti dari Jawa itu.

“Begini Bang Ali, Setelah Kita ambil sample dan Kita teliti, ternyata varietas pohon kopi milik bapak ini tidak cocok jika ditanam disini. Meski kualitasnya lebih baik dari varietas lainnya, tapi jenis ini mudah terserang hama”

“Terus bagaimana pak? Apa tidak bisa diobati?”

“Sebaiknya Bang Ali segera memangkas seluruh pohon kopi ini dan membakarnya, sebelum wabah melebar ke kebun sekitar”

Setelah ku pikir-pikir semalaman, keesokan harinya Aku dibantu Pak Kades dan beberapa tetanggaku membasmi wabah ini. Tok tok tok, satu per-satu batang pohon dipangkas, tanpa menyisakan akar di dalam tanah.

“Sabar ya bang Ali. Percaya, rejeki tidak akan kemana-mana dan bahagia bukan dari uang” kata Fadhilah saat api itu mulai menjulang tinggi. Trek trek trek, api itu melahap habis dan hanya menyisakan hitam. Bagaimana aku mencari uang tanpa pohon kopi.

Aku melamun. Sudah, sudah, Aku tak mau berlarut larut dalam tragedi itu. Lebih baik cepat ku petik buah kopi yang sudah merah ini. Lumayan meski cuma dapat sekaleng kecil setiap minggu.

Aku kembali dari kebun dan duduk di teras rumahku. Ku letakkan kaleng berisi buah kopi yang kupetik hari ini.

“Cantik ya Bang, warnanya merah segar dan hmm.. manis juga ternyata” kata Fadhilah mengambil kopi dan menggigitnya.

Kutatap lembut Fadhilah. Lalu dengan nada serius kukatakan,

“Iya manis sekali, persis seperti wajahmu Fadhilah”

“Ah, macam mana abang ini. Masak Aku disamakan dengan kopi. Wajahku sudah mulai keriput bang” Fadhilah tersipu malu. Ia sesekali mengusap matanya.

“Bentar bang, Aku lagi masak air” Wanita paruh baya ini buru-buru pamit pulang kerumah.

Aku amati ia yang berjalan cepat sampai masuk pintu rumahnya.Batinku, jangan-jangan Fadhilah jatuh cinta kepadaku? Akhir-akhir ini ia begitu perhatian. Beberapa kali aku dikasih masakannya. Sudah 5 tahun ia menjadi janda, tapi bersyukur anak tunggalnya mampu menghidupinya.

Tak lama kemudian Fadhilah kembali dari rumahnya. Kali ini ia bertanya serius, ia mengamatiku setiap hari yang mengumpulkan sedikit demi sedikit biji kopi.

“Ya gimana lagi Fad. Ini kopi jumlahnya tak seberapa, cuma sekaleng buah kopi dalam seminggu. Tak cukup sebulan untuk mengumpulkan sekilo biji kopi kering. Apalagi setiap hari kopi juga aku minum. Mau tak mau Aku harus belajar pengolahan sendiri kan?”

*7 kg buah kopi merah (red cherry) dapat menghasilkan kopi beras (greenbean) 1 kg setelah melalui proses pengolahan lepas panen.

Buah kopi ini Aku kupas kulit luarnya secara manual dengan kayu, lalu gabah ku diamkan seharian. Barulah Aku cuci lalu jemur di depan rumah setiap hari hingga kandungan airnya cukup.

“Sekarang sudah ada berapa kg bang?”

“Entah Fad. Aku simpan satu kaleng penuh, ya mungkin sekitar 2 kg Fad. Itu tabunganku yang ku kumpulkan setahun ini”

*Kopi beras berwarna kehijauan dengan kadar air kisaran 13% dan dapat bertahan selama bertahun-tahun dengan penyimpanan yang baik.

Ku bilang pada Fad kalau besuk mau aku jual kopi ini ke kota, Redelong.

“Sudah ada kawan yang mau beli kopi abang ini?

“Tak ada kawan yang mau beli kopi cuma sekilo Fad. Mau buat apa? Mereka sudah punya banyak kopi dari Gayo”

“Terus mau di jual kemana bang?”

“Kemarin aku lihat acara di televisi, sekarang ada banyak kedai-kedai kopi kota. Nah, kalau aku tawarkan kesana pasti mau beli kopi ku ini. Iya kan Fad?”
Bola matanya ke atas dan dahinya mengerut. Fadhilah berfikir.

“Betul juga bang. Kedai kopi pasti butuh kopi”

“Ya iya lah Fad, namanya juga kedai kopi, butuhnya kopi, bukan jagung” Haha, Fadhilah tertawa menepuk lenganku.

***

Hari ini aku akan pergi ke kota. Sepertinya cuaca mendukung. Setelah sarapan dan ngopi tubruk, aku pun lekas berangkat, mendahului sang surya yang belum bangun. Kubawa bekal kopi beras (sebutan untuk greenbean) sekaleng, sebungkus nasi sayur dan sebotol air putih. Aku juga bawa sarung sebagai jaketku.

Sudah 6 bulan aku tak menyentuh uang. Pun hari ini, seribu juga tak punya. Tapi Aku tak mau menyusahkan tetanggaku, lebih baik aku berjalan kaki saja. Sepertinya kaki ku masih kuat untuk turun dan naik kembali ke bukit ini. Dengan penuh percaya diri, aku pun mulai melangkah. Sepertinya dingin pagi kalah dengan darahku yang mulai menghangat. Sarung aku copot, lalu kugunakan sebagai tas cangklong , membungkus kopi ini.

Jalan tanah bebatuan ini aku turuni dengan santai. Beberapa kali aku istirahat, duduk mengambil nafas dan meluruskan kakiku yang mulai kaku berotot. 5 jam kemudian Aku sampai di Kota, Redelong. Tepat berdiri di simpang tiga Redelong aku melihat sebuah kedai kopi. Aku pun menghampiri.

“Tok tok tok, permisi nak. Apa disini ada mesin kopi?”

“Tidak ada pak. Disini cuma pakai kopi sachet, langsung seduh”

“Oh ya sudah nak, terimakasih”

Aku berjalan lagi menyusuri jalan aspal ini. Masuk ke kedai selanjutnya.

“Ada mesin kopi nak?”

“Tak ada”

“Tak ada”

“Tak ada”

Aku duduk di samping toko yang tutup ini. Entah toko apa ini? Sepertinya toko handphone. Aku pun makan siang sebentar lalu berjalan lagi mendatangi kedai kedai lainnya. Ternyata sang surya sudah diatas kepalaku. Aku pun Sholat Dhuhur di Masjid itu.
Di teras Masjid, usai Sholat, seorang jamaah Masjid bertanya kepadaku.

“Mau kemana bapak?”

“Mau ke kedai kopi nak”

“Itu kan kedai kopi pak”

“Kopi nya enak. Bener, coba saja pak. Saya mau kerja lagi pak” kata seorang pria berpakaian rapi itu. Kami bersalaman, lalu ia pergi menggunakan sepeda motornya dan aku masuk ke kedai tersebut.

“Assalamualaikum nak”

“Walaikumsalam”

“Ada mesin kopi nak?”

“Mesin kopi? Mesin roasting maksud bapak?”

“Hmm… “

“Ini mesin roasting yang saya punya pak”

“Bukan nak,bukan, kalau itu mesin buat sangrai kopi beras kan?”

“Iya betul bapak”

“Bukan itu nak. Maksudnya mesin kopi untuk buat kopi yang langsung jadi. Kopinya hitam pekat, keluar busanya coklat kekuningan itu”

“Oh.. Mesin Espresso maksud bapak? Iya, iya ada. Mau minum espresso? Silahkan duduk pak saya buatkan sebentar”

Tak lama kemudian secangkir espresso sudah jadi. Berisi 30 ml dengan crema yang halus.

“Seperti ini toh rasanya. Benar-benar nikmat sekali nak. Rasanya ningrat dan bangsawan. Ini kopi paling nikmat yang pernah Aku minum. Pantas kopi ini sampai masuk tv”

Setelah srutupan pertama.

“Nak, bolehkah aku bayar dengan kopiku ini? Ini hasil dari kebun sendiri”

“Coba saya lihat pak. Berapa pak harganya?”

“Tidak aku jual nak. Kopi beras ini untuk membayar secangkir kopi yang nikmat ini”

“Begini saja pak. Greenbean (kopi beras) Arabica ini saya beli 150 ribu. Nah, bapak tinggal bayar secangkir espresso yang harganya 30 ribu. Jadi bapak dapat uang 120 ribu”

“Tidak perlu nak”

“Kenapa begitu pak”

“Nak, Aku sudah terbiasa hidup tanpa uang”

***

Dan beliau pun mulai cerita tentang kesehariannya itu sampai bagaimana ia sampai datang kesini. Seperti itulah cerita tentang kopi dari Bener Meriah yang kalian minum ini, yang saya dapat dari orang tua bernama Tengku Ali Imron. Kepada para pelanggan Saya menceritakannya sembari meracik “Si Hitam Layar Kaca”, Espresso Single Origin from Bener Meriah, Aceh Gayo.

Kuceritakan kembali.

“Menjelang sore itu, saat secangkir espresso nya habis, Beliau Saya bungkuskan Nasi Ayam dan sebotol air mineral untuk perjalanannya pulang ke rumah”

Tiga bulan kemudian Saya pergi ke Bener Meriah, menghadiri pernikahan Ali Imron dengan Fadhilah. Sejak saat itu mereka membangun rumah tangga dengan bahagia dan sederhana. Ali masih seperti sebelumnya, berkebun untuk memetik bahan baku masakan dan Fadhilah mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Lima Tahun kemudian Saya pun masih berhubungan baik dengan beliau. Malah kami menjadi semakin akrab karena sering bertemu. Saya tak punya kepentingan bisnis dan sepasang suami istri ini juga masih kekeh pada pendiriannya, tak mau menerima uang.

Setiap hari minggu Saya datang kerumah Tengku, mengambil greenbean hasil dari kebunnya itu. Masih sama seperti pertama kali Kita bertemu, Kopi dari kebunnya itu hanya mau dibayar dengan secangkir espresso yang saya buatkan dengan Handpresso ini. Hasil Kopi dari kebun beliau itu saya lelang di Eropa, meski jumlahnya tidak banyak, tapi harga jualnya mencapai 76 US Dollar /kg, atau setara dengan satu juta rupiah. 70% dari hasil penjualan tersebut saya sumbangkan ke panti asuhan, sesuai amanat dari beliau.

***

MyCupOfStory - Si Hitam Layar Kaca - Dicko Purnomo
Ali Imron (55), Takengon. Saat sedang menikmati secangkir espresso di Sintep Kupie

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com


*Ide cerita terinspirasi dari kisah nyata bapak Ali Imron, dan Aoda Saifuddin di Takengon, Aceh. Kemudian saya kembangkan menjadi cerita pendek bergenre fiksi. Semoga pembaca dapat memetik banyak hikmah dari cerita ini.

Silahkan share jika bermanfaat, salam ngopi 🙂

Magelang, 21 Agustus 2016
FB: Dicko Purnomo