Kopi Just Black untuk Perubahan Indonesia

Ritual ngopi sore ini cukup berat bahasannya. Banyak banget yang ingin aku tuliskan. Entah, bingung rasanya, harus kumulai darimana ini? 😯 Hmm 😕 .. ya baiknya emang dimulai dari secangkir kopi. Oh iya ya 😄

image
Percipio dan Dokumentasi

Sebelumnya, aku mau berterimakasih kepada temen-temen yang setia menunggu tulisan terbaru blog yang baru saya rintis ini. Beberapa temen bilang, “Tulisan kamu bagus, ayo nulis lagi donk, kapan nih update artikelnya, aku tunggu lho postingan barunya, dsb”. Jujur, kalian adalah pondasi semangatku untuk menulis. Andai kalian tau, sebenernya aku malu karna blog ini hanyalah berisi curhatan spontan usai “ritual ngopi” dan lebih sering “baper”. Sesekali emang ada retorika yang tertuang begitu saja tanpa pikir panjang, apalagi research, enggak. Tapi saya bangga jika curhatan saja bisa bermanfaat untuk orang lain (pembaca), apalagi kalau serius.

Ngopi dulu, dari beberapa koleksi kopi dirumah,  kali ini kupilih kopi pemberian dari Erna Dewi (Radja Koffie, Bali). Aku memanggilnya Mamih Nena 😁 Hallo mih? How are you? 😁 Kopi ini berasal dari Desa Adat Sepang, Bali. Ya, Sepang itu ada di Pulau Dewata Bali, bukan Sirkuit di Malaysia 😕 Baru tau kan kalau Kopi Bali itu nggak cuma di Kawasan Kintamani? 😦 Ya sama, aku juga belum lama tau kalau ternyata banyak daerah daerah penghasil kopi Arabika di Bali.

Kopi ini ku sajikan secara modern coffee, dengan bantuan “alat tempur” jenis pour over V60 metal filter buatan Hario Japan. Jujur, hasilnya nikmat banget. Kompleksitas rasanya dapet banget. Pahit, asam, manis (bukan tambahan gula) menyatu menghasilkan harmonisasi rasa yang begitu indah. Alunan musik instrumental saxophone Mindi Abair semakin menambah keindahan moment gerimis di sore ini.

DENGAN KOPI “JUST BLACK”, PERUBAHAN BESAR BISA TERJADI

Dunia kopi menyadarkanku kalau ternyata banyak sekali manfaat sosial yang diperoleh dari secangkir kopi. Tak salah jika ku sebut kopi adalah minuman terbaik di dunia setelah air putih/mineral dan tanah air Kita begitu kaya akan kopi.

Menurutku, Indonesia akan menjadi “Raja Kopi” ketika seluruh kalangan masyarakatnya mengkonsumsi kopi hitam murni / “just black”: organik, merah matang, tanpa gula, tanpa susu dan tanpa tambahan unsur lain kecuali air. Karena dengan just black manfaat bagi tubuh akan didapat maksimal: badan produktif, otak pun bekerja dengan optimal.

Berbanding terbalik dengan minuman beralkohol yang merupakan minuman sesat. Karena miras adalah minuman dari penjajah terselubung ciptaan Manusia penyembah Iblis di balik layar. Dan mirisnya, banyak sekali dari kalangan Kita mulai dari buruh, sopir, pelajar, mahasiswa, pengusaha, polisi, tentara hingga pejabat negara pun ternoda dengan alkohol. Mereka terjerat nikmat, namun ternyata dibodohkan tanpa sadar.

Disisi lain, perkembangan teknologi tentu sangat baik. Temuan baru tidak layak Kita salahkan, karna telah terbukti nyata sangat bermanfaat bagi khalayak untuk mempermudah sesuatu pekerjaan.

Tidak terlepas dari masalah itu, belakangan ini aku sangat bangga dengan semua pelaku kopi mulai dari hulu (kebun) hingga hilir (cangkir) yang setia mengedukasi kopi dengan tujuan yang sama, yaitu “Budaya Ngopi yang lebih baik”. Semua pihak berkesinambungan, terhubung erat menjadi satu kesatuan karena kopi.

Meski beberapa kedai menggunakan varian lain seperti cappucinno, coffee latte, dkk untuk menunjang sisi ekonomi/pendapatan. Bagiku sah sah saja, itu ide yang smart. Karna mungkin kalau aku punya kedai juga toh akan menggunakan cara yang sama. Namun terpenting adalah kualitas kopi, karna perihal rasa hasil tak bisa dibohongi, tak bisa direkayasa.

Dirumah, dalam hal kecil sederhana coba aku terapkan. Beberapa hari ini kedatangan tamu yang ingin membuka kedai atau warung kopi. Ada yang baru penasaran, ada yang peka melihat peluang bisnis dan ada juga yang bener bener “maniak kopi”. Selalu kukatakan, kalau bicara kopi ya “just black”. Icip dulu, setidaknya setiap minum kopi harus berani coba dulu tanpa gula. Jangan cupu, Kita perlu mengesampingkan dulu selera pribadi.

Itulah contoh kecil awal perubahan budaya ngopi. Bagaimana jika diterapkan oleh pemilik kedai/cafe, artis, pejabat dan orang orang berpengaruh lainnya? Tentunya progress akan lebih cepat. Manfaat akan terserap lebih banyak, semua sisi negara ini menjadi lebih baik dan perubahan pun akan terjadi pada Indonesia generasi mendatang.

Iklan

Kopi Specialty vs Kopi Sachet

image
Kopi Sachet

KOPI – Apa yang kamu visualkan ketika mendengar nama “kopi”? Jujur, kalau aku pribadi, kopi itu berwujud just black: hitam dan tanpa unsur lain selain air. Tak ada gula, susu, choco dkk. Lalu gimana pendapat kamu?

Kopi terbagi menjadi 2 golongan. Pertama, tradisional coffee dan yang kedua adalah modern coffee. Masing-masing golongan tak bisa disalahkan ataupun dibenarkan secara sepihak, karena ada paham bernama “Habitude” atau kebiasaan. Analoginya sama seperti ungkapan “bermusik adalah kebiasaan”. Ia yang terbiasa, ia lah yang berkuasa: menguasai genre music tersebut. Kalau udah terbiasa main musik jazz, suruh main rock ya lucu dan aneh didengar. Begitu juga sebaliknya. Atau contoh lain dalam Agama .. ah sudah lah, ku nikmati kopi ku saja 😄

Sekitar bulan Desember 2015, ada sebuah karya tulisan yang menurutku sangat menarik dibaca bagi para pecinta dan pelaku kopi. Cerita dibawah ini aku kutip dari tukang seduh yang.. hmm .. cukup populer karena keotentikannya. Adalah mas Gilang @kopdaryk (angkringan kopdar), salah satu pelaku “dunia hitam” yang biasa nyeduh di pusat Jogja.

Coffee lovers wajib masup! (Ala kaskus gitu..haha 😄) Silahkan disimak! Aku yakin kalian pasti punya pengalaman unik, lucu atau bahkan bikin bete tentang fenomena Kopi Specialty vs Kopi Sachet. Narasi singkat ini cukup ekspositorik tapi rada sugestif. Ah, apapun itu baiknya di awali dengan secangkir kopi 😝

Bagi teman-teman yang belum tau apa itu “Specialty Coffee”? Lain waktu akan aku coba deskripsikan dan jelaskan sampai tuntas. Mulai dari sejarah asal-usul, philosophy, standarisasi hingga perkembangan trend saat ini. Tentunya dari sudut pandang ‘percipio’ dan tanpa mengurangi rasa hormat kepada para senior dunia hitam ini 😁 😁

Selamat menikmati! Mari budayakan membaca sampai selesai. Salam sruput…. ☕😁

SUARA HATI SEORANG TEMAN YG DI BULLY KARNA MINUM KOPI SACHET

“Kubilang aku pecinta kopi, tapi kalian tak terima.
Kau tanyakan kopiku specialty atau bukan?
Aku minum kopi sachet.
Malah kau hina aku dengan sebutan macam-macam,
Selera rendah, peminum kopi tidak bermutu, pecinta kopi abal-abal. Hingga suatu saat, kau bilang lidah kami tidak disekolahkan, hanya karena tak bisa menikmati kopi specialty yg “kecut” itu”

“Lantas jika aku minum kopi yang tidak bermutu menurutmu, kau ingin berbuat apa? Menukar kopi kami dengan kopi specialty mu?
Jika aku tak doyan “kopi kecut” bagaimana? apa kau salahkan lagi aku yang bodoh ini?”

“Katamu kopi specialty bisa mensejahterakan petani. Tapi kau lupa, harga kopi specialty lebih dari sepertiga upah kerja kami sehari. Kopi yang kalian gembar-gemborkan cuma bisa kalian nikmati. Tapi tidak mampu kami beli”

“Kami sebut diri kami pecinta kopi. Apa tidak boleh kami mencintai kopi sachet yang mudah diseduh dan dinikmati?”

“Jika kopi yang kami nikmati adalah kopi yang tidak mensejahterakan petani, masih bolehkah kami menjadi pecinta kopi?”

……. The End.

Berbagai opini deskriptif para pecinta kopi pun bermunculan di sosmed. Membuatku tak bisa bicara banyak, cuma bisa mengamati 😝 Ini lah beberapa kutipan mereka (pecinta kopi) yang berkomentar.

(RECENT COMMENT and UPDATE)

“Kata specialty itu bagi saya buat yang bikin dan yang mau minum… Percuma kalo bilang specialty gak pas dihati dan dilidah baik dalam pembuatan dan di sajikan bagi penikmat kopi.. Hehehe
Asep Tanjoeng

“Ekspektasi masyarakat dominan untuk mengkonsumsi kopi sachet, Karena “mereka” terhipnotis media (iklan). Media pun juga ikut serta mempropagandakan hal tersebut”
Tito Setia Pranoto

“Hentikan minum kopi abal abal dan beralih ke kopi speciality. Jika gak mampu ya kembali nikmati kopi abal abal.”
Awal Pulungan

“Kopi yg nikmat adalah kopi yg kita seduh sendiri.hehehe…apapun kopinya jika bisa kopi daerah sendiri yg dikonsumsi,supaya bisa maju bersama.nikmat jika kita menghargainya dari awal proses”
Christian Dewa Perkasa

“Dlm dunia kopi, gk ada bener atau salah. Semua bener, karena menyangkut selera”
Bhima Coffee Roastery

“Ga semua juga bisa nikmatin kopi speciality. Yang mampu beli kopi speciality belilah nikmati, yang cuma mampu beli kopi sachet atau kopi pake gula ya belilah nikmatin. Kalo mengatasnamakan kesejahteraan petani kopi, apa kabar dengan petani tebu. Edukasi boleh tp jangan menhakimi”
Oki Bleksuit

“Penikmat kopi spesialty hanya 15% dari produksi kopi, penikmat soluble kopi/instan itu 70%…ini data ICO…jadi, apapun kopinya, kalo kita suka…akan brasa nikmat.”
– Eris San

“Saya lbh risih kalau yg mengembar gemborkan soal kopi specialty,ternyata yg dijual tdk sesuai dgn apa yg digembar gemborkan”
– Achiles Coffeeroasteri Malang

“Mau kopi apapun, kalau cara menikmatinya dengan benar sesuai selera gak jadi masalah kok, dan jangan pernah menyalahkan peminum kopi saset. Lebih baik kita diskusikan atau memperkenalkan kopi sepeciality. Single origin contohnya, dengan tanpa gula waktu penyeduhannya.”
Adhis Robusta
 
“Harga kopi sachet 2 ribu. Harga kopi specialty 160 – 200 ribu per kg, sekitar 160-200 rupiah per gram. 1 cangkir kopi specialty memerlukan 15 gr, jd sekitar 2000 -3000 per cangkir. Ga beda jauh lah harganya sama kopi sachet.”
Nick Andryanto

“Kata specialty itu bagi saya buat yang bikin dan yang mau minum. Percuma kalo bilang specialty gak pas dihati dan dilidah baik dalam pembuatan dan disajikan bagi penikmat kopi.”
Asep Tanjoeng

“Klo beropini, semua pasti akan memandang hal ini, khususnya kopi sachet dengan kacamatanya dan sesuai pengetahuannya. Terpenting sesuai koceknya. Ngopi yang nikmat adalah saat hati senang”
Erna Dewi (Radja Koffie Bali)

 
“Wah klo ane sih ngak risih ama kopi satsetan, cuma agak mules habis itu.”
Farid Meracuni

“Bagi Saya semua kopi sangat Specialty, sekalipun Kopi Grade 10. Kenapa? Karena setiap kopi yg ditanam, dirawat, dicintai, tumbuh dan menghasilkan itu KOPI SPECIALTY. Sekalipun kopi sortiran. Kopi Yg Bukan SPECIALTY itu bukan Kopi Sachet atau sejenisnya. Tapi Kopi Yg Kita buat dari olastik dll yang tdk bisa diminum oleh seorang Cuppers kelas Menara Eifel atau seorang Tukang cari Rosokan. Lalu Bagaimana dengan Kopi Sachet yg bagi saya juga kopi specialty? Pertanyaannnya Koqk bisa? Misal Kopi Cap Kapal Geni di kemasannya tertulis Special tdk tercantum KOPI PLASTIK , Bisa di minum kan? Bahannya apa? Kopi kan? Bukan plastik, bukan gragal, bukan semen? Coba sesekali Kopi Cap Kapal Geni di seduh pke v60 dan dengan HATI, pasti JELAS LEBIH ENAK. Salam Pendekar Kopi Berampas.”
Markus Surya Pranata

“Bagi saya, minum kopi saset itu bikin sesat. Tapi Saya tidak pernah membully peminumnya. Rahayu Kopi Nusantara, Hitam Bukan Sesat Bukan Saset.”
Asep Oetoenk Sukarna

“Tidak semua kopi speciality kecut (tergantung roasting, origin & varietasnya). Ada juga warung kopi speciality yang jual cuma 5 ribu, tapi ada juga sachet yg benar (tidak ditambah jagung / beras. Sekarang ada kopi ijo yg dicampur kacang hijau). Yang mana aja ga masalah asal kopi bukan jagung, betad ato kacang ijo. Mau kecut, pahit, wangi atau apapun rasanya asal kopi.”
Barto Dahana

….. (still running and to be continues)

Arabica Semeru: Kopi dari Tanah Tertinggi di Pulau Jawa

image
Gunung Semeru (photo: indonesia-tourism.com)

Kopi Gunung Semeru masih terdengar asing bagi para pecinta kopi single origin. Meski Semeru adalah primadona para pendaki dan traveler, namun soal kopi, nampaknya Semeru seperti pasif tak terekspos.

Cukup disayangkan ya, padahal dataran tertinggi di Pulau Jawa ini juga punya kopi arabica dengan kualitas bagus. Sebut saja Kopi Semeru. “Kopi kecut” memang selalu bikin “kepincut”. Meski petani di Lereng Gunung Semeru masih tergolong petani kopi baru, tapi untuk memproses dengan pasca panen Natural kualitasnya sudah cukup bagus. Hal ini terlihat dari green bean yang saya terima dari Pak Agustinus (Global Coffee)

BUDAYA HINDU BUDHA dan VARIETAS POHON KOPI LINI S ASAL INDIA

Kita tau bahwa kopi merupakan bagian dari Budaya. Seperti penyebaran Hindu (paham Siwaistis) dari tanah India ke Indonesia yang berpusat di Jawa, salah satunya di Tanah Semeru. Paham ini rupanya meninggalkan pengaruh besar terhadap kepercayaan dan kebudayaan Masyarakat sekitar, khususnya suku Tengger hingga saat ini.

Konon, Gunung Semeru memiliki tempat yang khusus bagi umat Hindu dan Budha di Indonesia pada umumnya, lantaran gunung ini dipersonifikasikan sebagai gunung suci.

So, boleh saja Kita sebut Semeru atau Sumeru, karena itu sama saja. Dalam konteks kosmologi Hindu dan Budha, Semeru berasal dari bahasa sangsekerta yang berarti Sumeru “Meru Agung”, pusat alam semesta: secara fisik maupun metafisik (spiritual). Gunung ini mereka percaya sebagai tempat bersemayamnya para Dewa (Siwa).

Pohon Kopi Varietas Lini S yang berasal dari India ini banyak ditemukan di dataran dataran tinggi Jawa dengan Budaya Hindu-Budha di sekitarnya, termasuk di tanah Semeru.

KOPI SEMERU VERSI PERCIPIO COFFEE

image
Usai Sangrai Biji Kopi dari Semeru

Pertanda kopi enak, di roasting ya enak enak aja tuh, gampang dan nggak bikin ribet. Ini saya roasting profil light roast. Warna biji sangrai, bubuk dan hasil seduhan nggak terlalu item, mirip teh, tapi “matang”. Ya, matang, karena dalam beberapa kasus, rasa, aroma gula aren dan setengah matang itu bisa menimbulkan kontradiksi atau ‘principium rasa’

Perihal rasa dan aroma memang percipio (persepsi) dan nikmat memang selera setiap individu. Tapi  kamu pasti setuju kalau “kopi kecut” itu berkualitas bagus. Ya minimal ada indikasi buah kopi petik merah matang di pohon.

image
Hasil Pour Over Menggunakan V60

Sederet proses panjang olahan petani lereng Gunung Semeru ini bisa dimahar 60k/pack 250 gram. “Anda pesan, kami roasting”, tentunya biji kopi sudah melewati process selection satu per satu. Jadi tidak ada biji kopi pecah ataupun penyakitan. Kemasan Kopi Khusus import dari Taiwan dilengkapi Alumunium Voil, Zipper dan Valve.

image
PERCIPIO COFFEE, SEMERU

Sejarah, budaya dan kopi selalu menarik diperbincangkan. Tentunya diawali dengan secangkit kopi, karna baiknya perbincangan hangat diawali dari situ. Proses kerja keras petani Semeru ini perlu Kita apresiasi, nikmati setiap momentnya dengan Kopi Anugrah Sang Pencipta.