Unconditional Coffee

Putri Dermawati, wanita berumur 31 tahun pemilik sebuah kedai kecil sederhana di kota Medan. Kepada Rudy sahabatnya, ia berkata, “Jika memang aku diberi jalan menjadi juragan kopi, aku tak mau membatasi orang orang harus membayar dengan uang untuk membeli secangkir kopiku ini”.

“Kamu bisa rugi put”, kata Rudy. 

“Hei Rud, Di jaman sekarang ini apa kau masih percaya jika ada cinta tanpa syarat?” Seseorang yang menerima kita utuh apa adanya; tanpa syarat, tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan kondisi ini itu. Sederhana, hanya keduanya merasa bahagia. Sementara kita tau bahwa ia mampu mendapatkan yang lebih dari Kita. 

“Entah put, aku bingung, percaya nggak percaya sih”, jawab Rudy sambil berfikir lagi. 

Sepanjang hidup Putri bersikeras bahwa uang bukanlah penghambat suatu kebaikan. Kopi itu tak bersyarat, baik apa adanya. “Barangkali Tuhan menciptakan kopi agar kita semua bisa berkawan”. Because coffee is connecting people dan kopi harus bisa dinikmati semua kalangan. 

Melalui ketulusan Putri selama 10 tahun, budaya ngopi di Medan berevolusi. Tadinya kopi dianggap minuman orang tua dan minuman mahal, sekarang menjadi minuman paling bergengsi. Mulai dari kopi gunting hingga artisan roastery siap dinikmati semua kalangan. Bahkan tanpa uang sepeserpun, kedainya mampu memberikan secangkir kopi gratis tanpa syarat.

“hanya butuh KEJUJURAN!”, kata Putri saat pertemuan dengan Rudy setelah 10 tahun mereka tak bertemu. 

.

Kopi Just Black untuk Perubahan Indonesia

Ritual ngopi sore ini cukup berat bahasannya. Banyak banget yang ingin aku tuliskan. Entah, bingung rasanya, harus kumulai darimana ini? 😯 Hmm 😕 .. ya baiknya emang dimulai dari secangkir kopi. Oh iya ya 😄

image
Percipio dan Dokumentasi

Sebelumnya, aku mau berterimakasih kepada temen-temen yang setia menunggu tulisan terbaru blog yang baru saya rintis ini. Beberapa temen bilang, “Tulisan kamu bagus, ayo nulis lagi donk, kapan nih update artikelnya, aku tunggu lho postingan barunya, dsb”. Jujur, kalian adalah pondasi semangatku untuk menulis. Andai kalian tau, sebenernya aku malu karna blog ini hanyalah berisi curhatan spontan usai “ritual ngopi” dan lebih sering “baper”. Sesekali emang ada retorika yang tertuang begitu saja tanpa pikir panjang, apalagi research, enggak. Tapi saya bangga jika curhatan saja bisa bermanfaat untuk orang lain (pembaca), apalagi kalau serius.

Ngopi dulu, dari beberapa koleksi kopi dirumah,  kali ini kupilih kopi pemberian dari Erna Dewi (Radja Koffie, Bali). Aku memanggilnya Mamih Nena 😁 Hallo mih? How are you? 😁 Kopi ini berasal dari Desa Adat Sepang, Bali. Ya, Sepang itu ada di Pulau Dewata Bali, bukan Sirkuit di Malaysia 😕 Baru tau kan kalau Kopi Bali itu nggak cuma di Kawasan Kintamani? 😦 Ya sama, aku juga belum lama tau kalau ternyata banyak daerah daerah penghasil kopi Arabika di Bali.

Kopi ini ku sajikan secara modern coffee, dengan bantuan “alat tempur” jenis pour over V60 metal filter buatan Hario Japan. Jujur, hasilnya nikmat banget. Kompleksitas rasanya dapet banget. Pahit, asam, manis (bukan tambahan gula) menyatu menghasilkan harmonisasi rasa yang begitu indah. Alunan musik instrumental saxophone Mindi Abair semakin menambah keindahan moment gerimis di sore ini.

DENGAN KOPI “JUST BLACK”, PERUBAHAN BESAR BISA TERJADI

Dunia kopi menyadarkanku kalau ternyata banyak sekali manfaat sosial yang diperoleh dari secangkir kopi. Tak salah jika ku sebut kopi adalah minuman terbaik di dunia setelah air putih/mineral dan tanah air Kita begitu kaya akan kopi.

Menurutku, Indonesia akan menjadi “Raja Kopi” ketika seluruh kalangan masyarakatnya mengkonsumsi kopi hitam murni / “just black”: organik, merah matang, tanpa gula, tanpa susu dan tanpa tambahan unsur lain kecuali air. Karena dengan just black manfaat bagi tubuh akan didapat maksimal: badan produktif, otak pun bekerja dengan optimal.

Berbanding terbalik dengan minuman beralkohol yang merupakan minuman sesat. Karena miras adalah minuman dari penjajah terselubung ciptaan Manusia penyembah Iblis di balik layar. Dan mirisnya, banyak sekali dari kalangan Kita mulai dari buruh, sopir, pelajar, mahasiswa, pengusaha, polisi, tentara hingga pejabat negara pun ternoda dengan alkohol. Mereka terjerat nikmat, namun ternyata dibodohkan tanpa sadar.

Disisi lain, perkembangan teknologi tentu sangat baik. Temuan baru tidak layak Kita salahkan, karna telah terbukti nyata sangat bermanfaat bagi khalayak untuk mempermudah sesuatu pekerjaan.

Tidak terlepas dari masalah itu, belakangan ini aku sangat bangga dengan semua pelaku kopi mulai dari hulu (kebun) hingga hilir (cangkir) yang setia mengedukasi kopi dengan tujuan yang sama, yaitu “Budaya Ngopi yang lebih baik”. Semua pihak berkesinambungan, terhubung erat menjadi satu kesatuan karena kopi.

Meski beberapa kedai menggunakan varian lain seperti cappucinno, coffee latte, dkk untuk menunjang sisi ekonomi/pendapatan. Bagiku sah sah saja, itu ide yang smart. Karna mungkin kalau aku punya kedai juga toh akan menggunakan cara yang sama. Namun terpenting adalah kualitas kopi, karna perihal rasa hasil tak bisa dibohongi, tak bisa direkayasa.

Dirumah, dalam hal kecil sederhana coba aku terapkan. Beberapa hari ini kedatangan tamu yang ingin membuka kedai atau warung kopi. Ada yang baru penasaran, ada yang peka melihat peluang bisnis dan ada juga yang bener bener “maniak kopi”. Selalu kukatakan, kalau bicara kopi ya “just black”. Icip dulu, setidaknya setiap minum kopi harus berani coba dulu tanpa gula. Jangan cupu, Kita perlu mengesampingkan dulu selera pribadi.

Itulah contoh kecil awal perubahan budaya ngopi. Bagaimana jika diterapkan oleh pemilik kedai/cafe, artis, pejabat dan orang orang berpengaruh lainnya? Tentunya progress akan lebih cepat. Manfaat akan terserap lebih banyak, semua sisi negara ini menjadi lebih baik dan perubahan pun akan terjadi pada Indonesia generasi mendatang.

Kedai Kopi Kawasan Bukit Watu Lumbung Bernuansa Rustic Exotic

image
Kopi Pantai Parangtritis

Akhir-akhir ini semakin banyak kedai-kedai kopi bermunculan. Jelas hal ini karena peran media dalam hal publikasi. Entah berupa liputan, film, buku, blog dan artisan sosmed lainnya.

Namun disayangkan, sangat jarang kedai kopi yang mengusung nuansa rustic house. Padahal menurut saya pribadi tema ini sangat menarik. Kedai kopi menggunakan furniture serba kayu “Natural Weathered Processing” yang lapuk termakan usia: kering karena panas matahari dan basah karena hujan

THE CABIN RUSTIC HOUSE

image

Konon, di Eropa, Rustic House menjadi tempat favorite untuk bulan madu atau memadu kasih. Cabin yang berada di tengah hutan, perbukitan atau tepi danau.

KEDAI KOPI KAWASAN BUKIT WATU LUMBUNG

image
Senja di Watu Lumbung

image
Malam hari di salah satu kedai kopi kawasan bukit watu lumbung

Dalam foto di atas adalah salah satu kedai dengan nuansa rustic yang Kami temukan di kawasan bukit Watu Lumbung, sebelum Pantai Parangtritis, Yogyakarta.

Banyak sekali hal menarik tentang tempat ini yang tidak bisa saya tuliskan semuanya. Mungkin next trip kalau ada sumur diladang.

Saya sebutkan sebagian saja. Misalnya, di salah satu kedai di bukit watu lumbung ini Kita bisa barter buku dengan menu makanan dan minuman yang kita pesan, tanpa perlu membayar dengan uang. Wow, enak bukan. Seperti kembali ke jaman nenek moyang kita.

Lalu perihal kekinian, sunset juga excotic nan syahdu, dengan panorama pantai dan bukit-bukit. Kalau kemarin di Posong kita bisa melihat 7 puncak gunung sekaligus, di Watu Lumbung ini kita bisa melihat 4 gunung sekaligus, yaitu Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, serta Sumbing.

Tema rustic tradisional sangat kuat disini. Mulai dari meja, kursi, serve, cangkir, piring hingga lighting.

RUSTIC WOOD THEME

Kembali ke topik awal, Rustic Wood terbagi menjadi dua. Pertama, kayu golongan elit menggunakan kayu tua, langka dan tergolong “fosil” dan harganya tentu sangat mahal. Kedua, kayu golongan seadanya, menggunakan kayu seadanya yang mudah diperoleh di sekitar. Apapun pilihannya, nuansa yang dihasilkan tetap sama, natural.

Kita tau jika para coffee enthusiast sendiri lebih mencintai hal-hal yang berbau natural. Saya analogikan misalnya kopi yang mereka minum. Kalau ada satu kopi dengan pilihan 2 proses pasca panen, natural (kering) dan full wash (basah), mereka pasti lebih excited minum kopi yang proses natural dengan persepsi bahwa flavour and taste lebih kuat

Selain rustic wood, ada juga sebagian kedai yang memilih menggunakan nuansa nature dengan tumbuh-tumbuhan serba hijau. Media tanam pilihan serba alam dan lighting yang klasik minimalis. Japanese menjadi acuan mereka

Tema Rustic Wood bisa menambah referensi tema coffee shop Anda. Sekian dulu, lain kali akan saya review lagi kedai atau cafe lainnya, tentunya ketika ada kopi sebagai suguhan yang dikedepankan. Karena baiknya, cerita diawali dengan secangkir kopi

Jadikan Kopi Sebagai Kebutuhan

image

Jadikan kopi sebagai sebuah kebutuhan. Sehingga mereka (pelanggan) rela datang lagi jauh-jauh mau beli atau minum karena butuh. Karena butuh adalah bentuk emosi, maka tak perlu “minder” dengan kedai

sebelah yang lebih keren artistik, lebih modern dan serba canggih. Cukup apa adanya aja. Terpenting adalah bangun komunikasi dengan pelanggan. Kamu bisa menanyakan hal-hal ringan seperti, “Gimana rasa kopinya mas, kurang apa?” atau “Apa kopinya cocok dengan seleranya mas?”

Jika cafe kamu banyak menu non coffee, menurutku tidak perlu juga menuliskan banyak menu kopi disitu. Kalau mau pesan kopi, maka bisa tulis saja “mendekatlah ke barista”. Karna dalam beberapa kasus, sering saya temui ungkapan kekecewaan teman terhadap kopi yang disajikan kedai2 tertentu. Bahayanya, hal semacam itu bisa merusak nama baik kopi itu sendiri. Padahal kita tau “ada mis komunikasi antara pembuat kopi dan peminum kopi”.

Bukannya mau mengagungkan kopi saja, tapi faktanya kopi dari dulu memang sudah agung. Makanya nama embel-embel “coffee” selalu menjadi andalan, dan kebanggaan pemilik cafe. Meskipun kualitas kopi masih (maaf) buruk. Entah itu sudah tidak fresh, profil roasting yang terlalu gelap atau perihal takaran yang tidak sesuai selera pelanggan.

Jika pelanggan butuh, begitu juga kamu: kalian pebisnis rela menyediakan kopi ini itu untuk disuguhkan. Jika kamu butuh, maka kalian bangun usaha itu sebagai tempat ngopi, mengapresiasi kopi dan tempat paling nyaman.

Nyaman pun juga bentuk emosi. Ada nyaman situasi dan nyaman lidah. Kalau kamu sendiri sebagai pemilik sudah bisa bener bener nyaman, kamu pun bisa berbagi kenyamanan dengan pelangganmu sepenuh hati.