Masuk Akal

Masuk akal
Membaca pikiran (image: artpeople_gallery)

Masuk akal adalah istilah untuk orang-orang berfikir, yang di zaman modern ini disebut dengan logic atau logis; logika berfikir yang dapat diterima pikiran manusia. 

Saya tidak me review buku Edison ‘Think And Grow Rich’ tentang kedasyatan pikiran manusia. Buku itu bagus, selama contoh kisahnya jangan kita jadikan sebagai tolak ukur pencapaian finansial. Ambil polanya dan terapkan dalam hal apapun.  

Istilah “masuk akal” ini sudah dipakai teman-teman saya mulai tahun 2011. Ketika ada sesuatu enak diterima akal, biasanya kita sebut dengan masuk akal

Contonya, “Liat bro, itu cewek masuk akal”, kata temen saya. 

Artinya cewek yang ia lihat itu sesuai dengan kriteria wanita idamannya. Sesuai dengan standar konstruksi pemahaman sudah yang ia bangun selama ini. 

Temen-temen saya tahu, ada pemahaman yang keliru mengenai akal dan otak. Seperti contohnya ‘akal sehat’. Mustinya bukan akal sehat, karena akal itu ya pasti sehat. Otak yang sehat akan membentuk akal. 

Jadi kata masuk akal lebih masuk akal kita gunakan ketimbang menggunakan kata akal sehat. 

Karena Kita terlalu sibuk

Karena Kita terlalu sibuk bertanya kepada orang lain yang dianggap lebih faham

Karena Kita terlalu sibuk mencari dalam buku yang dianggap panutan

Karena Kita terlalu sibuk bekerja dalam perusahaan yang dianggap jalan kekayaan

Pernah Saya bertanya kepada bapak saya, 

“Pak, bagaimana cara agar saya tidak malas?” 

“Ya jangan malas”

“Pak, bagaimana caranya agar saya rajin bekerja” 

“Ya rajin lah bekerja” 

Akal saya pun mulai berfikir, memproses jawaban singkat ayah saya itu. Kenapa saya tidak pernah membaca akal saya sendiri? Saya justru meminjam tangga untuk memetik buah yang bisa saya petik dengan tangan. 

Titik pusat dari rotasi akal manusia bukan soal kesuksesan saja, apalagi sukses finansial. Masuk akal jauh lebih bermakna luas daripada itu karena punya nilai keindahan didalamnya serta melibatkan perasaan dalam mengolah data sebelum masuk menyatu dengan akal. 

“Jika INDAH, maka ia sudah melewati BENAR dan sudah melewati BAIK”
Kita melihat fakta sebelumnya, kita merasakan baiknya, baru lah hal itu menyatu menjadi akal yang kita sebut “masuk akal”

“Gimana kopi itu? Apa masuk akal?”