Akankah Indonesia Bubar?

Jokowi: “Aduh, modyar iki dab”

Dulu saya berfikir, dengan banyak membaca media akan membuat saya berilmu, pintar dan berpengetahuan luas. Maka saat itu saya wajib tiap hari baca koran sambil ngopi pagi, lalu beralih baca media online dan televisi.

Ternyata saya salah. Saya malah mengijinkan media menguasai diri saya, menguasai pikiran dan hati hingga lupa akan jati diri saya yang sebenarnya. Informasi sangat licin, tidak bisa saya kuasai. Malah justru sebaliknya, saya dikuasai informasi hingga ia memenjarakan pikiran saya.

Karena penasaran dengan hal ini, tahun 2014 saya pun nekad untuk mengorbankan kegiatan itu. Sudah 2 tahun lebih saya tidak nonton tv sama sekali, tidak baca koran blas, tidak baca berita media apapun. Ya hanya sesekali baca dan tonton untuk mencari sesuatu yang memang relevan dengan kebutuhan saya.

Ternyata benar, ilmu itu tidak datang dari media, ilmu datang dari dalam diri sendiri. Ilmu adalah sebuah pola dalam obyek yang ketika obyek tersebut diganti, maka ilmu itu akan tetap berlaku. Benar-benar hal ini mulai saya rasakan akhir-akhir ini.

Memang tanpa media, tanpa kartu pers, saya bukanlah siapa-siapa. Sudah tidak ada pejabat maupun polisi yang bersikap sopan sopan takut kepada saya. Tapi dengan menjadi biasa, pemahaman akal saya lebih mendapatkan posisi ditengah. Karena di tengah itu ternyata nikmat, diapit itu nikmat. Tapi tetep, posisi menentukan durasi 😄 Seperti angka 7 yang mudah turun menjadi 5 dan mudah naik menjadi 9.

Kalau tidak karena temen-temen facebook yang share sesuatu di beranda, saya blank tidak tau sama sekali perkembngan info dari media usai demo kemarin.

Kalau itu tulisan pribadi, ocehan blog seperti ini, atau media lokal, boleh lah sesekali saya baca. Tapi kalau media media nasional, maaf judul pun tidak minat saya baca.

Diluar sepengetahuan ini Saya tidak berani menyalahkan siapapun, tidak berani juga membenarkan siapapun. Ya siapapun mereka, dari kalangan ataupun pihak manapun mereka, sungguh saya tidak berani ambil sikap. Karena saya tau, permasalahan ini sangatlah panjang, luas dan dalam. Lebih dalam dari saat dimana rambutmu ketemu rambutnya, kulitmu ketemu kulitnya, airmu ketemu airnya dan cintamu ketemu cintanya.

Saya menyebutnya “angin jakarta 4 november 2016”. Memang bukan hari biasa, bukan hanya soal-soal yang dipersoalkan di panggung panggung itu, di media media itu. Bukan hanya soal Ahok, bukan hanya FPI, HMI, Jokowi, Tax Amnesty apalagi Ahmad Dhani.

Apalagi penistaan ayat Allah, itu bukan lah akar masalah. Bukan asal-usul perkara. Itu hanya salah satu produk masalah globalisasi. Tahun 2012 Mbah Nun pernah berkata

“itu seperti seseorang terpeleset kakinya dan terjatuh menimpa orang-orang di sekitarnya. Masalah utamanya bukan terpelesetnya itu, melainkan ada jalan panjang yang licin”

Orang maiyah tau, bahwa sudah lama ada pergerakan antara hitam dan putih yang samar untuk merampok kekayaan indonesia dengan strategi awal yaitu merapuhkan para penghuninya. Penghuni utama Negeri ini adalah Ummat Muhammad terbesar di dunia. Maka paket utama dalam strategi itu adalah mengadu-domba ummat itu melalui UUD 2002, ulama, ustad, media sehingga penduduk Negeri ini menjadi rapuh, rentan dan lumpuh soliditas kebersatuannya. 

Ya, sangat masuk akal. Dengan menggunakan 1 juta saudara-saudara kita yang sudah singgah di ibu kota kemarin, jangan lupa bahwa disisi lain masih ada lebih dari 299 juta saudara kita yang bingung karena ulah media. Mereka sibuk menyerap berita dan menelan langsung tanpa mengunyahnya. Apapun dimasukkan, mereka telan mentah-mentah. Kemajuan teknologi “Klik dan share “adalah sebuah domino effect yang powerfull yang dimanfaatkan para elit dunia. 

Dhani pun katanya terseret seret. Lha kok nyebut presiden, nama dewa saja berani ia sebut bahkan ia kuasai. Para dewa dewa jadi bingung dan bilang pada saya, “kampret bocah kae, jenengku di nggo jeneng band”. Bahkan Mahadewi pun ia pakai. Sayangnya Maha Segalanya tidak pernah berkata “anjing”, karena anjing adalah mahklukNya yang mulia. Ya, Tuhan begitu Maha Mulia dan Maha Eman (sayang) sama si gundul yang satu itu. 

Pernah nggak kalian berfikir, Apa mungkin negeri ini akan hancur ditahun 2016? atau 2018? atau 2024? atau 2038? Seperti orang orang meramalkan atau memprediksi. Atau malah tahun tahun itu cuma lewat saja? Seperti angin yang menggugurkan daun-daun itu.

Sungguh, aku pun tak tahu. Tapi kalau memang benar akan bubar, Aku sudah siap lahir dan batin. Sepertinya rakyat indonesia juga sudah siap, karena kita ini memang terlahir sebagai generasi manusia yang sangat kuat dari pada negara-negara lainnya. Namanya generasi milenial. Karena,

“Kita bisa mengubah tai menjadi roti dalam beberapa kali kunyahan saja”

“Kita bisa merubah tahu menjadi daging sapi dalam beberapa gigitan saja” 

“Kita bisa mengubah arang menjadi secangkir kopi dalam beberapa kali srutupan saja” 

“Kita bisa merubah pemimpin buruk menjadi baik dalam beberapa kali pandangan saja”

Dan masih banyak sekali hal-hal yang tak disangka dari kekuatan rakyat indonesia.

“Hai para negara negara penjajah, hai para kartel kartel dunia. Tunjukkan hidungmu! Jangan kau jadi pengecut saja. Tak semudah itu kau bisa robohkan kami rakyat indonesia. Nanti kau akan capek sendiri dengan apa yang kau lakukan kepada kami sejauh ini, bahkan sudah 600 tahun ini kau hanya bersembunyi saja”

“Sekaya apa sih Negeri ini sampai sampai kalian memperebutkan tanah kami? Dan memperkosa kami tanpa henti dari pagi, siang hingga malam”

“Sejengkal tanah kau pajaki, sesuap nasi kau pajaki, apa tidak sekalian saja kami bayar denda untuk setiap tai yang kami keluarkan setiap hari. Juga membayar wajib setiap pipis dan tangis yang membasahi tanah kami ini. Ayo gpp wes, kami ikhlas. Kami sayang kalian, kami tidak akan memberaki dan mempipisi muka kalian”

Cuma kadang saya bingung. Ya Tuhan, sebenarnya yang gendheng itu saya atau mereka?

Seorang pujangga di kediri, keturunan sunan kalijaga, seorang pangeran yang hidupnya merdeka, pernah berkata kepada saya (dalam mimpi), bahwa suatu saat memang akan datang hari-hari dimana,

Akeh udan salah mangsa, Pitik jago tarung sekandang

Wong tani ditali-tali, wong ngapusi berdendang dendang

Kanca dadi musuh, sedulur mangan sedulur

Wong jahat munggah pangkat, wong apik kepidak pidak

Wong dagang soyo laris dagangane, soyo ludes bondone

Para juragan menjadi umpan, yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

Si pandai direcoki, Si jahat dimanjakan

Sementara orang yang mengerti makan hati.

~ Sri Aji Joyoboyo, tahun 1666 

Tulisan ini tidak perlu dipercaya, tidak perlu dibenarkan. Kalau disalahkan malah bagus, karena saya cuma tutur-tutur saja, ya anggap saja ini obrolan biasanya kita kalau lagi di warung kopi. Jadi tulisan ini langsung muncul begitu saja, otentik saat itu juga dan bisa berubah sewaktu waktu semau-mau hati dan pikiran saya. Semau Tuhan memberi petunjuk kepada saya.

Terimakasih, salam kekopian ☕😁

Iklan

DIPERKOSA MACAN

Memang betul, server database E-KTP kita sudah ada di tangan macan. Jadi macan sudah punya seluruh data personal kita. Data hampir 300 juta makhluk di hutan rimba ini. 

Sudah banyak ditemukan kasus kasus EKTP palsu tapi asli yang mereka buat dan mereka gunakan untuk menyusup ke hutan ini. 

Macan-macan mulai menyusup, berbekal KTP WNI. Entah berapa jumlahnya, entah macan biasa atau macan biasa yang siap militer atau malah murni macan militer. Mereka sudah masuk jauh sebelum ada cucu macan menjadi pemimpin daerah. 

Macan-macan akan bersatu dalam rerumputan yang lebat itu. Memang benar, pemimpin tidak akan mencalonkan diri. Pemimpin selalu didorong dorong kawannya untuk bersedia memimpin kaumnya. Menjadi pemimpin tertinggi di hutan rimba ini adalah awal dari kepemimpinan kaumnya.

Semisal tidak jadi pemimpin daerah, tidak jadi pemimpin tertinggi, alias lengser suatu saat, macan-macan pun selalu punya cara lain untuk mencari mangsa. Bertahan hidup demi perut dan kekuasaan rimba.

Sebagian penghuni rimba tau bahwa ada proyek besar reklamasi sepanjang pantai utara yang memakai 30% pekerjanya adalah macan, bahan baku, dan pinjaman modal juga dari kawanan macan. Bahkan, bangunan itu belum jadi pun, semuanya sudah laku dibeli macan macan kaya di hutan asalnya, karena memang mereka sudah sepakat hanya mengiklankan itu di hutan asalnya. 

Kepemilikan senjata api juga diperbolehkan di hutan ini. Ya, karena memang senjata ini untuk berburu binatang. Jadi ya boleh. Tapi perijinannya mahal, hanya macan-macan kaya yang mampu membayarnya, yang mampu memilikinya. Penghuni di hutan ini mana mungkin semampu itu. Untuk memberi makan anak saja masih terpincang-pincang. Mereka lebih memilih makan rumput dan dedaunan ketimbang makan daging yang mahal. 

Ah sudahlah, memang masih banyak sekali yang tidak kita ketahui soal strategi itu. Kita keluar saja dari hutan itu. Lalu menikmati kopi di warung kecil biasanya. 

Semua orang tau kalau PELACUR itu manusia buruk. Bahkan sebelum ada agama saja manusia tidak mau jadi pelacur. Hanya kaum kaum tertentu yang memang ditakdirkan jadi pelacur. Tapi kata Tuhan, tidak ada 1 hal pun yang buruk di dunia ini. Maka yang relevan dan ‘apik’ berlaku adalah ilmu bulat, kalau di jawa namanya ‘ilmu papan panggonan’ berdasarkan atau berlandaskan rasa.  Yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya, sehingga akan menciptakan 3 nilai yaitu bener, baik dan apik yang menjadi nilai tertingginya.

Lalu, kalau ada seorang manusia yang “melacur” untuk membebaskan ibunya yang terus diperkosa karena hutang keluarga, Apakah kau anggap itu buruk? 

Angin Jakarta 4 November 2016 

Foto: Acara Malam Puncak Bulan Bahasa dan Sastra bersama Caknun, Kiai Kanjeng, Iman, dll

Jangankan di jakarta, bahkan untuk menyebut Allahu akbar di masjid depan rumahku saja aku harus memfokuskan diri dan mencari cari dulu hal apa saja Hyang besar, Hyang agung, Hyang mengagumkan di alam semesta ini. 

Tidak ada Allahuakbar gorok, Allahuakbar bacok dalam sejarah Islam yg ku pelajari kemaren sore. Kalaupun ada, itu karna kondisinya berbeda. Perang misalnya, Itupun hanya untuk bentuk simbolis persatuan militer kaumnya. Biar gampang, biar tergerak hatinya. 

Ucapan Allahu akbar mulai dari Adzan di masjid sampai yg di katakan dalam hati seseorang, Kok menurutku kita harus kagum dulu, baru tidak malu mengucapkan itu. Mungkin lebih baik kita ucapkan, asu, celeng, bajingan, jancuk dalam setiap “adzan adzan” itu. Lebih baik aku diam, saat kekaguman belum kutemukan. 

Aku yg bukan islam saja malu dengan Jibril dan para staf staf Allah ini. 

Wahai Jibril, kata Allah ada wahyu yang datang dari angin jakarta. Tapi kenapa orang2 yg bertopi islam itu tidak malu denganmu? Padahal topi, baju hingga hp mereka mereka itu dibuat oleh kaum lain yg mereka musuhi. Jibril malah balik tanya, 

“sing Allahu akbar ki apane cuk?” 

Ternyata, Jibril juga bingung dan berkata “Sudah, nikmati saja kopimu” ☕