​MENCARI DALAM PENCARIAN

(Foto:
Andrea Safa Sabrina)

Hai saudaraku. Kenapa kau berhenti dengan mencintai satu karya? Kenapa kau batasi dirimu dengan dinding dinding besimu. Kau biarkan akar akar pohon yang kau sirami menjerat kakimu sendiri hingga jiwamu pun ikut terpenjara. Tak ingin kah kau bisa berjalan saudaraku? 

Bagaimana mungkin kau bisa berhenti mencintai? Jika ia yang kau cintai tak pernah puas dengan karyanya sendiri. 

Bagaimana mungkin kau bisa menikmati? Jika nikmat yang ia beri membuatmu terpaku semakin dalam, terinjak, namun kau berterimakasih. 

Hai saudaraku. Karya adalah hujan, airnya adalah cintamu. Karya adalah ombak, gelombangnya adalah cintamu. Karya adalah malam, kegelapan adalah cintamu. 

Hai saudaraku. Bangkitlah! Besarkan hatimu. Cintai sebanyak banyaknya karya lain dengan terus terus dan terus. Bahkan jika esok kau tinggalkan dirimu, kau pun harus terus mencari, karena cintamu adalah mencari dalam pencarian. 

Oktober 2016 

Iklan

Ketelanjangan Cinta 

TelanjangKita semua mendambakan keterbukaan, kita sudah bosan kemunafikan dalam semua hal. Makanya media media yg membuka rahasia rahasia akan laku keras. 

Persis saat saya membuka sebuah peristiwa gaib di tahun 2011 lalu. Makhluk gendheng bernama babi ngepet di sebuah daerah yang tidak bisa saya sebutkan disini. Makhluk Tuhan yg tersesat karena ketidaktahuannya. Semua hal bagi saya itu gaib. Analoginya seperti ketika saya tidak tau brp jumlah like yg ada di postingan ini nantinya. Saya benar benar tidak tau, itu lah gaib. Sesuatu yg tidak bisa saya ketahui pasti. 

Hampir 2 minggu berita gaib itu saya tulis sejujur-jujurnya, setelanjang mungkin. Media laku keras, semua orang menanti tulisan dan foto foto saya. Media mana yang mau menampung hal gaib seperti ini? Beruntung media saya saat itu mau menampungnya tanpa edit sedikitpun tulisan saya. Masyarakat umum tidak akan tau siapa saya. Bahkan warga di daerah itu tidak bisa tau bahwa saya juga menjadi gaib. Hanya orang orang tertentu yg boleh “melihat” siapa saya. Banyak hal hal terbuka yg hanya diketahui segelintir orang dari peristiwa itu. 

Lantas tidak menjadikan saya sombong. Justru Saya menjadi faham, karena ternyata tidak mungkin semua hal bisa tertuliskan utuh, lengkap 100% dengan berita, dengan kata kata dan foto. Seperti saat kita bersatu (berpelukan), itu tidak benar benar menyatu bukan? Hanya kurang dari 30% kulit kita saja yg menempel. Lalu rambut, daging, otot tulang, apa juga menyatu? Karena itu bagian tubuh kita. Seperti juga video yg diberitakan, pasti ada nuansa nuansa yg tidak bisa terberitakan sebagaimana jujurnya. Saya sadar, bahwa tidak ada hal yg bisa utuh menyatu kecuali dengan “ketelanjangan cinta”. 

Cerpen #MyCupsOfStory: Si Hitam Layar Kaca

mycupofstory-poster-759x500
nulisbuku.com

Bener Meriah.

Aku hidup sebatang kara dan tinggal jauh dari keramaian kota. Bersyukur Aku masih punya sehektar tanah dan rumah kayu sederhana ini.

Sudah 40 hari ini Aku lebih sering main ke rumah tetangga untuk sekedar bersosialisasi atau menonton acara televisi daripada di rumah. Jujur, Aku takut kesepian. Rasanya kemarin siang aku memeluk istriku di dapur yang lagi masak Sayur Lodeh Labu Siam kesukaanku. Tengku adalah panggilan sayang untuk suami.

“Iya sabar tengku, bentar lagi juga matang” katanya saat mulai kugoda. Kurengkuh ia dari belakang dan kugigit-gigit rambutnya ikal panjang dengan bibirku, aku pikir itu mie.

Aku kangen kebersamaan 30 tahun dengannya. Ia yang selalu sabar dan rajin mengerjakan pekerjaan rumah.

Lalu Ku temani anak angkatku sampai ia terlelap. Usia 7 tahun adalah masa-masa menyenangkan. Andai takdir Tuhan berkehendak lain, pasti bisa ku ulangi lagi hari-hari seperti itu.

Aku angkat tabunganku yang terbuat dari bambu itu, semakin ringan saja. Padahal hanya untuk mengisi perutku 2x setiap hari. Aku pikir benar kata Fadhilah, tetanggaku.

“Bang, usia Bang Ali sudah 60 tahun kan? Mana ada orang mau pakai tenaga abang?”

Ya betul juga.Tulangku yang tadinya “tulang besi” kini sudah menjadi kayu. Ototku melemah. Baru angkat kayu sebentar sudah letih sekali rasanya. Pun pikiranku, sering kali Aku lupa menaruh barangku sendiri. Sementara tenaga tukang kayu yang masih muda banyak sekali di desa ini.

Tapi aku bersyukur punya tetangga yang baik seperti Fadhilah. Atas bantuan mereka, akhirnya sekarang Aku sudah bisa mandiri. Mulailah ku tanam beberapa rempah-rempah, sayuran, buah-buahan dan bebebapa pohon kopi di belakang rumah secara tumpang sari. Ya meski tak banyak jumlahnya, tak ada sisa untuk dijual, setidaknya setiap hari Aku bisa masak sendiri tanpa mengeluarkan uang, tanpa merusuhi tetanggaku. Terpenting hari ini bisa cukup makan dan ngopi. Sudah, itu aja. Aku sudah bersyukur.

Malam-malam ku begitu gelap. Tak ada lampu, tak ada aliran listrik, karena sudah dicabut oleh PLN karena 2 bulan tidak membayar. Tak apa, Aku mulai terbiasa dengan gelap. Mataku lebih peka menangkap warna dan bentuk dalam kegelapan.
Bersyukur air sumurku di belakang rumah melimpah ruah. Tak akan habis meski digunakan oleh satu desa sekalipun.

***

Takengon. 13 km dari Bener Meriah.

Jam 5 pagi, sebuah kedai kopi kecil yang berada disamping Masjid itu telah dibuka. Usai melaksanakan ibadah Sholat subuh, biasanya warga sekitar ngopi pagi di kedai dan sarapan, sebelum memulai aktivitas.

Namanya Bang Aoda, 30 tahun. Ia pemilik “Kedai Kupie”, satu-satunya kedai di Takengon yang hanya menyajikan “air hitam” dan “air putih” dalam daftar menu minumannya.

“Ada kopi apa hari ini bang Aoda?” Tanya seorang pelanggan yang memakai peci itu.

“Ini ada beberapa Kopi Arabica dari Takengon, Gayo Lues, Lintong, Bluebatak Samosir, Kerinci, Java Sunda, Wonosobo, Ijen, Bali Sepang, Kintamani, dan Toraja Sapan”

“Roasting kapan nih bang Aoda?”

“Sebagian Minggu lalu roastingnya, ndak ada kopi yang terlalu lama disini. Alhamdulillah, biasanya seminggu sudah habis” Menurut Aoda, aroma dan rasa biji kopi akan maksimal di hari ke 7-10 setelah proses roasting. Istilahnya ‘resting time’, atau masa istirahat biji kopi usai tahap roasting, guna mengeluarkan unsur gas karbon dan merubah beberapa unsure lain yang terkandung dalam biji kopi sangrai (roastbean).

“Ku cium aromanya enak semua nih bang. Wah wah, emang jago roasting bang Aoda ini” Pria asli Tanah Rencong ini tersenyum lebar dan mengacungkan dua jempol tangannya.

***

Paris

Sudah 10 tahun lamanya Aoda menekuni dunia “hitam” ini. Tepatnya berfokus pada proses roasting. Bukan main-main perihal memaksimalkan biji kopi. Skill roasting Aoda begitu mumpuni. Ia pernah dinobatkan sebagai The Best Specialty Roaster of The Year di Paris, menggunakan mesin roasting buatan John, kawannya di Jakarta.

Keberhasilan Aoda tidak ajaib begitu saja. Setiap hari ia melatih indra penciumannya agar lebih peka. Mengenali satu jenis biji kopi satu persatu untuk menemukan dan menentukan pola roasting. Karna baginya, roasting bukan sekedar memanggang biji seperti kacang tanah. Temperatur, putaran drum, aliran udara lubang untuk melihat sample itu sangat penting. Maka dari itu dibutuhkan mesin roasting berteknologi modern yang mendukung. Ia pun memilih berhenti merokok tembakau dan menghindari masakan pedas.

Kompetisi roasters di Paris itu merupakan pengalaman Aoda pertama kalinya. Selain mendapat sertifikat, dan uang senilai 7000 US Dollar, ia juga direkrut oleh sebuah perusahaan mesin roasting ternama di Paris. Namun para Juri kebingungan, ia sebagai pemenang malah justru menolak tawaran tersebut.

“Thanks, I just want to know my roast skill”

***

Bener Meriah.

Dataran tinggi Gayo memang salah satu penghasil kopi terbaik dan jumlahnya pun tak sedikit. Di desaku saja 90% warga menamam kopi jenis Arabica. Aku salah satunya. Dengan menanam kopi, maka kebutuhan keluarga akan lebih kecukupan, karna kopi ini di ekspor ke Amerika dengan harga yang lebih tinggi. Biasanya, setelah Aku dan para petani lain memetik buah kopi merah, langsung Kita setorkan ke koperasi untuk di proses lepas panen selama dua hingga empat minggu. Barulah mereka (koperasi) mengekspor ke Amerika dan Eropa.

Sebagai petani aku percaya dengan koperasi. Soal budidaya kopi, aku juga cukup berpengalaman. Namun ada satu hal yang membekas, saat tragedi itu menimpaku. Kebun kopi mulikku ini terserang hama penyakit yang mengerikan. Menggerogoti satu pohon lalu menyebar ke pohon lainnya. Aku ingat betul penjelasan dari peneliti dari Jawa itu.

“Begini Bang Ali, Setelah Kita ambil sample dan Kita teliti, ternyata varietas pohon kopi milik bapak ini tidak cocok jika ditanam disini. Meski kualitasnya lebih baik dari varietas lainnya, tapi jenis ini mudah terserang hama”

“Terus bagaimana pak? Apa tidak bisa diobati?”

“Sebaiknya Bang Ali segera memangkas seluruh pohon kopi ini dan membakarnya, sebelum wabah melebar ke kebun sekitar”

Setelah ku pikir-pikir semalaman, keesokan harinya Aku dibantu Pak Kades dan beberapa tetanggaku membasmi wabah ini. Tok tok tok, satu per-satu batang pohon dipangkas, tanpa menyisakan akar di dalam tanah.

“Sabar ya bang Ali. Percaya, rejeki tidak akan kemana-mana dan bahagia bukan dari uang” kata Fadhilah saat api itu mulai menjulang tinggi. Trek trek trek, api itu melahap habis dan hanya menyisakan hitam. Bagaimana aku mencari uang tanpa pohon kopi.

Aku melamun. Sudah, sudah, Aku tak mau berlarut larut dalam tragedi itu. Lebih baik cepat ku petik buah kopi yang sudah merah ini. Lumayan meski cuma dapat sekaleng kecil setiap minggu.

Aku kembali dari kebun dan duduk di teras rumahku. Ku letakkan kaleng berisi buah kopi yang kupetik hari ini.

“Cantik ya Bang, warnanya merah segar dan hmm.. manis juga ternyata” kata Fadhilah mengambil kopi dan menggigitnya.

Kutatap lembut Fadhilah. Lalu dengan nada serius kukatakan,

“Iya manis sekali, persis seperti wajahmu Fadhilah”

“Ah, macam mana abang ini. Masak Aku disamakan dengan kopi. Wajahku sudah mulai keriput bang” Fadhilah tersipu malu. Ia sesekali mengusap matanya.

“Bentar bang, Aku lagi masak air” Wanita paruh baya ini buru-buru pamit pulang kerumah.

Aku amati ia yang berjalan cepat sampai masuk pintu rumahnya.Batinku, jangan-jangan Fadhilah jatuh cinta kepadaku? Akhir-akhir ini ia begitu perhatian. Beberapa kali aku dikasih masakannya. Sudah 5 tahun ia menjadi janda, tapi bersyukur anak tunggalnya mampu menghidupinya.

Tak lama kemudian Fadhilah kembali dari rumahnya. Kali ini ia bertanya serius, ia mengamatiku setiap hari yang mengumpulkan sedikit demi sedikit biji kopi.

“Ya gimana lagi Fad. Ini kopi jumlahnya tak seberapa, cuma sekaleng buah kopi dalam seminggu. Tak cukup sebulan untuk mengumpulkan sekilo biji kopi kering. Apalagi setiap hari kopi juga aku minum. Mau tak mau Aku harus belajar pengolahan sendiri kan?”

*7 kg buah kopi merah (red cherry) dapat menghasilkan kopi beras (greenbean) 1 kg setelah melalui proses pengolahan lepas panen.

Buah kopi ini Aku kupas kulit luarnya secara manual dengan kayu, lalu gabah ku diamkan seharian. Barulah Aku cuci lalu jemur di depan rumah setiap hari hingga kandungan airnya cukup.

“Sekarang sudah ada berapa kg bang?”

“Entah Fad. Aku simpan satu kaleng penuh, ya mungkin sekitar 2 kg Fad. Itu tabunganku yang ku kumpulkan setahun ini”

*Kopi beras berwarna kehijauan dengan kadar air kisaran 13% dan dapat bertahan selama bertahun-tahun dengan penyimpanan yang baik.

Ku bilang pada Fad kalau besuk mau aku jual kopi ini ke kota, Redelong.

“Sudah ada kawan yang mau beli kopi abang ini?

“Tak ada kawan yang mau beli kopi cuma sekilo Fad. Mau buat apa? Mereka sudah punya banyak kopi dari Gayo”

“Terus mau di jual kemana bang?”

“Kemarin aku lihat acara di televisi, sekarang ada banyak kedai-kedai kopi kota. Nah, kalau aku tawarkan kesana pasti mau beli kopi ku ini. Iya kan Fad?”
Bola matanya ke atas dan dahinya mengerut. Fadhilah berfikir.

“Betul juga bang. Kedai kopi pasti butuh kopi”

“Ya iya lah Fad, namanya juga kedai kopi, butuhnya kopi, bukan jagung” Haha, Fadhilah tertawa menepuk lenganku.

***

Hari ini aku akan pergi ke kota. Sepertinya cuaca mendukung. Setelah sarapan dan ngopi tubruk, aku pun lekas berangkat, mendahului sang surya yang belum bangun. Kubawa bekal kopi beras (sebutan untuk greenbean) sekaleng, sebungkus nasi sayur dan sebotol air putih. Aku juga bawa sarung sebagai jaketku.

Sudah 6 bulan aku tak menyentuh uang. Pun hari ini, seribu juga tak punya. Tapi Aku tak mau menyusahkan tetanggaku, lebih baik aku berjalan kaki saja. Sepertinya kaki ku masih kuat untuk turun dan naik kembali ke bukit ini. Dengan penuh percaya diri, aku pun mulai melangkah. Sepertinya dingin pagi kalah dengan darahku yang mulai menghangat. Sarung aku copot, lalu kugunakan sebagai tas cangklong , membungkus kopi ini.

Jalan tanah bebatuan ini aku turuni dengan santai. Beberapa kali aku istirahat, duduk mengambil nafas dan meluruskan kakiku yang mulai kaku berotot. 5 jam kemudian Aku sampai di Kota, Redelong. Tepat berdiri di simpang tiga Redelong aku melihat sebuah kedai kopi. Aku pun menghampiri.

“Tok tok tok, permisi nak. Apa disini ada mesin kopi?”

“Tidak ada pak. Disini cuma pakai kopi sachet, langsung seduh”

“Oh ya sudah nak, terimakasih”

Aku berjalan lagi menyusuri jalan aspal ini. Masuk ke kedai selanjutnya.

“Ada mesin kopi nak?”

“Tak ada”

“Tak ada”

“Tak ada”

Aku duduk di samping toko yang tutup ini. Entah toko apa ini? Sepertinya toko handphone. Aku pun makan siang sebentar lalu berjalan lagi mendatangi kedai kedai lainnya. Ternyata sang surya sudah diatas kepalaku. Aku pun Sholat Dhuhur di Masjid itu.
Di teras Masjid, usai Sholat, seorang jamaah Masjid bertanya kepadaku.

“Mau kemana bapak?”

“Mau ke kedai kopi nak”

“Itu kan kedai kopi pak”

“Kopi nya enak. Bener, coba saja pak. Saya mau kerja lagi pak” kata seorang pria berpakaian rapi itu. Kami bersalaman, lalu ia pergi menggunakan sepeda motornya dan aku masuk ke kedai tersebut.

“Assalamualaikum nak”

“Walaikumsalam”

“Ada mesin kopi nak?”

“Mesin kopi? Mesin roasting maksud bapak?”

“Hmm… “

“Ini mesin roasting yang saya punya pak”

“Bukan nak,bukan, kalau itu mesin buat sangrai kopi beras kan?”

“Iya betul bapak”

“Bukan itu nak. Maksudnya mesin kopi untuk buat kopi yang langsung jadi. Kopinya hitam pekat, keluar busanya coklat kekuningan itu”

“Oh.. Mesin Espresso maksud bapak? Iya, iya ada. Mau minum espresso? Silahkan duduk pak saya buatkan sebentar”

Tak lama kemudian secangkir espresso sudah jadi. Berisi 30 ml dengan crema yang halus.

“Seperti ini toh rasanya. Benar-benar nikmat sekali nak. Rasanya ningrat dan bangsawan. Ini kopi paling nikmat yang pernah Aku minum. Pantas kopi ini sampai masuk tv”

Setelah srutupan pertama.

“Nak, bolehkah aku bayar dengan kopiku ini? Ini hasil dari kebun sendiri”

“Coba saya lihat pak. Berapa pak harganya?”

“Tidak aku jual nak. Kopi beras ini untuk membayar secangkir kopi yang nikmat ini”

“Begini saja pak. Greenbean (kopi beras) Arabica ini saya beli 150 ribu. Nah, bapak tinggal bayar secangkir espresso yang harganya 30 ribu. Jadi bapak dapat uang 120 ribu”

“Tidak perlu nak”

“Kenapa begitu pak”

“Nak, Aku sudah terbiasa hidup tanpa uang”

***

Dan beliau pun mulai cerita tentang kesehariannya itu sampai bagaimana ia sampai datang kesini. Seperti itulah cerita tentang kopi dari Bener Meriah yang kalian minum ini, yang saya dapat dari orang tua bernama Tengku Ali Imron. Kepada para pelanggan Saya menceritakannya sembari meracik “Si Hitam Layar Kaca”, Espresso Single Origin from Bener Meriah, Aceh Gayo.

Kuceritakan kembali.

“Menjelang sore itu, saat secangkir espresso nya habis, Beliau Saya bungkuskan Nasi Ayam dan sebotol air mineral untuk perjalanannya pulang ke rumah”

Tiga bulan kemudian Saya pergi ke Bener Meriah, menghadiri pernikahan Ali Imron dengan Fadhilah. Sejak saat itu mereka membangun rumah tangga dengan bahagia dan sederhana. Ali masih seperti sebelumnya, berkebun untuk memetik bahan baku masakan dan Fadhilah mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Lima Tahun kemudian Saya pun masih berhubungan baik dengan beliau. Malah kami menjadi semakin akrab karena sering bertemu. Saya tak punya kepentingan bisnis dan sepasang suami istri ini juga masih kekeh pada pendiriannya, tak mau menerima uang.

Setiap hari minggu Saya datang kerumah Tengku, mengambil greenbean hasil dari kebunnya itu. Masih sama seperti pertama kali Kita bertemu, Kopi dari kebunnya itu hanya mau dibayar dengan secangkir espresso yang saya buatkan dengan Handpresso ini. Hasil Kopi dari kebun beliau itu saya lelang di Eropa, meski jumlahnya tidak banyak, tapi harga jualnya mencapai 76 US Dollar /kg, atau setara dengan satu juta rupiah. 70% dari hasil penjualan tersebut saya sumbangkan ke panti asuhan, sesuai amanat dari beliau.

***

MyCupOfStory - Si Hitam Layar Kaca - Dicko Purnomo
Ali Imron (55), Takengon. Saat sedang menikmati secangkir espresso di Sintep Kupie

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com


*Ide cerita terinspirasi dari kisah nyata bapak Ali Imron, dan Aoda Saifuddin di Takengon, Aceh. Kemudian saya kembangkan menjadi cerita pendek bergenre fiksi. Semoga pembaca dapat memetik banyak hikmah dari cerita ini.

Silahkan share jika bermanfaat, salam ngopi 🙂

Magelang, 21 Agustus 2016
FB: Dicko Purnomo