​MENCARI DALAM PENCARIAN

(Foto:
Andrea Safa Sabrina)

Hai saudaraku. Kenapa kau berhenti dengan mencintai satu karya? Kenapa kau batasi dirimu dengan dinding dinding besimu. Kau biarkan akar akar pohon yang kau sirami menjerat kakimu sendiri hingga jiwamu pun ikut terpenjara. Tak ingin kah kau bisa berjalan saudaraku? 

Bagaimana mungkin kau bisa berhenti mencintai? Jika ia yang kau cintai tak pernah puas dengan karyanya sendiri. 

Bagaimana mungkin kau bisa menikmati? Jika nikmat yang ia beri membuatmu terpaku semakin dalam, terinjak, namun kau berterimakasih. 

Hai saudaraku. Karya adalah hujan, airnya adalah cintamu. Karya adalah ombak, gelombangnya adalah cintamu. Karya adalah malam, kegelapan adalah cintamu. 

Hai saudaraku. Bangkitlah! Besarkan hatimu. Cintai sebanyak banyaknya karya lain dengan terus terus dan terus. Bahkan jika esok kau tinggalkan dirimu, kau pun harus terus mencari, karena cintamu adalah mencari dalam pencarian. 

Oktober 2016 

Ketelanjangan Cinta 

TelanjangKita semua mendambakan keterbukaan, kita sudah bosan kemunafikan dalam semua hal. Makanya media media yg membuka rahasia rahasia akan laku keras. 

Persis saat saya membuka sebuah peristiwa gaib di tahun 2011 lalu. Makhluk gendheng bernama babi ngepet di sebuah daerah yang tidak bisa saya sebutkan disini. Makhluk Tuhan yg tersesat karena ketidaktahuannya. Semua hal bagi saya itu gaib. Analoginya seperti ketika saya tidak tau brp jumlah like yg ada di postingan ini nantinya. Saya benar benar tidak tau, itu lah gaib. Sesuatu yg tidak bisa saya ketahui pasti. 

Hampir 2 minggu berita gaib itu saya tulis sejujur-jujurnya, setelanjang mungkin. Media laku keras, semua orang menanti tulisan dan foto foto saya. Media mana yang mau menampung hal gaib seperti ini? Beruntung media saya saat itu mau menampungnya tanpa edit sedikitpun tulisan saya. Masyarakat umum tidak akan tau siapa saya. Bahkan warga di daerah itu tidak bisa tau bahwa saya juga menjadi gaib. Hanya orang orang tertentu yg boleh “melihat” siapa saya. Banyak hal hal terbuka yg hanya diketahui segelintir orang dari peristiwa itu. 

Lantas tidak menjadikan saya sombong. Justru Saya menjadi faham, karena ternyata tidak mungkin semua hal bisa tertuliskan utuh, lengkap 100% dengan berita, dengan kata kata dan foto. Seperti saat kita bersatu (berpelukan), itu tidak benar benar menyatu bukan? Hanya kurang dari 30% kulit kita saja yg menempel. Lalu rambut, daging, otot tulang, apa juga menyatu? Karena itu bagian tubuh kita. Seperti juga video yg diberitakan, pasti ada nuansa nuansa yg tidak bisa terberitakan sebagaimana jujurnya. Saya sadar, bahwa tidak ada hal yg bisa utuh menyatu kecuali dengan “ketelanjangan cinta”. 

Cerpen #MyCupsOfStory: Si Hitam Layar Kaca

mycupofstory-poster-759x500
nulisbuku.com

Bener Meriah.

Aku hidup sebatang kara dan tinggal jauh dari keramaian kota. Bersyukur Aku masih punya sehektar tanah dan rumah kayu sederhana ini.

Sudah 40 hari ini Aku lebih sering main ke rumah tetangga untuk sekedar bersosialisasi atau menonton acara televisi daripada di rumah. Jujur, Aku takut kesepian. Rasanya kemarin siang aku memeluk istriku di dapur yang lagi masak Sayur Lodeh Labu Siam kesukaanku. Tengku adalah panggilan sayang untuk suami.

“Iya sabar tengku, bentar lagi juga matang” katanya saat mulai kugoda. Kurengkuh ia dari belakang dan kugigit-gigit rambutnya ikal panjang dengan bibirku, aku pikir itu mie.

Aku kangen kebersamaan 30 tahun dengannya. Ia yang selalu sabar dan rajin mengerjakan pekerjaan rumah.

Lalu Ku temani anak angkatku sampai ia terlelap. Usia 7 tahun adalah masa-masa menyenangkan. Andai takdir Tuhan berkehendak lain, pasti bisa ku ulangi lagi hari-hari seperti itu.

Aku angkat tabunganku yang terbuat dari bambu itu, semakin ringan saja. Padahal hanya untuk mengisi perutku 2x setiap hari. Aku pikir benar kata Fadhilah, tetanggaku.

“Bang, usia Bang Ali sudah 60 tahun kan? Mana ada orang mau pakai tenaga abang?”

Ya betul juga.Tulangku yang tadinya “tulang besi” kini sudah menjadi kayu. Ototku melemah. Baru angkat kayu sebentar sudah letih sekali rasanya. Pun pikiranku, sering kali Aku lupa menaruh barangku sendiri. Sementara tenaga tukang kayu yang masih muda banyak sekali di desa ini.

Tapi aku bersyukur punya tetangga yang baik seperti Fadhilah. Atas bantuan mereka, akhirnya sekarang Aku sudah bisa mandiri. Mulailah ku tanam beberapa rempah-rempah, sayuran, buah-buahan dan bebebapa pohon kopi di belakang rumah secara tumpang sari. Ya meski tak banyak jumlahnya, tak ada sisa untuk dijual, setidaknya setiap hari Aku bisa masak sendiri tanpa mengeluarkan uang, tanpa merusuhi tetanggaku. Terpenting hari ini bisa cukup makan dan ngopi. Sudah, itu aja. Aku sudah bersyukur.

Malam-malam ku begitu gelap. Tak ada lampu, tak ada aliran listrik, karena sudah dicabut oleh PLN karena 2 bulan tidak membayar. Tak apa, Aku mulai terbiasa dengan gelap. Mataku lebih peka menangkap warna dan bentuk dalam kegelapan.
Bersyukur air sumurku di belakang rumah melimpah ruah. Tak akan habis meski digunakan oleh satu desa sekalipun.

***

Takengon. 13 km dari Bener Meriah.

Jam 5 pagi, sebuah kedai kopi kecil yang berada disamping Masjid itu telah dibuka. Usai melaksanakan ibadah Sholat subuh, biasanya warga sekitar ngopi pagi di kedai dan sarapan, sebelum memulai aktivitas.

Namanya Bang Aoda, 30 tahun. Ia pemilik “Kedai Kupie”, satu-satunya kedai di Takengon yang hanya menyajikan “air hitam” dan “air putih” dalam daftar menu minumannya.

“Ada kopi apa hari ini bang Aoda?” Tanya seorang pelanggan yang memakai peci itu.

“Ini ada beberapa Kopi Arabica dari Takengon, Gayo Lues, Lintong, Bluebatak Samosir, Kerinci, Java Sunda, Wonosobo, Ijen, Bali Sepang, Kintamani, dan Toraja Sapan”

“Roasting kapan nih bang Aoda?”

“Sebagian Minggu lalu roastingnya, ndak ada kopi yang terlalu lama disini. Alhamdulillah, biasanya seminggu sudah habis” Menurut Aoda, aroma dan rasa biji kopi akan maksimal di hari ke 7-10 setelah proses roasting. Istilahnya ‘resting time’, atau masa istirahat biji kopi usai tahap roasting, guna mengeluarkan unsur gas karbon dan merubah beberapa unsure lain yang terkandung dalam biji kopi sangrai (roastbean).

“Ku cium aromanya enak semua nih bang. Wah wah, emang jago roasting bang Aoda ini” Pria asli Tanah Rencong ini tersenyum lebar dan mengacungkan dua jempol tangannya.

***

Paris

Sudah 10 tahun lamanya Aoda menekuni dunia “hitam” ini. Tepatnya berfokus pada proses roasting. Bukan main-main perihal memaksimalkan biji kopi. Skill roasting Aoda begitu mumpuni. Ia pernah dinobatkan sebagai The Best Specialty Roaster of The Year di Paris, menggunakan mesin roasting buatan John, kawannya di Jakarta.

Keberhasilan Aoda tidak ajaib begitu saja. Setiap hari ia melatih indra penciumannya agar lebih peka. Mengenali satu jenis biji kopi satu persatu untuk menemukan dan menentukan pola roasting. Karna baginya, roasting bukan sekedar memanggang biji seperti kacang tanah. Temperatur, putaran drum, aliran udara lubang untuk melihat sample itu sangat penting. Maka dari itu dibutuhkan mesin roasting berteknologi modern yang mendukung. Ia pun memilih berhenti merokok tembakau dan menghindari masakan pedas.

Kompetisi roasters di Paris itu merupakan pengalaman Aoda pertama kalinya. Selain mendapat sertifikat, dan uang senilai 7000 US Dollar, ia juga direkrut oleh sebuah perusahaan mesin roasting ternama di Paris. Namun para Juri kebingungan, ia sebagai pemenang malah justru menolak tawaran tersebut.

“Thanks, I just want to know my roast skill”

***

Bener Meriah.

Dataran tinggi Gayo memang salah satu penghasil kopi terbaik dan jumlahnya pun tak sedikit. Di desaku saja 90% warga menamam kopi jenis Arabica. Aku salah satunya. Dengan menanam kopi, maka kebutuhan keluarga akan lebih kecukupan, karna kopi ini di ekspor ke Amerika dengan harga yang lebih tinggi. Biasanya, setelah Aku dan para petani lain memetik buah kopi merah, langsung Kita setorkan ke koperasi untuk di proses lepas panen selama dua hingga empat minggu. Barulah mereka (koperasi) mengekspor ke Amerika dan Eropa.

Sebagai petani aku percaya dengan koperasi. Soal budidaya kopi, aku juga cukup berpengalaman. Namun ada satu hal yang membekas, saat tragedi itu menimpaku. Kebun kopi mulikku ini terserang hama penyakit yang mengerikan. Menggerogoti satu pohon lalu menyebar ke pohon lainnya. Aku ingat betul penjelasan dari peneliti dari Jawa itu.

“Begini Bang Ali, Setelah Kita ambil sample dan Kita teliti, ternyata varietas pohon kopi milik bapak ini tidak cocok jika ditanam disini. Meski kualitasnya lebih baik dari varietas lainnya, tapi jenis ini mudah terserang hama”

“Terus bagaimana pak? Apa tidak bisa diobati?”

“Sebaiknya Bang Ali segera memangkas seluruh pohon kopi ini dan membakarnya, sebelum wabah melebar ke kebun sekitar”

Setelah ku pikir-pikir semalaman, keesokan harinya Aku dibantu Pak Kades dan beberapa tetanggaku membasmi wabah ini. Tok tok tok, satu per-satu batang pohon dipangkas, tanpa menyisakan akar di dalam tanah.

“Sabar ya bang Ali. Percaya, rejeki tidak akan kemana-mana dan bahagia bukan dari uang” kata Fadhilah saat api itu mulai menjulang tinggi. Trek trek trek, api itu melahap habis dan hanya menyisakan hitam. Bagaimana aku mencari uang tanpa pohon kopi.

Aku melamun. Sudah, sudah, Aku tak mau berlarut larut dalam tragedi itu. Lebih baik cepat ku petik buah kopi yang sudah merah ini. Lumayan meski cuma dapat sekaleng kecil setiap minggu.

Aku kembali dari kebun dan duduk di teras rumahku. Ku letakkan kaleng berisi buah kopi yang kupetik hari ini.

“Cantik ya Bang, warnanya merah segar dan hmm.. manis juga ternyata” kata Fadhilah mengambil kopi dan menggigitnya.

Kutatap lembut Fadhilah. Lalu dengan nada serius kukatakan,

“Iya manis sekali, persis seperti wajahmu Fadhilah”

“Ah, macam mana abang ini. Masak Aku disamakan dengan kopi. Wajahku sudah mulai keriput bang” Fadhilah tersipu malu. Ia sesekali mengusap matanya.

“Bentar bang, Aku lagi masak air” Wanita paruh baya ini buru-buru pamit pulang kerumah.

Aku amati ia yang berjalan cepat sampai masuk pintu rumahnya.Batinku, jangan-jangan Fadhilah jatuh cinta kepadaku? Akhir-akhir ini ia begitu perhatian. Beberapa kali aku dikasih masakannya. Sudah 5 tahun ia menjadi janda, tapi bersyukur anak tunggalnya mampu menghidupinya.

Tak lama kemudian Fadhilah kembali dari rumahnya. Kali ini ia bertanya serius, ia mengamatiku setiap hari yang mengumpulkan sedikit demi sedikit biji kopi.

“Ya gimana lagi Fad. Ini kopi jumlahnya tak seberapa, cuma sekaleng buah kopi dalam seminggu. Tak cukup sebulan untuk mengumpulkan sekilo biji kopi kering. Apalagi setiap hari kopi juga aku minum. Mau tak mau Aku harus belajar pengolahan sendiri kan?”

*7 kg buah kopi merah (red cherry) dapat menghasilkan kopi beras (greenbean) 1 kg setelah melalui proses pengolahan lepas panen.

Buah kopi ini Aku kupas kulit luarnya secara manual dengan kayu, lalu gabah ku diamkan seharian. Barulah Aku cuci lalu jemur di depan rumah setiap hari hingga kandungan airnya cukup.

“Sekarang sudah ada berapa kg bang?”

“Entah Fad. Aku simpan satu kaleng penuh, ya mungkin sekitar 2 kg Fad. Itu tabunganku yang ku kumpulkan setahun ini”

*Kopi beras berwarna kehijauan dengan kadar air kisaran 13% dan dapat bertahan selama bertahun-tahun dengan penyimpanan yang baik.

Ku bilang pada Fad kalau besuk mau aku jual kopi ini ke kota, Redelong.

“Sudah ada kawan yang mau beli kopi abang ini?

“Tak ada kawan yang mau beli kopi cuma sekilo Fad. Mau buat apa? Mereka sudah punya banyak kopi dari Gayo”

“Terus mau di jual kemana bang?”

“Kemarin aku lihat acara di televisi, sekarang ada banyak kedai-kedai kopi kota. Nah, kalau aku tawarkan kesana pasti mau beli kopi ku ini. Iya kan Fad?”
Bola matanya ke atas dan dahinya mengerut. Fadhilah berfikir.

“Betul juga bang. Kedai kopi pasti butuh kopi”

“Ya iya lah Fad, namanya juga kedai kopi, butuhnya kopi, bukan jagung” Haha, Fadhilah tertawa menepuk lenganku.

***

Hari ini aku akan pergi ke kota. Sepertinya cuaca mendukung. Setelah sarapan dan ngopi tubruk, aku pun lekas berangkat, mendahului sang surya yang belum bangun. Kubawa bekal kopi beras (sebutan untuk greenbean) sekaleng, sebungkus nasi sayur dan sebotol air putih. Aku juga bawa sarung sebagai jaketku.

Sudah 6 bulan aku tak menyentuh uang. Pun hari ini, seribu juga tak punya. Tapi Aku tak mau menyusahkan tetanggaku, lebih baik aku berjalan kaki saja. Sepertinya kaki ku masih kuat untuk turun dan naik kembali ke bukit ini. Dengan penuh percaya diri, aku pun mulai melangkah. Sepertinya dingin pagi kalah dengan darahku yang mulai menghangat. Sarung aku copot, lalu kugunakan sebagai tas cangklong , membungkus kopi ini.

Jalan tanah bebatuan ini aku turuni dengan santai. Beberapa kali aku istirahat, duduk mengambil nafas dan meluruskan kakiku yang mulai kaku berotot. 5 jam kemudian Aku sampai di Kota, Redelong. Tepat berdiri di simpang tiga Redelong aku melihat sebuah kedai kopi. Aku pun menghampiri.

“Tok tok tok, permisi nak. Apa disini ada mesin kopi?”

“Tidak ada pak. Disini cuma pakai kopi sachet, langsung seduh”

“Oh ya sudah nak, terimakasih”

Aku berjalan lagi menyusuri jalan aspal ini. Masuk ke kedai selanjutnya.

“Ada mesin kopi nak?”

“Tak ada”

“Tak ada”

“Tak ada”

Aku duduk di samping toko yang tutup ini. Entah toko apa ini? Sepertinya toko handphone. Aku pun makan siang sebentar lalu berjalan lagi mendatangi kedai kedai lainnya. Ternyata sang surya sudah diatas kepalaku. Aku pun Sholat Dhuhur di Masjid itu.
Di teras Masjid, usai Sholat, seorang jamaah Masjid bertanya kepadaku.

“Mau kemana bapak?”

“Mau ke kedai kopi nak”

“Itu kan kedai kopi pak”

“Kopi nya enak. Bener, coba saja pak. Saya mau kerja lagi pak” kata seorang pria berpakaian rapi itu. Kami bersalaman, lalu ia pergi menggunakan sepeda motornya dan aku masuk ke kedai tersebut.

“Assalamualaikum nak”

“Walaikumsalam”

“Ada mesin kopi nak?”

“Mesin kopi? Mesin roasting maksud bapak?”

“Hmm… “

“Ini mesin roasting yang saya punya pak”

“Bukan nak,bukan, kalau itu mesin buat sangrai kopi beras kan?”

“Iya betul bapak”

“Bukan itu nak. Maksudnya mesin kopi untuk buat kopi yang langsung jadi. Kopinya hitam pekat, keluar busanya coklat kekuningan itu”

“Oh.. Mesin Espresso maksud bapak? Iya, iya ada. Mau minum espresso? Silahkan duduk pak saya buatkan sebentar”

Tak lama kemudian secangkir espresso sudah jadi. Berisi 30 ml dengan crema yang halus.

“Seperti ini toh rasanya. Benar-benar nikmat sekali nak. Rasanya ningrat dan bangsawan. Ini kopi paling nikmat yang pernah Aku minum. Pantas kopi ini sampai masuk tv”

Setelah srutupan pertama.

“Nak, bolehkah aku bayar dengan kopiku ini? Ini hasil dari kebun sendiri”

“Coba saya lihat pak. Berapa pak harganya?”

“Tidak aku jual nak. Kopi beras ini untuk membayar secangkir kopi yang nikmat ini”

“Begini saja pak. Greenbean (kopi beras) Arabica ini saya beli 150 ribu. Nah, bapak tinggal bayar secangkir espresso yang harganya 30 ribu. Jadi bapak dapat uang 120 ribu”

“Tidak perlu nak”

“Kenapa begitu pak”

“Nak, Aku sudah terbiasa hidup tanpa uang”

***

Dan beliau pun mulai cerita tentang kesehariannya itu sampai bagaimana ia sampai datang kesini. Seperti itulah cerita tentang kopi dari Bener Meriah yang kalian minum ini, yang saya dapat dari orang tua bernama Tengku Ali Imron. Kepada para pelanggan Saya menceritakannya sembari meracik “Si Hitam Layar Kaca”, Espresso Single Origin from Bener Meriah, Aceh Gayo.

Kuceritakan kembali.

“Menjelang sore itu, saat secangkir espresso nya habis, Beliau Saya bungkuskan Nasi Ayam dan sebotol air mineral untuk perjalanannya pulang ke rumah”

Tiga bulan kemudian Saya pergi ke Bener Meriah, menghadiri pernikahan Ali Imron dengan Fadhilah. Sejak saat itu mereka membangun rumah tangga dengan bahagia dan sederhana. Ali masih seperti sebelumnya, berkebun untuk memetik bahan baku masakan dan Fadhilah mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Lima Tahun kemudian Saya pun masih berhubungan baik dengan beliau. Malah kami menjadi semakin akrab karena sering bertemu. Saya tak punya kepentingan bisnis dan sepasang suami istri ini juga masih kekeh pada pendiriannya, tak mau menerima uang.

Setiap hari minggu Saya datang kerumah Tengku, mengambil greenbean hasil dari kebunnya itu. Masih sama seperti pertama kali Kita bertemu, Kopi dari kebunnya itu hanya mau dibayar dengan secangkir espresso yang saya buatkan dengan Handpresso ini. Hasil Kopi dari kebun beliau itu saya lelang di Eropa, meski jumlahnya tidak banyak, tapi harga jualnya mencapai 76 US Dollar /kg, atau setara dengan satu juta rupiah. 70% dari hasil penjualan tersebut saya sumbangkan ke panti asuhan, sesuai amanat dari beliau.

***

MyCupOfStory - Si Hitam Layar Kaca - Dicko Purnomo
Ali Imron (55), Takengon. Saat sedang menikmati secangkir espresso di Sintep Kupie

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com


*Ide cerita terinspirasi dari kisah nyata bapak Ali Imron, dan Aoda Saifuddin di Takengon, Aceh. Kemudian saya kembangkan menjadi cerita pendek bergenre fiksi. Semoga pembaca dapat memetik banyak hikmah dari cerita ini.

Silahkan share jika bermanfaat, salam ngopi 🙂

Magelang, 21 Agustus 2016
FB: Dicko Purnomo

Egoisme Melarang Mencintai

image

Jika saya dekat dengan seseorang dan dia tidak bahagia, maka saya akan pergi. Umur 26 tahun, Saya harus dewasa mengambil keputusan. Berani menghapus ekspektasi diri sendiri dan menyadari kenyataan jika “sayalah penghalang kebahagiaan nya”. Toh saya hanya ingin melihat ia bahagia. Toh niat ia juga baik, ingin membahagiakan yang lain, ingin bahagia tanpa saya.

Jatuh hati memang tak pandang bulu. Ia otomatis terjadi dari pemberianNya melalui insting semesta. Entah itu beda usia jauh, pacar orang lain atau bahkan suami orang. Saya pun pernah mengalaminya.

Sangat Egois rasaya, kalau saya melarang seseorang mencintai orang lain dan hanya boleh mencintai saya seorang. Menerima kenyataan ini memang pahit, layaknya kopi robusta yang saya minum sore ini. Tapi yaa gimana lagi, saya telan saja secara gentleman. Bukannya saya laki? Saya suka kopi? Gpp, walaupun saya bisanya menelan pelan-pelan dan teriris sedikit demi sedikit. Daripada saya mengalihannya ke hal hal yang tidak baik, cari pelarian dll yang ujung-ujungnya cuma capek membohongi hati sendiri.

Jalan terbaik memang dengan “totalitas menerima kenyataan kalau dia sudah tidak butuh saya, TIDAK BUTUH SAYA.”

Namun CINTA SAYA melebihi ego. Saya BAHAGIA didalam secuil kesakitan. Saya bahagia melihat dia tersenyum WALAUPUN bukan karena saya.

Semakin saya perlahan mengikis ego, semakin sedikit rasa sakit hati dan sengsara yang saya rasakan.
Saya kini HANYA INGIN yang terbaik untuk siapapun. Saya TIDAK PENTING.

Jika ada yang mau mencintai dan baik kepada saya, ya saya terima. Jika ada yang ingin bersama saya lalu ingin pergi, SAYA BAHAGIA mengantarkan kepergian nya dan mengharapkan yang terbaik untuknya.

Untuk menyemangati diri sendiri. Saya percaya kalau sakit perih ini tidak akan lama terjadi. Saya pernah mengalaminya. Cuma butuh 66 hari untuk menghilangkan kebiasaan lama dengan dia. Artinya saya tinggal setengah jalan lagi. Doakan saya ya teman teman, seperti saya selalu mendoakan dia. Terimakasih Mantan 😁

Mendingin dalam Kesejukan Rasa

image

Kemarin, saat awan-awat putih berganti menjadi awan gelap, pohon-pohon terliat riang gembira menyambutnya. Mengharap air dan udara lekas mendingin dalam kesejukan rasa. Tepat seperti wajah seorang wanita masalalu ku yang saat itu yang selalu “heboh” setiap menyambut kedatanganku.

Sesekali marah boleh kok, tapi jangan larut bersedih. Biar lah kopi saja yang gelap, hatimu jangan. Oh iya, kamu udah ngopi kan? Seduh kopi apa hari ini? Pakai kopi specialty kan? Bukan kopi sachet?

Pernah aku bilang, “Apa yg kita minum (konsumsi untuk tubuh), akan mempengaruhi perilaku kita”. Sebagai contoh kecil dalam dunia perkopian ini. Peminum kopi rakyat/kopi komersial akan bilang “ngopi dulu bos, ndak edan”, ungkapnya sambil motret cangkir & rokok ditangannya. Ya.. nggak salah sih, aku juga dulu mengalaminya.

Sementara peminum kopi specialty seperti kita, punya ungkapan berbeda. Bersyukur, melalui kopi ini Kita bicara proses, seni, rasa syukur dan rasa keingintahuan akan banyak hal apapun yg lebih baik, termasuk perihal asmara Kita. Seperti kataku baru-baru ini, “Baiknya, perbincangan hangat diawali dengan segelas kopi”. Lalu biarkan gelas kedua dan ketiga mendekap erat, menempel tanpa batasan gengsi.

Itu baru kopi, belum minuman lain yg sering kita kosumsi. Hujan pun datang, namun perbincangan tetap menghangat ditemani tetesan akhir kopi sunda gulali sebagai tanda perpisahan. Kita pun pulang menjadi pohon, yang mendingin dalam kesejukan rasa.

Si Montok Menyihirku

Siang ini sangat berbeda dari siang-siang sebelumnya. “Aku Menyiang” alias bangun siang, setelah melewati malam minggu yang panjang.

Bangun tapi belum mau ngapa-ngapain. Tiba-tiba mataku terpesona manja melihat parasmu. Angin lembut pun membujukku, mengirimkan sedikit demi sedikit aroma wangimu. Ah pelit nih angin, kadang tercium jelas, kadang cuma samar-samar. Makin penasaran, tanpa pikir panjang, langsung aja kunikmati kau yang berbodi montok. Ku tak menyangka, goyanganmu justru membuatku tak mampu bergerak, apalagi beranjak. Aku pun nurut, hanya duduk, bersandar dan mencoba rileks dalam diam menikmati moment ini. Tak lama sakit, klimaks pun kau rubah menjadi nikmat. Oh, sepandai ini kah kau memanjakanku? 🙂

Aku pun tersihir, seketika terpikat senyummu. Ada ruang hatiku mampu kau temukan. Meskipun kemarin kau sempat aku lupakan, kini kau sentuh kembali aku dengan caramu. Dengan nostalgia rasa di memoriku.

image

Aku menyebutmu “Si Montok Robusta Gunung Kelir“. Kopi robusta pertama kali yang membuatku kembali jatuh hati. Cinta emang banyak bentuknya. Ia pandai menyentuh ruang di hati. Mengagumkan rasa, cinta dan mata tentang cara melihat dunia, tentang cara memandang dan dipandan, tentang selera dan diselerakan.

Saat Kecocokan Jiwa Kau Iris dengan Selera

kopi arabika

Jika Kau ijinkan Aku menulis kembali cerita bersamamu dengan bahasa sederhana, ingin kukatakan bahwa, (maaf) saat ini Aku sungguh tak mampu berkata terlalu dalam. Karena terlalu banyak cerita yang telah kita lalui bersama. Kau pun tak mau kan jika sedihku ini tak berujung? Biarlah Kita berdua yang tau. Kau tau sendiri, pun pernah melewatinya beberapa bulan lalu. Saat cinta memudar sepihak, saat kecocokan jiwa diiris dengan selera. Dan Juni pun terjadi begitu saja.

Aku tipekal orang yang tidak mampu menuliskan banyak bahagia dalam kata. Ingin kuungkapkan percuma. Buat apa? Agar seluruh dunia bisa tahu, bahwa tidak selamanya sendiri itu beban?

Aku memang telah berdosa mengabaikan mu begitu saja di waktu yang cukup lama. Namun, jangan sekali-kali Kau mengajariku tentang apa itu cinta, jikalau telah ada cinta lain di hatimu. Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti cinta.

Cerita-cerita ku pun sudah kuucap jelas dengan sejujurnya dalam beberapa pertemuan kita, jika aku meninggalkanmu bukan lantaran ada wanita lain di hati ini. Berbeda denganmu yang banyak pria, banyak cerita-cerita yang terus kudengar, kulihat, dan itu bukan lah tentang kita. Apa aku benar-benar meninggalkanmu? Tidak.

Aku tidaklah sepiawai mereka yang memujamu melebihi yang dikodratkanNya. Aku lebih senang diam dan menantimu, sembari bekerja di rumah dengan kegelisahan yang mungkin memuncak bersama rindu yang menghujam. Berbeda denganmu yang “menggila” di luar bersama mereka yang Kau anggap durjana bahagiamu.

Melalui secangkir kopi, sesekali percaya diri datang menghampiriku, membisikkan energi tak kasat mata jikalau ternyata ada rindumu padaku yang sama, memuncak diatas rata-rata. “Radar Neptunus”, begitu kau menyebutnya.

Tak kupungkiri, menantimu ibarat menanti senja. Sama sepertimu yang dulu menanti datangnya senja, menanti sapaan dariku, atau menanti aktifitas baru di BBM sebagai sebuah kode rahasia. Haha.. Senja emang gitu, datangnya sebentar saja, lalu hilang ditelan cakrawala. “Uyu kok hilang?”, tanyamu disertai titik dua kurung buka 😦

Semesta pun tau, kalau senja itu setia, bakal hadir di waktu yang sama dan berulang hingga kiamat tiba. Bukan berarti aku merasa pria paling setia yang bisa merayumu dengan canda tawa dalam kehadiran seperti mereka. Bagiku setia itu keberagaman rasa yang mencandu. Seperti kompleksifitas taste dalam kopi yang kita sesap dan kita hirup flavor-nya lagi lagi dan lagi hingga mendapatkan kepuasan batin. Berharap menemukan rindu yang terbalaskan di waktu yang semestinya, ketika takdir kita dipertemukan olehNya.

Waktu memang begitu piawai memainkan rasa yang kini terlalu berjarak. Ada gengsi, bahkan cemburu yang terkadang masih membabi buta dikala rindu kembali hadir. “Kesetanan”, begitu aku menyebutnya. Saat kita mempersalahkan segalanya, termasuk kata yang kadang tak sesuai dengan apa yang akan kita utarakan. Kasar, beringas dan tak berpendidikan. Terlalu miris dan tak sanggup lagi menghadapi belati yang selalu saja menusuk hingga merobek hati yang tipis ini.

Baiknya, kata maaf selalu saja tergantikan dengan sikap kesadaran, naluri kasih sayang. Radarmu memang selalu saja memasuki radarku ketika ku memilih mundur dan tak ingin kuulangi semua tentang kita. Cerita bersamamu terlalu besar dan terlalu dalam untuk kucoba lupakan semuanya, itu tak mungkin! Walau terkadang ego melebihi rasa yang semestinya tertahan dan tak memuncak sesuai inginnya. Aku tak pandai bicara, namun inginku menantimu begitu besar dari apa yang kau perkirakan. Terlalu banyak cerita bersamamu, dan tak bisa kuungkap semua lewat kata.

Moment terbaik bersamamu bukan lah saat kita mengukir dosa, melainkan saat kita duduk manis memandang ombak dan saling bertatap mata dengan secangkir kopi dan teh tawar sebagai awal komunikasi kita.

Namun kini berbeda. Aku pun mengirisnya, dan kini cerita ini kau yang pegang. Karna Aku telah memberikan padamu beberapa minggu yang lalu, tepat diujung kesedihanku. Kini Kau lah yang akan membawa cerita-cerita kita selanjutnya.