Egoisme Melarang Mencintai

image

Jika saya dekat dengan seseorang dan dia tidak bahagia, maka saya akan pergi. Umur 26 tahun, Saya harus dewasa mengambil keputusan. Berani menghapus ekspektasi diri sendiri dan menyadari kenyataan jika “sayalah penghalang kebahagiaan nya”. Toh saya hanya ingin melihat ia bahagia. Toh niat ia juga baik, ingin membahagiakan yang lain, ingin bahagia tanpa saya.

Jatuh hati memang tak pandang bulu. Ia otomatis terjadi dari pemberianNya melalui insting semesta. Entah itu beda usia jauh, pacar orang lain atau bahkan suami orang. Saya pun pernah mengalaminya.

Sangat Egois rasaya, kalau saya melarang seseorang mencintai orang lain dan hanya boleh mencintai saya seorang. Menerima kenyataan ini memang pahit, layaknya kopi robusta yang saya minum sore ini. Tapi yaa gimana lagi, saya telan saja secara gentleman. Bukannya saya laki? Saya suka kopi? Gpp, walaupun saya bisanya menelan pelan-pelan dan teriris sedikit demi sedikit. Daripada saya mengalihannya ke hal hal yang tidak baik, cari pelarian dll yang ujung-ujungnya cuma capek membohongi hati sendiri.

Jalan terbaik memang dengan “totalitas menerima kenyataan kalau dia sudah tidak butuh saya, TIDAK BUTUH SAYA.”

Namun CINTA SAYA melebihi ego. Saya BAHAGIA didalam secuil kesakitan. Saya bahagia melihat dia tersenyum WALAUPUN bukan karena saya.

Semakin saya perlahan mengikis ego, semakin sedikit rasa sakit hati dan sengsara yang saya rasakan.
Saya kini HANYA INGIN yang terbaik untuk siapapun. Saya TIDAK PENTING.

Jika ada yang mau mencintai dan baik kepada saya, ya saya terima. Jika ada yang ingin bersama saya lalu ingin pergi, SAYA BAHAGIA mengantarkan kepergian nya dan mengharapkan yang terbaik untuknya.

Untuk menyemangati diri sendiri. Saya percaya kalau sakit perih ini tidak akan lama terjadi. Saya pernah mengalaminya. Cuma butuh 66 hari untuk menghilangkan kebiasaan lama dengan dia. Artinya saya tinggal setengah jalan lagi. Doakan saya ya teman teman, seperti saya selalu mendoakan dia. Terimakasih Mantan 😁

Iklan

Mendingin dalam Kesejukan Rasa

image

Kemarin, saat awan-awat putih berganti menjadi awan gelap, pohon-pohon terliat riang gembira menyambutnya. Mengharap air dan udara lekas mendingin dalam kesejukan rasa. Tepat seperti wajah seorang wanita masalalu ku yang saat itu yang selalu “heboh” setiap menyambut kedatanganku.

Sesekali marah boleh kok, tapi jangan larut bersedih. Biar lah kopi saja yang gelap, hatimu jangan. Oh iya, kamu udah ngopi kan? Seduh kopi apa hari ini? Pakai kopi specialty kan? Bukan kopi sachet?

Pernah aku bilang, “Apa yg kita minum (konsumsi untuk tubuh), akan mempengaruhi perilaku kita”. Sebagai contoh kecil dalam dunia perkopian ini. Peminum kopi rakyat/kopi komersial akan bilang “ngopi dulu bos, ndak edan”, ungkapnya sambil motret cangkir & rokok ditangannya. Ya.. nggak salah sih, aku juga dulu mengalaminya.

Sementara peminum kopi specialty seperti kita, punya ungkapan berbeda. Bersyukur, melalui kopi ini Kita bicara proses, seni, rasa syukur dan rasa keingintahuan akan banyak hal apapun yg lebih baik, termasuk perihal asmara Kita. Seperti kataku baru-baru ini, “Baiknya, perbincangan hangat diawali dengan segelas kopi”. Lalu biarkan gelas kedua dan ketiga mendekap erat, menempel tanpa batasan gengsi.

Itu baru kopi, belum minuman lain yg sering kita kosumsi. Hujan pun datang, namun perbincangan tetap menghangat ditemani tetesan akhir kopi sunda gulali sebagai tanda perpisahan. Kita pun pulang menjadi pohon, yang mendingin dalam kesejukan rasa.

Si Montok Menyihirku

Siang ini sangat berbeda dari siang-siang sebelumnya. “Aku Menyiang” alias bangun siang, setelah melewati malam minggu yang panjang.

Bangun tapi belum mau ngapa-ngapain. Tiba-tiba mataku terpesona manja melihat parasmu. Angin lembut pun membujukku, mengirimkan sedikit demi sedikit aroma wangimu. Ah pelit nih angin, kadang tercium jelas, kadang cuma samar-samar. Makin penasaran, tanpa pikir panjang, langsung aja kunikmati kau yang berbodi montok. Ku tak menyangka, goyanganmu justru membuatku tak mampu bergerak, apalagi beranjak. Aku pun nurut, hanya duduk, bersandar dan mencoba rileks dalam diam menikmati moment ini. Tak lama sakit, klimaks pun kau rubah menjadi nikmat. Oh, sepandai ini kah kau memanjakanku? 🙂

Aku pun tersihir, seketika terpikat senyummu. Ada ruang hatiku mampu kau temukan. Meskipun kemarin kau sempat aku lupakan, kini kau sentuh kembali aku dengan caramu. Dengan nostalgia rasa di memoriku.

image

Aku menyebutmu “Si Montok Robusta Gunung Kelir“. Kopi robusta pertama kali yang membuatku kembali jatuh hati. Cinta emang banyak bentuknya. Ia pandai menyentuh ruang di hati. Mengagumkan rasa, cinta dan mata tentang cara melihat dunia, tentang cara memandang dan dipandan, tentang selera dan diselerakan.