Mie instan Indonesia Membahayakan Mie Instan Dunia

Mie instan
Mie instan luar negeri

Bahaya mie instan itu saking bahayanya mie ini karena ada disetiap warung warung dan rumah rumah dimana mana. Gak cuma di indonesia, tapi juga ada di puluhan negara. Wah, bahaya nih. 

​Saking cintanya negara lain seperti cina, korea, japan, nigeria, arab dll dengan mie instan produksi indonesia, warga mereka mengangap mie itu produksi negaranya sendiri. Nek gak percoyo, yo jal takon dewe 😝 

Serius ini, saking (sangat) bahayanya, karena saking doyannya warga mereka, saking nempelnya dilidah mereka, saking enaknya mie ini di warga mereka hingga membumi. 

Namun ada yang disembunyikan media asing. Bahwa rahasia mie instan indonesia adalah menggunakan minyak kelapa sawit sebagai campuran. Sementara mereka tidak. Ra ono klopo sawit dab, mereka tidak punya perkebunan kelapa sawit seperti kita. Hanya ada di daerah tropis saja. 

Penguasa Kelapa sawit dunia itu ya kita, indonesia. Lebih dari 90% produk di supermarket kita itu pakai campuran minyak kelapa sawit. Sampai sampai sabun, detergen dan shampo yang murah murah itu pun pakai minyak kelapa sawit dengan olahan khusus biar awet. Memang sangat murah, karena indonesia sangat kaya. 

Minyak ini membuat awet tapi bukan pengawet kimia buatan, awet tapi tidak bahaya. Ini pengawet alami dan juga dapat meningkatkan teksture dan rasa dalam mie instan.

Bahaya mie instan
Mie instan dan kopi

20% dari berat mie instan kita adalah minyak kelapa sawit. Membuat mie jadi bisa awet lama, enak plus harganya murah banget.

Lha kok kamu malah anti mie instan indonesia, malah milih mie mie dari luar negeri yang kau cintai dengan harga harga yg mahal itu 

Denger denger ada “bahaya mie instan” untuk kesehatan. Yayaya, isu kesehatan memang strategi bisnis yang genius setelah isu agama. Kasus ini sama dengan rokok kretek yang mereka tenggelamkan karena produksi tembakau indonesia yang sangat banyak, berkualitas dan murah. Negara negara lain takut, Jangan sampai produk indonesia yang murah dan berkualitas ini menguasai pasar dunia. Karena mereka tidak bisa memproduksi mie dan rokok karena bahan baku yang sangat langka dan maha di negaranya. Bahkan harus susah susah import dari indonesia. 

Kalau saya pribadi, makan mie instan itu seminggu sekali, 2 atau 3 hari sekali saja. Skala itu tidak akan membahayakan kesehatan saya. Asal jangan tiap hari. Kalau saya berlebihan makan mie, biasanya pagi pagi bangun tidur muncul jerawat dimuka atau bahu saya. Itu adalah sebuah tanda kelebihan konsumsi sesuatu. 

Kalau cara berfikirnya sempit ya jadi mie instan memang bahaya. Padahal semua makanan bahaya. Bukan cuma “bahaya mie instan” saja. Semua makanan mengancam, busa membayakan tubuh kita. Makan nasi kalau 10 piring ya bahaya. Minum air putih klo segalon sekaligus ya bahaya 😕 

“Serendah itu kah caramu mencintai?”

“Meninggikan apa yg rendah dan merendahkan apa yg tinggi”

“Tak bangga kah kau dengan apa yang kamu miliki?” 

“Semahal itu kah cintamu kepadaku hingga kini”

Menyambung Hidup dengan Kopi Espresso 5000 rupiah

Kopi espresso
Esspresso from yummy coffee indomaret

Nyambung Urip Limaribu begitu saya menyebutnya. Alias menyambung hidup dengan limaribu rupiah. 
Adalah espresso dari yummy coffee di indomaret. Ini salah satu kopi favorite saya. Terutama kalau listrik dirumah mati atau gas elpiji habis atau stok kopi habis.

Bukan saya marketing perusahaan ini. Memang secara teknis kopi ini terlalu jauh untuk kita sebut espresso, Tapi ada baiknya temen temen pemilik cafe dan kedai belajar mengenal kopi seharga Rp5000 sekali pencet ini sebelum menjual kopi 20.000-30.000 /cup kepada pelanggan. Karena yang mahal adalah baristanya, brewernya, tempatnya, fasilitasnya, pelayanannya, komunikasinya, obrolannya, persaudaraannya. Kalau Kopi tidak pernah mahal. Catet! 

“Kopi tidak pernah mahal” 

Barulah kemudian mahal murah ini menjadi relatif untuk kepentingan bisnis, karena manusianya memang hidup dengan pemahaman yang relatif.

Kemungkinan kopi ini menggunakan kopi blend robusta 8 : 2 arabika dengan roastbean yang juga fresh. Murah meriah untuk menyambung hidup saya. Ya sebenarnya 

“hidupku sangat murah, tapi cintamu yang selalu membuatnya menjadi mahal”

#kopi #kopiindomaret #kopiindonesia #ngopisiang 

Akankah Indonesia Bubar?

Jokowi: “Aduh, modyar iki dab”

Dulu saya berfikir, dengan banyak membaca media akan membuat saya berilmu, pintar dan berpengetahuan luas. Maka saat itu saya wajib tiap hari baca koran sambil ngopi pagi, lalu beralih baca media online dan televisi.

Ternyata saya salah. Saya malah mengijinkan media menguasai diri saya, menguasai pikiran dan hati hingga lupa akan jati diri saya yang sebenarnya. Informasi sangat licin, tidak bisa saya kuasai. Malah justru sebaliknya, saya dikuasai informasi hingga ia memenjarakan pikiran saya.

Karena penasaran dengan hal ini, tahun 2014 saya pun nekad untuk mengorbankan kegiatan itu. Sudah 2 tahun lebih saya tidak nonton tv sama sekali, tidak baca koran blas, tidak baca berita media apapun. Ya hanya sesekali baca dan tonton untuk mencari sesuatu yang memang relevan dengan kebutuhan saya.

Ternyata benar, ilmu itu tidak datang dari media, ilmu datang dari dalam diri sendiri. Ilmu adalah sebuah pola dalam obyek yang ketika obyek tersebut diganti, maka ilmu itu akan tetap berlaku. Benar-benar hal ini mulai saya rasakan akhir-akhir ini.

Memang tanpa media, tanpa kartu pers, saya bukanlah siapa-siapa. Sudah tidak ada pejabat maupun polisi yang bersikap sopan sopan takut kepada saya. Tapi dengan menjadi biasa, pemahaman akal saya lebih mendapatkan posisi ditengah. Karena di tengah itu ternyata nikmat, diapit itu nikmat. Tapi tetep, posisi menentukan durasi 😄 Seperti angka 7 yang mudah turun menjadi 5 dan mudah naik menjadi 9.

Kalau tidak karena temen-temen facebook yang share sesuatu di beranda, saya blank tidak tau sama sekali perkembngan info dari media usai demo kemarin.

Kalau itu tulisan pribadi, ocehan blog seperti ini, atau media lokal, boleh lah sesekali saya baca. Tapi kalau media media nasional, maaf judul pun tidak minat saya baca.

Diluar sepengetahuan ini Saya tidak berani menyalahkan siapapun, tidak berani juga membenarkan siapapun. Ya siapapun mereka, dari kalangan ataupun pihak manapun mereka, sungguh saya tidak berani ambil sikap. Karena saya tau, permasalahan ini sangatlah panjang, luas dan dalam. Lebih dalam dari saat dimana rambutmu ketemu rambutnya, kulitmu ketemu kulitnya, airmu ketemu airnya dan cintamu ketemu cintanya.

Saya menyebutnya “angin jakarta 4 november 2016”. Memang bukan hari biasa, bukan hanya soal-soal yang dipersoalkan di panggung panggung itu, di media media itu. Bukan hanya soal Ahok, bukan hanya FPI, HMI, Jokowi, Tax Amnesty apalagi Ahmad Dhani.

Apalagi penistaan ayat Allah, itu bukan lah akar masalah. Bukan asal-usul perkara. Itu hanya salah satu produk masalah globalisasi. Tahun 2012 Mbah Nun pernah berkata

“itu seperti seseorang terpeleset kakinya dan terjatuh menimpa orang-orang di sekitarnya. Masalah utamanya bukan terpelesetnya itu, melainkan ada jalan panjang yang licin”

Orang maiyah tau, bahwa sudah lama ada pergerakan antara hitam dan putih yang samar untuk merampok kekayaan indonesia dengan strategi awal yaitu merapuhkan para penghuninya. Penghuni utama Negeri ini adalah Ummat Muhammad terbesar di dunia. Maka paket utama dalam strategi itu adalah mengadu-domba ummat itu melalui UUD 2002, ulama, ustad, media sehingga penduduk Negeri ini menjadi rapuh, rentan dan lumpuh soliditas kebersatuannya. 

Ya, sangat masuk akal. Dengan menggunakan 1 juta saudara-saudara kita yang sudah singgah di ibu kota kemarin, jangan lupa bahwa disisi lain masih ada lebih dari 299 juta saudara kita yang bingung karena ulah media. Mereka sibuk menyerap berita dan menelan langsung tanpa mengunyahnya. Apapun dimasukkan, mereka telan mentah-mentah. Kemajuan teknologi “Klik dan share “adalah sebuah domino effect yang powerfull yang dimanfaatkan para elit dunia. 

Dhani pun katanya terseret seret. Lha kok nyebut presiden, nama dewa saja berani ia sebut bahkan ia kuasai. Para dewa dewa jadi bingung dan bilang pada saya, “kampret bocah kae, jenengku di nggo jeneng band”. Bahkan Mahadewi pun ia pakai. Sayangnya Maha Segalanya tidak pernah berkata “anjing”, karena anjing adalah mahklukNya yang mulia. Ya, Tuhan begitu Maha Mulia dan Maha Eman (sayang) sama si gundul yang satu itu. 

Pernah nggak kalian berfikir, Apa mungkin negeri ini akan hancur ditahun 2016? atau 2018? atau 2024? atau 2038? Seperti orang orang meramalkan atau memprediksi. Atau malah tahun tahun itu cuma lewat saja? Seperti angin yang menggugurkan daun-daun itu.

Sungguh, aku pun tak tahu. Tapi kalau memang benar akan bubar, Aku sudah siap lahir dan batin. Sepertinya rakyat indonesia juga sudah siap, karena kita ini memang terlahir sebagai generasi manusia yang sangat kuat dari pada negara-negara lainnya. Namanya generasi milenial. Karena,

“Kita bisa mengubah tai menjadi roti dalam beberapa kali kunyahan saja”

“Kita bisa merubah tahu menjadi daging sapi dalam beberapa gigitan saja” 

“Kita bisa mengubah arang menjadi secangkir kopi dalam beberapa kali srutupan saja” 

“Kita bisa merubah pemimpin buruk menjadi baik dalam beberapa kali pandangan saja”

Dan masih banyak sekali hal-hal yang tak disangka dari kekuatan rakyat indonesia.

“Hai para negara negara penjajah, hai para kartel kartel dunia. Tunjukkan hidungmu! Jangan kau jadi pengecut saja. Tak semudah itu kau bisa robohkan kami rakyat indonesia. Nanti kau akan capek sendiri dengan apa yang kau lakukan kepada kami sejauh ini, bahkan sudah 600 tahun ini kau hanya bersembunyi saja”

“Sekaya apa sih Negeri ini sampai sampai kalian memperebutkan tanah kami? Dan memperkosa kami tanpa henti dari pagi, siang hingga malam”

“Sejengkal tanah kau pajaki, sesuap nasi kau pajaki, apa tidak sekalian saja kami bayar denda untuk setiap tai yang kami keluarkan setiap hari. Juga membayar wajib setiap pipis dan tangis yang membasahi tanah kami ini. Ayo gpp wes, kami ikhlas. Kami sayang kalian, kami tidak akan memberaki dan mempipisi muka kalian”

Cuma kadang saya bingung. Ya Tuhan, sebenarnya yang gendheng itu saya atau mereka?

Seorang pujangga di kediri, keturunan sunan kalijaga, seorang pangeran yang hidupnya merdeka, pernah berkata kepada saya (dalam mimpi), bahwa suatu saat memang akan datang hari-hari dimana,

Akeh udan salah mangsa, Pitik jago tarung sekandang

Wong tani ditali-tali, wong ngapusi berdendang dendang

Kanca dadi musuh, sedulur mangan sedulur

Wong jahat munggah pangkat, wong apik kepidak pidak

Wong dagang soyo laris dagangane, soyo ludes bondone

Para juragan menjadi umpan, yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

Si pandai direcoki, Si jahat dimanjakan

Sementara orang yang mengerti makan hati.

~ Sri Aji Joyoboyo, tahun 1666 

Tulisan ini tidak perlu dipercaya, tidak perlu dibenarkan. Kalau disalahkan malah bagus, karena saya cuma tutur-tutur saja, ya anggap saja ini obrolan biasanya kita kalau lagi di warung kopi. Jadi tulisan ini langsung muncul begitu saja, otentik saat itu juga dan bisa berubah sewaktu waktu semau-mau hati dan pikiran saya. Semau Tuhan memberi petunjuk kepada saya.

Terimakasih, salam kekopian ☕😁

Doa Hari Pahlawan Untuk Pemimpin Kita

Foto: Bung Tomo

​10 november 1945 telah kita sepakati sebagai hari pahlawan. Mari hari ini kita berdoa, semoga pemimpin kita tercinta bisa “tiba tiba berubah 180°”. 

Semoga Dia mau belajar ke surabaya. Belajar dari bung Tomo, belajar dari Hasyim Asyari, belajar dari seorang pemuda yg berani membunuh Jendral kolonial mereka, Mallaby dan sampai saat ini tidak diketahui siapa pemuda tersebut. 

Semoga pemimpin kita berani memakai peci setiap hari, meskipun saat itu juga akan mereka lengserkan. Semoga dia bisa membedakan antara pidato dan sholat, kalau pidato itu dengan tangan diatas dan suara lantang. 

Semoga dia berani berjabat tangan dengan pemimpin negara lain tanpa membungkuk dan bahkan yang utama adalah dia berani mati untuk menjadi pahlawan indonesia sehingga hidupnya dikenang kedalam jiwa anak cucu kita sepanjang massa. Aamiin 😁

Setiap hari diri saya masih berharap punya pemimpin seperti itu 😁 tapi diri saya yg lain selalu berkata.. “DOBOL, RA MUNGKIN WANI LEH” 😩

Saya Tidak Terlalu Cinta Kopi


​Ilmu gaib (tak tampak) tidak mengenal, siapa penulisnya? Apa gelarnya? Apa jabatannya? Apa karyanya? Karena setiap nafas bahkan setiap sel makhluk selalu ada campur tangan Sang Pencipta, Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widhi, Tuhan, Allah, Bapa atau nama apapun itu selama nama yang Agung temuan manusia.  

Terkadang, saya ngomong juga baru tau setelah saya omongkan. Saya nulis juga baru tau setelah saya tuliskan. Saya main gitar juga baru tau setelah saya main gitar. Saya nyeduh kopi juga baru tau setelah saya nyeduh kopi.

Karena semua ini adalah perihal budaya, terjadi improvisasi dan mengalir begitu saja. Tidak ada standarisasi seperti halnya dalam bisnis dan management, tidak ada teori teori maupun fakta ilmiah yang saya dekap terlalu lama. 

Saya berani mengorbankan biji kopi untuk mendapatkan segelas kopi. 

Saya berani mengorbankan segelas kopi untuk mendapatkan manfaat dalam tenaga, hati dan pikiran.

Saya berani mengorbankan tenaga, hati dan pikiran untuk mendapatkan rizki

Saya berani mengorbankan rizki untuk mendapatkan kebenaran

Saya berani mengorbankan kebenaran untuk mendapatkan kebaikan

Saya berani mengorbankan kebaikan untuk mendapatkan kepuasan

Saya berani mengorbankan kepuasan untuk mendapatkan kemuliaan

Saya berani mengorbankan pemahaman lama untuk mendapat pemahaman baru. 

Itulah ilmu rasa dalam bahasa, musik blues, jazz hingga kopi sejauh yang saya rasakan selama ini. 

Saya benar benar tidak terlalu cinta semuanya. Tidak terlalu cinta musik, tidak terlalu cinta kopi dan tidak tidak terlalu lainnya. Karena untuk perihal cinta pun saya juga baru tau setelah saya mencinta. 

DIPERKOSA MACAN

Memang betul, server database E-KTP kita sudah ada di tangan macan. Jadi macan sudah punya seluruh data personal kita. Data hampir 300 juta makhluk di hutan rimba ini. 

Sudah banyak ditemukan kasus kasus EKTP palsu tapi asli yang mereka buat dan mereka gunakan untuk menyusup ke hutan ini. 

Macan-macan mulai menyusup, berbekal KTP WNI. Entah berapa jumlahnya, entah macan biasa atau macan biasa yang siap militer atau malah murni macan militer. Mereka sudah masuk jauh sebelum ada cucu macan menjadi pemimpin daerah. 

Macan-macan akan bersatu dalam rerumputan yang lebat itu. Memang benar, pemimpin tidak akan mencalonkan diri. Pemimpin selalu didorong dorong kawannya untuk bersedia memimpin kaumnya. Menjadi pemimpin tertinggi di hutan rimba ini adalah awal dari kepemimpinan kaumnya.

Semisal tidak jadi pemimpin daerah, tidak jadi pemimpin tertinggi, alias lengser suatu saat, macan-macan pun selalu punya cara lain untuk mencari mangsa. Bertahan hidup demi perut dan kekuasaan rimba.

Sebagian penghuni rimba tau bahwa ada proyek besar reklamasi sepanjang pantai utara yang memakai 30% pekerjanya adalah macan, bahan baku, dan pinjaman modal juga dari kawanan macan. Bahkan, bangunan itu belum jadi pun, semuanya sudah laku dibeli macan macan kaya di hutan asalnya, karena memang mereka sudah sepakat hanya mengiklankan itu di hutan asalnya. 

Kepemilikan senjata api juga diperbolehkan di hutan ini. Ya, karena memang senjata ini untuk berburu binatang. Jadi ya boleh. Tapi perijinannya mahal, hanya macan-macan kaya yang mampu membayarnya, yang mampu memilikinya. Penghuni di hutan ini mana mungkin semampu itu. Untuk memberi makan anak saja masih terpincang-pincang. Mereka lebih memilih makan rumput dan dedaunan ketimbang makan daging yang mahal. 

Ah sudahlah, memang masih banyak sekali yang tidak kita ketahui soal strategi itu. Kita keluar saja dari hutan itu. Lalu menikmati kopi di warung kecil biasanya. 

Semua orang tau kalau PELACUR itu manusia buruk. Bahkan sebelum ada agama saja manusia tidak mau jadi pelacur. Hanya kaum kaum tertentu yang memang ditakdirkan jadi pelacur. Tapi kata Tuhan, tidak ada 1 hal pun yang buruk di dunia ini. Maka yang relevan dan ‘apik’ berlaku adalah ilmu bulat, kalau di jawa namanya ‘ilmu papan panggonan’ berdasarkan atau berlandaskan rasa.  Yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya, sehingga akan menciptakan 3 nilai yaitu bener, baik dan apik yang menjadi nilai tertingginya.

Lalu, kalau ada seorang manusia yang “melacur” untuk membebaskan ibunya yang terus diperkosa karena hutang keluarga, Apakah kau anggap itu buruk? 

Kopi Kontinuasi dan Kopi Adopsi


KEKOPIAN. Aku memandang dalam bingung. Menoleh ke pohon pohon kopi pagi itu. Ditemani segelas kopi hitam aku bertanya kepada Tuhan, 

“Ya Tuhan, Kenapa mereka bilang support petani kopi indonesia jika yang mereka sebarkan adalah gaya hidup kemewahan kota?” 

“Ya Tuhan, Kenapa penikmat kopi seperti kami mereka sebut target market. Apa kami hanya target bagi mereka-mereka untuk terus mengeruk uang kami” 

“Ya Tuhan, Kenapa domino effect bisa sampai ke negeriku yang sudah kaya ini” 

Di lain hari seorang petani juga bingung dan bertanya kepadaku, 

“Mas, bagaimana cara membuat kopi yg ada gambarnya itu” 

Aku pun tak bisa menjawabnya, karna untuk grinder kopi saja ia tak punya 😥 

Berdasarkan riset iseng sederhana yang dilakukan @hendry__art di dunia maya, ternyata lebih dari 90% postingan akun pribadi, kedai, cafe dan media kopi terus mengunggah kemewahan. Mereka berkompetisi dagang dan popularitas. Entah seberapa tinggi nilai advetorial yang mereka komunikasikan dari belakang panggung. Kami yakin itu tidak lah cuma-cuma. Sementara kurang dari 10% saja kopi hitam mereka angkat. 

Bukan aku anti gaya hidup kota, anti modern dan tidak support petani. Tapi mbok ya nggak perlu munafik. Lantang memuliakan petani tapi tak sebanding dengan apa yang kita lakukan untuk mereka. Lha beli bean saja masih nawar-nawar kok bilang support. Kalau support ya ajari mereka mandiri, sampai bisa memasarkan produknya sendiri, sampai keluarga keluarganya bisa membuka kedai kedai sendiri. Ilmu kok diperjual belikan, ilmu itu ya dibagi. 

Takut miskin kan? Ya betul, karena kita memang tidak seberani seperti para petani. Mereka tak takut miskin, tak takut makan apa, kita yang takut makan apa. Kok malah kita yang “ngajari” bertahan hidup kepada petani. 

Dilain sudut, aku faham betul orang-orang kekopian. Aku kenal baik beberapa dari mereka. Mulai dari tukang ngopi sepertiku, petani, barista, roaster ternama hingga pejabat pejabat pemerintahan. Mereka begitu mencintai kopi, dan bercita-cita sama, agar kopi ini bisa dinikmati semua kalangan. 

Tapi selalu saja ada hal-hal yang membuat kami terkotak-kotak. Memang betul syair prabu Joyoboyo, “Wong tani ditali-tali”. Gak bisa bergerak, nggak bisa bertindak. Meski semua orang memuliakan petani, tapi tindakan-tindakan kita tak pernah benar-benar sejalan dengan petani. 

Jika petani menganut paham kontinuasi, kita menganut paham adopsi. Jika petani belajar banyak dengan tradisi, dengan budaya, dengan sesepuh-sesepuhnya. Kita justru merusak tradisi mereka dengan pengetahuan modern kemarin sore yang kita miliki. Memang, Isu kesehatan selalu menjadi strategi jitu setelah isu agama. 

Kalau kata senior saya, Amron, jangan sampai kita menganut agama diam. Yaitu manusia dengan nilai-nilai cuek, acuh tak acuh dengan hal-hal yang sederhana disekekilingnya. Tak penting untuk dirinya sendiri. 

Mungkin mereka lupa kalau manusia itu punya 3 peran di dunia. Yaitu manusia sebagai makhluk hidup, manusia sebagai kekasih Tuhan dan manusia sebagai khilafah atas dirinya sendiri. Persis seperti filosofi kopi yang terdiri dari kulit, buah dan biji kopi. 

Ingin aku pergi dari keramaian ini, tapi aku masih butuh kopi dalam hari hariku. 

Aku memilih berhenti saja dulu jualan kopi dan menjadi penikmat saja. Aku tidak takut pelangganku hilang, karena aku tak punya “target market”. Aku tak faham apa itu kesuksesan. Bingung, harus mulai dari mana aku. Petani, proses lepas panen, roaster, barista atau pemilik kedai saja? 

Kemana kesedihanku ini akan mengalir? Apakah benar liberalisme dunia juga ada dalam dunia kekopian kita? 

Melalui dunia kekopian, Kami sudah terbiasa berbeda, jadi dunia kami sangat menyenangkan. Berbeda itu sehat. 

Tapi aku sadar, kesedihan memang sesekali perlu datang. Agar aku kuat mengolah kesedihan ini. 


Teman-temanku pasti akan bilang, “jangan sedih mas, ngopi saja dulu”. 

Dan aku juga bilang, jangan percaya dengan omonganku. Jangan membenarkan dan menyalahkan dengan tidak merangkulku. Karena aku cuma tutur-tutur saja, bisa berubah pikiran kapan saja semau hati dan pikiranku. 


Photo by: Camera Indonesia @anak_dusun_ 

#kopi #kopiindonesia #budayangopi #budayakopi #barista #coffee #ngopi #kopinusantara #kopiindonesiakeren

Bercumbu dengan Lapar


Teori teori gizi dunia tak sepenuhnya berlaku untuk orang indonesia sepertiku. Karena Setelah 27 tahun aku baru bisa merasakan bahwa lapar itu ternyata adalah sebuah kenikmatan, ya.. kenikmatan. 

Ketika perutku berbunyi beberapa kali,

kedua tanganku mulai gemetar hingga tak kuat mengepal, 

sel sel ku terbangun dan bersatu 

Mereka berjuang aktif bekerja untukku

Lapar, Aku bisa menikmatimu. 

Hai sahabat, cobalah rasakan dengan kejujuran hatimu. Senikmat apa kau bercum dengan laparmu? 

Hai sahabat, setiap moment ku dengan lapar tak pernah kukeluhkan. Andai ia bisa lebih lama kunikmati tanpa tubuhku kelaparan, maka perut perut di jakarta juga tidak akan anti kepadanya, tak perlu mereka mencari uang hanya untuk sekedar makan. 

Dicko Purnomo

2 Nov 2016

Angin Jakarta 4 November 2016 

Foto: Acara Malam Puncak Bulan Bahasa dan Sastra bersama Caknun, Kiai Kanjeng, Iman, dll

Jangankan di jakarta, bahkan untuk menyebut Allahu akbar di masjid depan rumahku saja aku harus memfokuskan diri dan mencari cari dulu hal apa saja Hyang besar, Hyang agung, Hyang mengagumkan di alam semesta ini. 

Tidak ada Allahuakbar gorok, Allahuakbar bacok dalam sejarah Islam yg ku pelajari kemaren sore. Kalaupun ada, itu karna kondisinya berbeda. Perang misalnya, Itupun hanya untuk bentuk simbolis persatuan militer kaumnya. Biar gampang, biar tergerak hatinya. 

Ucapan Allahu akbar mulai dari Adzan di masjid sampai yg di katakan dalam hati seseorang, Kok menurutku kita harus kagum dulu, baru tidak malu mengucapkan itu. Mungkin lebih baik kita ucapkan, asu, celeng, bajingan, jancuk dalam setiap “adzan adzan” itu. Lebih baik aku diam, saat kekaguman belum kutemukan. 

Aku yg bukan islam saja malu dengan Jibril dan para staf staf Allah ini. 

Wahai Jibril, kata Allah ada wahyu yang datang dari angin jakarta. Tapi kenapa orang2 yg bertopi islam itu tidak malu denganmu? Padahal topi, baju hingga hp mereka mereka itu dibuat oleh kaum lain yg mereka musuhi. Jibril malah balik tanya, 

“sing Allahu akbar ki apane cuk?” 

Ternyata, Jibril juga bingung dan berkata “Sudah, nikmati saja kopimu” ☕

Segelas Kopi Leng Cuk

Celeng bertanya kepada Jancuk. “Cuk, kita ini sebenernya haus apa doyan to? Kalau haus kan gak harus minumnya kopi? Kalau doyan kenapa rakus. Kita ini sebenernya doyan kopi apa? Kok semua kopi kita minum. Dari sachet sampe spesialty” 

Jancuk menjawab, “Iyo leng, hari ini Kita minum segelas kopi saja dulu, kita makan sepiring saja dulu, kita pahami seilmu saja dulu”

Satu saja yang sederhana, 

Satu saja yang mudah dipahami, 

Satu saja yang menyatukan, 

Satu saja yang selalu ditengah.

Celeng bertutur. Dalam bahasa indonesia, Mutlak = penuh, genap, utuh, 100%, tidak boleh tidak. Itu bersifat mengikat. 

“Bukannya estimologinya dari bahasa arab Muthlaq = tidak terikat? Kenapa gitu cuk?”

“Ya sementara ini kita ambil jalan tengah saja, yang selalu lebih baik. Bisa betmakna penuh, bisa hampir penuh, bisa setengah penuh dan opacity serta gradasi lainnya 😁” 
“Dari pengamatanku, Sepertinya akan bubar Negeri ini. Tapi gimana, Aku bangun setiap pagi saja sudah repot dengan urusan keluargaku, sudah bingung dengan cicilan cicilan yang sudah jatuh tempo. Jadi, misalkan bubar juga nggak penting penting amat bagiku. Tinggal kita hijrah ke keraton atau ke jawa timur bukan?” 

Iya lah cuk, Hidup disini kita musti “nyicil” memahami asal usul kata perkata, biar kita makin lama makin tau, kata apa saja yang sudah mengalami pergeseran makna dari tahun 1800 an – 2016 sekarang. 

Karena hanya dengan “modal” 1 kata saja, sebuah generasi bisa dirusak/dirobohkan. Semakin jauh kita kebelakang menyusuri 400-600 tahun yang lalu. 

Kita diinjak dengan kaki tak tampak

Kita ditonjok dengan tangan tak tampak

Kita dihina dengan suara suara merdu

Kita diberaki dengan roti roti rasa pisang cokelat dan keju

Makanya leng, aku memilih menyerah saja jadi wartawan dan sementara ini memilih menjadi seniman pencari hakikat saja, pencari Tauhid 😁 

Bagus cuk. Biar tetep kuat otak kita, akal sehat kita, kita perlu kopi lagi nih.

“Sik sik leng.. pancen celeng kowe. Bentar dulu” 

Kalau yang namanya akal ya mesti sehat lah 😦 Jadi nggak ada apa itu akal sehat, kalau berakal itu pastinya sudah sehat otaknya. Otak sehat, maka jadilah akal. Gimana to leng?” 😕

“Oh iya juga cuk. Sorry sorry, khilaf 😁. Aku juga manusia leng, banyak salah. Gara gara ngopi kok jadi pinter juga kamu leng” 

Lha iya to leng. Biar otak maksimal maka dibutuhkan lah kopi. Kalau temen kita gak biasa ngopi ya suruh coba aja sekali kali kalau mau, segelas saja dulu lah, sehari 1x di pagi hari udah cukup kan leng. Kalau kerja otaknya lebih keras ya tinggal nanti siang tambah segelas lagi. Bagus gak leng? ☕😁 

Lha iya, “Kita sendiri yang tau kebutuhan diri kita”