Menikah dengan 4 Hal

Menikah
Menikah dengan 4 hal
MENIKAH. Menurut konsep hukum Tuhan, setiap Manusia dalam perjalanannya perlu menikahkan dirinya dengan 4 hal:

  1. Menikahkan dirinya dengan Tuhan dan para staf-Nya
  2. Menikahkan dirinya dengan alam semesta
  3. Menikahkan dirinya dengan dirinya sendiri
  4. Menikahkan dirinya denganmu dalam pelaminan 

Sebagaimana Roh kita juga menikah dengan 4 hal. Yaitu menikah dengan akal, hati, perut dan syahwat kita. Atau sebagaimana “sedulur papat” kita nikahi juga meski tanpa kita sadar keberadaan mereka.

Jika kita sombong karena sudah menikah dengan sesama manusia, sesungguhnya kita belum lah berarti apa apa dimataNya

“Janganlah sunyi kau anggap tiada”

Iklan

Makrifat Rasa dalam Kopi

Rasa kopi
Merasakan Kopi
Banyak sekali hal baik yang bisa kita ambil soal kedalaman rasa bagi pecinta kopi. 

Saya tidak sedang cupping taste secangkir kopi single origin, biarlah cupper / Q Grader yang bisa menjelaskan soal itu. Tapi saya akan bicara soal potensi diri dan kualitas diri tanpa teory, hanya sekedar menggunakan RASA.

Jika kita bisa mendalami rasa, maka kita akan menemukan surga dalam diri. Sangat dalam, bahkan ada rasa di dalam rasa yang tidak bisa dipahami dengan pendekatan ilmu tampak manapun. Karena tidak semua hal harus dengan pembuktian kasat mata, karena faktanya banyak yang kita percaya meski tidak pernah ia menampakkan diri, bahkan belum pernah kita lihat sama sekali. 

Apa kamu pernah melihat Tuhan, malaikat, Nabi nabi, hingga melihat bentuk gelombang suara, jaringan internet dan sms yang ghaib karena bisa mengirim kata dengan cepat dalam jarak yang sangat jauh? Seperti apa bentuknya? Kenapa kamu percaya? 

Jika kita bisa mengolah rasa yang tidak bisa dilihat seperti itu maka, 

Tujuanmu bekerja menjadi bukan untuk kaya seperti Kaum Sudra

Tujuanmu belajar dan berlatih bukan untuk pintar dan kuat seperti kaum ksatria

Namun menjadi Brahmana adalah tujuanmu, yang bisa sudra dan bisa ksatria pada saat saat tertentu yang memang diperlukan pada saat itu. 

Ngopi dulu
Ristreto Coffee, sweet and strong taste. Sangat kuat dan melembut dilidah

Merasakan hidup kita sendiri lebih baik daripada merasakan hidup orang lain, karena tidak ada manusia yang mampu merasakan hidup orang lain kecuali dengan perasaannya sendiri. Tidak perlu disanggah, karena kedalaman hakikat rasaku tidak ada yang bisa tahu. 

“Seperti sedekah dan hadiah, meski sama sama memberi, tapi menggunakan rasa yang berbeda”

Kursi Rimba

Puisi
Kursi rimba (img: artpeoplegallery)

Karena ia adalah pintu masuk rumah dari furniture furniture besar yang sudah terbungkus rapi
Karena ia adalah jendela dari sirkulasi asap asap yang menyesakkan penghuni

Karena ia adalah tamu yang meniduri pemilik rumah yang sudah menyuguhi kopi

Karena ia adalah gula dari rasa manis yang menggerogoti sel sel tubuh hingga mati

ia lah Koh Ah ah.. sang pekerja panggung hiburan dari hitamnya bisnis dunia

#kekopian #kopi #ngopidulu #ngopi #kopilampung #kopiindonesia

Masuk Akal

Masuk akal
Membaca pikiran (image: artpeople_gallery)

Masuk akal adalah istilah untuk orang-orang berfikir, yang di zaman modern ini disebut dengan logic atau logis; logika berfikir yang dapat diterima pikiran manusia. 

Saya tidak me review buku Edison ‘Think And Grow Rich’ tentang kedasyatan pikiran manusia. Buku itu bagus, selama contoh kisahnya jangan kita jadikan sebagai tolak ukur pencapaian finansial. Ambil polanya dan terapkan dalam hal apapun.  

Istilah “masuk akal” ini sudah dipakai teman-teman saya mulai tahun 2011. Ketika ada sesuatu enak diterima akal, biasanya kita sebut dengan masuk akal

Contonya, “Liat bro, itu cewek masuk akal”, kata temen saya. 

Artinya cewek yang ia lihat itu sesuai dengan kriteria wanita idamannya. Sesuai dengan standar konstruksi pemahaman sudah yang ia bangun selama ini. 

Temen-temen saya tahu, ada pemahaman yang keliru mengenai akal dan otak. Seperti contohnya ‘akal sehat’. Mustinya bukan akal sehat, karena akal itu ya pasti sehat. Otak yang sehat akan membentuk akal. 

Jadi kata masuk akal lebih masuk akal kita gunakan ketimbang menggunakan kata akal sehat. 

Karena Kita terlalu sibuk

Karena Kita terlalu sibuk bertanya kepada orang lain yang dianggap lebih faham

Karena Kita terlalu sibuk mencari dalam buku yang dianggap panutan

Karena Kita terlalu sibuk bekerja dalam perusahaan yang dianggap jalan kekayaan

Pernah Saya bertanya kepada bapak saya, 

“Pak, bagaimana cara agar saya tidak malas?” 

“Ya jangan malas”

“Pak, bagaimana caranya agar saya rajin bekerja” 

“Ya rajin lah bekerja” 

Akal saya pun mulai berfikir, memproses jawaban singkat ayah saya itu. Kenapa saya tidak pernah membaca akal saya sendiri? Saya justru meminjam tangga untuk memetik buah yang bisa saya petik dengan tangan. 

Titik pusat dari rotasi akal manusia bukan soal kesuksesan saja, apalagi sukses finansial. Masuk akal jauh lebih bermakna luas daripada itu karena punya nilai keindahan didalamnya serta melibatkan perasaan dalam mengolah data sebelum masuk menyatu dengan akal. 

“Jika INDAH, maka ia sudah melewati BENAR dan sudah melewati BAIK”
Kita melihat fakta sebelumnya, kita merasakan baiknya, baru lah hal itu menyatu menjadi akal yang kita sebut “masuk akal”

“Gimana kopi itu? Apa masuk akal?” 

Mereka yang harusnya meniru cara ngopimu

Kopi dan biskuit

​Teman kopi adalah biscuits, sahabat kopi adalah brownis. Brownis’e mbahmu 😕

Piye to ilat mu? Jajanan pasar 500 rupiah ini jelas jelas lebih nikmat dibanding biscuits 5000 rupiah itu. Apalagi buat temen ngopi robusta. Kenikmatannya setingkat diatas teman dan sahabat. 

Jajanan pasar
Kopi dan pukis

Jika ​teman kopi adalah biscuits

Jika sahabat kopi adalah brownis

Maka

Kekasih kopi adalah pukis

Mau apa? Jelas jelas jumlah jajanan di indonesia itu ada ratusan. Saking (terlalu) banyaknya, mustahil mereka (negara negara lain) bisa meniru kita. Mereka pengen banget meniru kamu, kok kamu malah meniru mereka. Kopi aja mereka ndak punya kok mau ngajari ngopi. Piye to iki 😕

Merasakan kopi bisa detail banget, saking detailnya saya tidak bisa membedakan yang mana peminum kopi, yang mana roaster dan yang mana Q-Grader. Tapi merasakan makanan aja gak bisa. Ahli 1 hal itu bagus, tapi jangan sampai dibodohkan dalam banyak hal lainnya.
Hmm 😕 lagi lagi memang bener. “Hidupku memang murah, cintamu saja yang membuatnya mahal”

Kok Menanam Bibit Besi

Sunda RancabaliHolland tourism in Sunda Rancabali (@bengalano
Kalau negara bukan penghasil kopi bilang “cafein tinggi itu buruk”, maka saya memilih minum kopi dengan cafein tinggi.

Kalau negara bukan penghasil tembakau bilang “nikotin tinggi itu buruk”, maka saya memilih tembakau dengan nikotin tinggi. 

Cara berbisnis negara negara bukan penghasil kopi adalah menciptakan “alat-alat kopi” modern dan terus berinovasi, karena mereka sadar diri, negaranya tidak bisa berbisnis dengan menghasilkan kopi. 

Ini bukan hanya perihal tembakau dan kopi saja, semua hasil bumi juga seperti itu. 

“Namanya juga bisnis”

“Semakin bisnis itu maju, semakin banyak hutangnya”

“Pemodal lebih besar selalu menguasai bisnis”

“Penguasa bisnis tertinggi selalu pencipta bisnis itu sendiri”

Puisi petani
“Pertanian adalah soal maju mundurnya suatu bangsa” – Soekarno

Sekarang negara japan menjadi negara maju penghutang terbesar di dunia. Lha kalau semua negara negara hutang, pertanyaannya “Hutang pada siapa?” Ya dengan panitia belakang panggung yang ternyata orangnya hanya itu itu saja.
Jadi tak perlu heran dengan kemajuan teknologi negara negara itu, nyatanya dari dulu bisnisnya tidak ada yang benar benar berubah kan?

Kok malah kita mau adopsi cara cara bisnis negara japan, Yunani, Italia, china, Amerika itu. 

“Kok malah menanam bibit besi”

“Kok malah memupuk dengan batu bata”

“Kok malah menutup siraman dengan genteng”

“Kok malah menganti sawah menjadi rumah mewah”

Mie instan Indonesia Membahayakan Mie Instan Dunia

Mie instan
Mie instan luar negeri

Bahaya mie instan itu saking bahayanya mie ini karena ada disetiap warung warung dan rumah rumah dimana mana. Gak cuma di indonesia, tapi juga ada di puluhan negara. Wah, bahaya nih. 

​Saking cintanya negara lain seperti cina, korea, japan, nigeria, arab dll dengan mie instan produksi indonesia, warga mereka mengangap mie itu produksi negaranya sendiri. Nek gak percoyo, yo jal takon dewe 😝 

Serius ini, saking (sangat) bahayanya, karena saking doyannya warga mereka, saking nempelnya dilidah mereka, saking enaknya mie ini di warga mereka hingga membumi. 

Namun ada yang disembunyikan media asing. Bahwa rahasia mie instan indonesia adalah menggunakan minyak kelapa sawit sebagai campuran. Sementara mereka tidak. Ra ono klopo sawit dab, mereka tidak punya perkebunan kelapa sawit seperti kita. Hanya ada di daerah tropis saja. 

Penguasa Kelapa sawit dunia itu ya kita, indonesia. Lebih dari 90% produk di supermarket kita itu pakai campuran minyak kelapa sawit. Sampai sampai sabun, detergen dan shampo yang murah murah itu pun pakai minyak kelapa sawit dengan olahan khusus biar awet. Memang sangat murah, karena indonesia sangat kaya. 

Minyak ini membuat awet tapi bukan pengawet kimia buatan, awet tapi tidak bahaya. Ini pengawet alami dan juga dapat meningkatkan teksture dan rasa dalam mie instan.

Bahaya mie instan
Mie instan dan kopi

20% dari berat mie instan kita adalah minyak kelapa sawit. Membuat mie jadi bisa awet lama, enak plus harganya murah banget.

Lha kok kamu malah anti mie instan indonesia, malah milih mie mie dari luar negeri yang kau cintai dengan harga harga yg mahal itu 

Denger denger ada “bahaya mie instan” untuk kesehatan. Yayaya, isu kesehatan memang strategi bisnis yang genius setelah isu agama. Kasus ini sama dengan rokok kretek yang mereka tenggelamkan karena produksi tembakau indonesia yang sangat banyak, berkualitas dan murah. Negara negara lain takut, Jangan sampai produk indonesia yang murah dan berkualitas ini menguasai pasar dunia. Karena mereka tidak bisa memproduksi mie dan rokok karena bahan baku yang sangat langka dan maha di negaranya. Bahkan harus susah susah import dari indonesia. 

Kalau saya pribadi, makan mie instan itu seminggu sekali, 2 atau 3 hari sekali saja. Skala itu tidak akan membahayakan kesehatan saya. Asal jangan tiap hari. Kalau saya berlebihan makan mie, biasanya pagi pagi bangun tidur muncul jerawat dimuka atau bahu saya. Itu adalah sebuah tanda kelebihan konsumsi sesuatu. 

Kalau cara berfikirnya sempit ya jadi mie instan memang bahaya. Padahal semua makanan bahaya. Bukan cuma “bahaya mie instan” saja. Semua makanan mengancam, busa membayakan tubuh kita. Makan nasi kalau 10 piring ya bahaya. Minum air putih klo segalon sekaligus ya bahaya 😕 

“Serendah itu kah caramu mencintai?”

“Meninggikan apa yg rendah dan merendahkan apa yg tinggi”

“Tak bangga kah kau dengan apa yang kamu miliki?” 

“Semahal itu kah cintamu kepadaku hingga kini”

Menyambung Hidup dengan Kopi Espresso 5000 rupiah

Kopi espresso
Esspresso from yummy coffee indomaret

Nyambung Urip Limaribu begitu saya menyebutnya. Alias menyambung hidup dengan limaribu rupiah. 
Adalah espresso dari yummy coffee di indomaret. Ini salah satu kopi favorite saya. Terutama kalau listrik dirumah mati atau gas elpiji habis atau stok kopi habis.

Bukan saya marketing perusahaan ini. Memang secara teknis kopi ini terlalu jauh untuk kita sebut espresso, Tapi ada baiknya temen temen pemilik cafe dan kedai belajar mengenal kopi seharga Rp5000 sekali pencet ini sebelum menjual kopi 20.000-30.000 /cup kepada pelanggan. Karena yang mahal adalah baristanya, brewernya, tempatnya, fasilitasnya, pelayanannya, komunikasinya, obrolannya, persaudaraannya. Kalau Kopi tidak pernah mahal. Catet! 

“Kopi tidak pernah mahal” 

Barulah kemudian mahal murah ini menjadi relatif untuk kepentingan bisnis, karena manusianya memang hidup dengan pemahaman yang relatif.

Kemungkinan kopi ini menggunakan kopi blend robusta 8 : 2 arabika dengan roastbean yang juga fresh. Murah meriah untuk menyambung hidup saya. Ya sebenarnya 

“hidupku sangat murah, tapi cintamu yang selalu membuatnya menjadi mahal”

#kopi #kopiindomaret #kopiindonesia #ngopisiang 

Akankah Indonesia Bubar?

Jokowi: “Aduh, modyar iki dab”

Dulu saya berfikir, dengan banyak membaca media akan membuat saya berilmu, pintar dan berpengetahuan luas. Maka saat itu saya wajib tiap hari baca koran sambil ngopi pagi, lalu beralih baca media online dan televisi.

Ternyata saya salah. Saya malah mengijinkan media menguasai diri saya, menguasai pikiran dan hati hingga lupa akan jati diri saya yang sebenarnya. Informasi sangat licin, tidak bisa saya kuasai. Malah justru sebaliknya, saya dikuasai informasi hingga ia memenjarakan pikiran saya.

Karena penasaran dengan hal ini, tahun 2014 saya pun nekad untuk mengorbankan kegiatan itu. Sudah 2 tahun lebih saya tidak nonton tv sama sekali, tidak baca koran blas, tidak baca berita media apapun. Ya hanya sesekali baca dan tonton untuk mencari sesuatu yang memang relevan dengan kebutuhan saya.

Ternyata benar, ilmu itu tidak datang dari media, ilmu datang dari dalam diri sendiri. Ilmu adalah sebuah pola dalam obyek yang ketika obyek tersebut diganti, maka ilmu itu akan tetap berlaku. Benar-benar hal ini mulai saya rasakan akhir-akhir ini.

Memang tanpa media, tanpa kartu pers, saya bukanlah siapa-siapa. Sudah tidak ada pejabat maupun polisi yang bersikap sopan sopan takut kepada saya. Tapi dengan menjadi biasa, pemahaman akal saya lebih mendapatkan posisi ditengah. Karena di tengah itu ternyata nikmat, diapit itu nikmat. Tapi tetep, posisi menentukan durasi 😄 Seperti angka 7 yang mudah turun menjadi 5 dan mudah naik menjadi 9.

Kalau tidak karena temen-temen facebook yang share sesuatu di beranda, saya blank tidak tau sama sekali perkembngan info dari media usai demo kemarin.

Kalau itu tulisan pribadi, ocehan blog seperti ini, atau media lokal, boleh lah sesekali saya baca. Tapi kalau media media nasional, maaf judul pun tidak minat saya baca.

Diluar sepengetahuan ini Saya tidak berani menyalahkan siapapun, tidak berani juga membenarkan siapapun. Ya siapapun mereka, dari kalangan ataupun pihak manapun mereka, sungguh saya tidak berani ambil sikap. Karena saya tau, permasalahan ini sangatlah panjang, luas dan dalam. Lebih dalam dari saat dimana rambutmu ketemu rambutnya, kulitmu ketemu kulitnya, airmu ketemu airnya dan cintamu ketemu cintanya.

Saya menyebutnya “angin jakarta 4 november 2016”. Memang bukan hari biasa, bukan hanya soal-soal yang dipersoalkan di panggung panggung itu, di media media itu. Bukan hanya soal Ahok, bukan hanya FPI, HMI, Jokowi, Tax Amnesty apalagi Ahmad Dhani.

Apalagi penistaan ayat Allah, itu bukan lah akar masalah. Bukan asal-usul perkara. Itu hanya salah satu produk masalah globalisasi. Tahun 2012 Mbah Nun pernah berkata

“itu seperti seseorang terpeleset kakinya dan terjatuh menimpa orang-orang di sekitarnya. Masalah utamanya bukan terpelesetnya itu, melainkan ada jalan panjang yang licin”

Orang maiyah tau, bahwa sudah lama ada pergerakan antara hitam dan putih yang samar untuk merampok kekayaan indonesia dengan strategi awal yaitu merapuhkan para penghuninya. Penghuni utama Negeri ini adalah Ummat Muhammad terbesar di dunia. Maka paket utama dalam strategi itu adalah mengadu-domba ummat itu melalui UUD 2002, ulama, ustad, media sehingga penduduk Negeri ini menjadi rapuh, rentan dan lumpuh soliditas kebersatuannya. 

Ya, sangat masuk akal. Dengan menggunakan 1 juta saudara-saudara kita yang sudah singgah di ibu kota kemarin, jangan lupa bahwa disisi lain masih ada lebih dari 299 juta saudara kita yang bingung karena ulah media. Mereka sibuk menyerap berita dan menelan langsung tanpa mengunyahnya. Apapun dimasukkan, mereka telan mentah-mentah. Kemajuan teknologi “Klik dan share “adalah sebuah domino effect yang powerfull yang dimanfaatkan para elit dunia. 

Dhani pun katanya terseret seret. Lha kok nyebut presiden, nama dewa saja berani ia sebut bahkan ia kuasai. Para dewa dewa jadi bingung dan bilang pada saya, “kampret bocah kae, jenengku di nggo jeneng band”. Bahkan Mahadewi pun ia pakai. Sayangnya Maha Segalanya tidak pernah berkata “anjing”, karena anjing adalah mahklukNya yang mulia. Ya, Tuhan begitu Maha Mulia dan Maha Eman (sayang) sama si gundul yang satu itu. 

Pernah nggak kalian berfikir, Apa mungkin negeri ini akan hancur ditahun 2016? atau 2018? atau 2024? atau 2038? Seperti orang orang meramalkan atau memprediksi. Atau malah tahun tahun itu cuma lewat saja? Seperti angin yang menggugurkan daun-daun itu.

Sungguh, aku pun tak tahu. Tapi kalau memang benar akan bubar, Aku sudah siap lahir dan batin. Sepertinya rakyat indonesia juga sudah siap, karena kita ini memang terlahir sebagai generasi manusia yang sangat kuat dari pada negara-negara lainnya. Namanya generasi milenial. Karena,

“Kita bisa mengubah tai menjadi roti dalam beberapa kali kunyahan saja”

“Kita bisa merubah tahu menjadi daging sapi dalam beberapa gigitan saja” 

“Kita bisa mengubah arang menjadi secangkir kopi dalam beberapa kali srutupan saja” 

“Kita bisa merubah pemimpin buruk menjadi baik dalam beberapa kali pandangan saja”

Dan masih banyak sekali hal-hal yang tak disangka dari kekuatan rakyat indonesia.

“Hai para negara negara penjajah, hai para kartel kartel dunia. Tunjukkan hidungmu! Jangan kau jadi pengecut saja. Tak semudah itu kau bisa robohkan kami rakyat indonesia. Nanti kau akan capek sendiri dengan apa yang kau lakukan kepada kami sejauh ini, bahkan sudah 600 tahun ini kau hanya bersembunyi saja”

“Sekaya apa sih Negeri ini sampai sampai kalian memperebutkan tanah kami? Dan memperkosa kami tanpa henti dari pagi, siang hingga malam”

“Sejengkal tanah kau pajaki, sesuap nasi kau pajaki, apa tidak sekalian saja kami bayar denda untuk setiap tai yang kami keluarkan setiap hari. Juga membayar wajib setiap pipis dan tangis yang membasahi tanah kami ini. Ayo gpp wes, kami ikhlas. Kami sayang kalian, kami tidak akan memberaki dan mempipisi muka kalian”

Cuma kadang saya bingung. Ya Tuhan, sebenarnya yang gendheng itu saya atau mereka?

Seorang pujangga di kediri, keturunan sunan kalijaga, seorang pangeran yang hidupnya merdeka, pernah berkata kepada saya (dalam mimpi), bahwa suatu saat memang akan datang hari-hari dimana,

Akeh udan salah mangsa, Pitik jago tarung sekandang

Wong tani ditali-tali, wong ngapusi berdendang dendang

Kanca dadi musuh, sedulur mangan sedulur

Wong jahat munggah pangkat, wong apik kepidak pidak

Wong dagang soyo laris dagangane, soyo ludes bondone

Para juragan menjadi umpan, yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

Si pandai direcoki, Si jahat dimanjakan

Sementara orang yang mengerti makan hati.

~ Sri Aji Joyoboyo, tahun 1666 

Tulisan ini tidak perlu dipercaya, tidak perlu dibenarkan. Kalau disalahkan malah bagus, karena saya cuma tutur-tutur saja, ya anggap saja ini obrolan biasanya kita kalau lagi di warung kopi. Jadi tulisan ini langsung muncul begitu saja, otentik saat itu juga dan bisa berubah sewaktu waktu semau-mau hati dan pikiran saya. Semau Tuhan memberi petunjuk kepada saya.

Terimakasih, salam kekopian ☕😁

Saya Tidak Terlalu Cinta Kopi


​Ilmu gaib (tak tampak) tidak mengenal, siapa penulisnya? Apa gelarnya? Apa jabatannya? Apa karyanya? Karena setiap nafas bahkan setiap sel makhluk selalu ada campur tangan Sang Pencipta, Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widhi, Tuhan, Allah, Bapa atau nama apapun itu selama nama yang Agung temuan manusia.  

Terkadang, saya ngomong juga baru tau setelah saya omongkan. Saya nulis juga baru tau setelah saya tuliskan. Saya main gitar juga baru tau setelah saya main gitar. Saya nyeduh kopi juga baru tau setelah saya nyeduh kopi.

Karena semua ini adalah perihal budaya, terjadi improvisasi dan mengalir begitu saja. Tidak ada standarisasi seperti halnya dalam bisnis dan management, tidak ada teori teori maupun fakta ilmiah yang saya dekap terlalu lama. 

Saya berani mengorbankan biji kopi untuk mendapatkan segelas kopi. 

Saya berani mengorbankan segelas kopi untuk mendapatkan manfaat dalam tenaga, hati dan pikiran.

Saya berani mengorbankan tenaga, hati dan pikiran untuk mendapatkan rizki

Saya berani mengorbankan rizki untuk mendapatkan kebenaran

Saya berani mengorbankan kebenaran untuk mendapatkan kebaikan

Saya berani mengorbankan kebaikan untuk mendapatkan kepuasan

Saya berani mengorbankan kepuasan untuk mendapatkan kemuliaan

Saya berani mengorbankan pemahaman lama untuk mendapat pemahaman baru. 

Itulah ilmu rasa dalam bahasa, musik blues, jazz hingga kopi sejauh yang saya rasakan selama ini. 

Saya benar benar tidak terlalu cinta semuanya. Tidak terlalu cinta musik, tidak terlalu cinta kopi dan tidak tidak terlalu lainnya. Karena untuk perihal cinta pun saya juga baru tau setelah saya mencinta.