Menikah dengan 4 Hal

Menikah
Menikah dengan 4 hal
MENIKAH. Menurut konsep hukum Tuhan, setiap Manusia dalam perjalanannya perlu menikahkan dirinya dengan 4 hal:

  1. Menikahkan dirinya dengan Tuhan dan para staf-Nya
  2. Menikahkan dirinya dengan alam semesta
  3. Menikahkan dirinya dengan dirinya sendiri
  4. Menikahkan dirinya denganmu dalam pelaminan 

Sebagaimana Roh kita juga menikah dengan 4 hal. Yaitu menikah dengan akal, hati, perut dan syahwat kita. Atau sebagaimana “sedulur papat” kita nikahi juga meski tanpa kita sadar keberadaan mereka.

Jika kita sombong karena sudah menikah dengan sesama manusia, sesungguhnya kita belum lah berarti apa apa dimataNya

“Janganlah sunyi kau anggap tiada”

Telolet om Telolet Jalanan Nusantara

Om telolet
Om telolet om

Telolet om telolet menjadi sangat ramai di bumi nusantara ini. Bahkan sudah go internasional sampai negara japan dan amerika pun juga ikut-ikutan. “Telolet om telolet”. Kita ndak usah “gumun”, nanti tak jelaskan di bawah. 

Ya lucu, ya mangkel (geram). Lha gimana, tiap kita buka sosmed isinya telolet, di jalanan juga banyak orang yang minta “telolet” ke bis bis yang lewat. Temen-temen disini pasti juga mengalami seperti saya. Tapi kebahagiaan sederhana ini ternyata juga menimbulkan ketidaksenangan di kalangan kalangan tertentu, khususnya kaum intelektual. Akhirnya saya pun gatal, bikin kopi dan nulis uneg uneg ini

MENYIKAPI TELOLET

Sebelum sikap manusia terbentuk dan terealisasi, maka proses sebelumnya adalah proses menata cara pandang, sudut pandang dan jarak pandang akal kita terhadap hal tersebut. 

Satu-satunya ilmu di dunia yang mampu menata itu adalah cara pandang jawa, menggunakan filsafat jawa kuno. Dimana sebuah peradaban tertua dengan kekayaan bahasa yang sangat detail, akurat serta kuat poros katanya. 

Biarlah teloleters menciptakan kebahagiaan mereka sendiri, karena pemerintahan ini tak mampu membahagiakan mereka sebagaimana seharusnya

Om telolet om adalah sebuah temuan kata yang baru dari jepara yang sangat detail menggambarkan sesuatu. 

Telolet: berarti bunyi klakson bus. Tidak mungkin mereka minta telolet ke ambulan lewat 😕

Sebelumnya juga banyak sekali temuan kata baru beberapa tahun belakangan ini seperti; 

Alay: Berarti orang kampungan yang lebay. Berasal dari lagu jawa dangdut koplo “Alay, Anak Layangan..”

Asolole: Berarti bebas enak nikmat. Berasal dari lagu Triomacan

Ababil: Anak baru gedhe yang labil

Labil: Tidak stabil tingkah lakunya

Kimcil: berarti kimpet cilik. Remaja putri yang lelakunya sok dewasa, padahal belum

Gondes: Berarti Gondrong deso. 

Dan masih banyak lagi istilah baru yang kita miliki. Itu baru 5 tahun belakangan ini. Belum 100 tahun lalu, 1000 tahun lalu, bahkan 2000 tahun sebelum masehi, dimana nusantara ini sudah “Gemah ripah lohjinawi”, nyaman dan bermanusia baik tidak seperti kaum babylonia, mesir dan arab pada saat itu hingga terpaksa laknat Allah diturunkan beserta wahyu kepada para nabi. 

Saya bukan anti daerah lain, yang saya maksud ini juga bukan jawa sentris. Jawa itu ya nusantara/indonesia ini. Entah keturunan mana pun yang sudah mendarah dengan tanah ini. 
Istilah lama seperti Kecut, pesing, gragas, maling, nguntal, dahar dll sudah tak terhitung jumlahnya. Belum dari betawi, madura, kutai, borneo dll. 

Butuh bertahun tahun hingga berabad abad untuk menemukan 1 kata/istilah baru dalam pustaka bahasa. 

Maka gak usah gumunan, gak usah melarang, gak usah muni muni ada euforia telolet. Biarlah mereka mencari kebahagiaan mereka dengan caranya sendiri. 

“Pintar itu perlu, tapi disaat saat tertentu menjadi bodoh itu juga perlu”

Biarlah mereka menikmati telolet, karna mereka memang bodoh secara sistem pendidikan yang ada, tapi mereka sangat pintar perihal mengubah tahu menjadi daging sapi, mereka pintar memawangi dirinya dan mampu lebih besar dari masalah hidup sendiri. 

“Kebaikan tidak bisa berdiri sendiri dan tidak bisa berhenti. Karena baik untuk kita belum tentu baik untuk orang lain, baik untuk orang banyak. Pun baik dari orang banyak juga belum tentu baik untuk diri kita sendiri” 

Hanya kita sendiri yang bisa mencari tau siapa diri kita? Dan seperti apa kehebatan kehebatan yang kita punya? Kita itu ayam, elang, gajah, semut, atau apa? Sehingga kita tau kelemahan dan kelebihan diri kita. Karena kalau ayam tidak mungkin bisa terbang, kalau gajah tidak mungkin bisa berenang. 

Kenapa negara negara besar sangat melirik kita? Sangat kepo dengan apa yang kita lakukan sampai mereka mau meniru kita. Kenapa kita malah tidak bangga. Why? 

Kalo saya kok malah pengen menikmati telolet sambil ngopi ☕😁 Jam jam sore cocok nih, yok budal golek telolet nang terminal ben marem 🚌🚆🚃🚍🚆 😄

Kursi Rimba

Puisi
Kursi rimba (img: artpeoplegallery)

Karena ia adalah pintu masuk rumah dari furniture furniture besar yang sudah terbungkus rapi
Karena ia adalah jendela dari sirkulasi asap asap yang menyesakkan penghuni

Karena ia adalah tamu yang meniduri pemilik rumah yang sudah menyuguhi kopi

Karena ia adalah gula dari rasa manis yang menggerogoti sel sel tubuh hingga mati

ia lah Koh Ah ah.. sang pekerja panggung hiburan dari hitamnya bisnis dunia

#kekopian #kopi #ngopidulu #ngopi #kopilampung #kopiindonesia

Debat Sesatnya Hidup

Bahasa indonesia
Contoh Bahasa Jawa yang sangat detail

Debat adalah ketidakmutuan, koma, apalagi debat kusir pakai bahasa indonesia. Para elit-elit layar kaca itu tau kok, elit politik tau kok, mereka bukan orang bodoh. Justru mereka itu orang orang pilihan yang rakyat bayar mahal karena kepintarannya. 

Gimana mau debat, kalau setiap kata bahasa indonesia yang dipakai tidak bisa berdiri sendiri. Tidak kuat porosnya. Bahkan perlu didefinisikan dulu dalam beberapa kata biar tidak mengalami pergeseran makna. 

Debat macam apa itu? Sama saja dengan orang tersesat dijalan, tanya dengan orang yang tersesat juga. Bukannya diskusi cari jalan keluar malah saling menyalahkan. 

Bahasa milik kita ini memang tidak punya pondasi yang kuat seperti yang dimiliki bahasa daerah, misalnya bahasa jawa. Tingkat detailnya jauh lebih detail bahasa jawa. 

Kalau lencung ya pasti kotoran ayam

Kalau kopet, ya pasti kotoran manusia 

Dalam bahasa indonesia minimal butuh 2 kata untuk menunjuk sesuatu, untuk menguatkan makna. Seperti; kotoran Ayam, kotoran Manusia. Sementara bahasa jawa, cukup 1 kata yaitu, lencung, kopet. Itu yang saya maksud tingkal detail / poros sebuah kata dalam bahasa. Itu cuma contoh saja, bisa kamu cari sendiri kata lainnya. 

Jadi jangan berdebat awam soal syirik, riba, syariah, kafir, kufur, halal, haram. Itu semua gak bisa berdiri sendiri. Pelajari dulu bahasanya, telusuri dulu asal usulnya, dan pahami dulu seperti apa kondisinya. 

Nek aku teko gampang lah cah 

“Jika datang sebuah ajaran agama kepadamu namun membuatmu pusing di atur atur, teko minggat!”

“Tinggalkan agama itu, tapi teruslah dalam pencarianmu!” 

“Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak tersesat” 

“Karena selama manusia hidup, selama itu pula ia tersesat”

Mereka yang harusnya meniru cara ngopimu

Kopi dan biskuit

​Teman kopi adalah biscuits, sahabat kopi adalah brownis. Brownis’e mbahmu 😕

Piye to ilat mu? Jajanan pasar 500 rupiah ini jelas jelas lebih nikmat dibanding biscuits 5000 rupiah itu. Apalagi buat temen ngopi robusta. Kenikmatannya setingkat diatas teman dan sahabat. 

Jajanan pasar
Kopi dan pukis

Jika ​teman kopi adalah biscuits

Jika sahabat kopi adalah brownis

Maka

Kekasih kopi adalah pukis

Mau apa? Jelas jelas jumlah jajanan di indonesia itu ada ratusan. Saking (terlalu) banyaknya, mustahil mereka (negara negara lain) bisa meniru kita. Mereka pengen banget meniru kamu, kok kamu malah meniru mereka. Kopi aja mereka ndak punya kok mau ngajari ngopi. Piye to iki 😕

Merasakan kopi bisa detail banget, saking detailnya saya tidak bisa membedakan yang mana peminum kopi, yang mana roaster dan yang mana Q-Grader. Tapi merasakan makanan aja gak bisa. Ahli 1 hal itu bagus, tapi jangan sampai dibodohkan dalam banyak hal lainnya.
Hmm 😕 lagi lagi memang bener. “Hidupku memang murah, cintamu saja yang membuatnya mahal”

Kok Menanam Bibit Besi

Sunda RancabaliHolland tourism in Sunda Rancabali (@bengalano
Kalau negara bukan penghasil kopi bilang “cafein tinggi itu buruk”, maka saya memilih minum kopi dengan cafein tinggi.

Kalau negara bukan penghasil tembakau bilang “nikotin tinggi itu buruk”, maka saya memilih tembakau dengan nikotin tinggi. 

Cara berbisnis negara negara bukan penghasil kopi adalah menciptakan “alat-alat kopi” modern dan terus berinovasi, karena mereka sadar diri, negaranya tidak bisa berbisnis dengan menghasilkan kopi. 

Ini bukan hanya perihal tembakau dan kopi saja, semua hasil bumi juga seperti itu. 

“Namanya juga bisnis”

“Semakin bisnis itu maju, semakin banyak hutangnya”

“Pemodal lebih besar selalu menguasai bisnis”

“Penguasa bisnis tertinggi selalu pencipta bisnis itu sendiri”

Puisi petani
“Pertanian adalah soal maju mundurnya suatu bangsa” – Soekarno

Sekarang negara japan menjadi negara maju penghutang terbesar di dunia. Lha kalau semua negara negara hutang, pertanyaannya “Hutang pada siapa?” Ya dengan panitia belakang panggung yang ternyata orangnya hanya itu itu saja.
Jadi tak perlu heran dengan kemajuan teknologi negara negara itu, nyatanya dari dulu bisnisnya tidak ada yang benar benar berubah kan?

Kok malah kita mau adopsi cara cara bisnis negara japan, Yunani, Italia, china, Amerika itu. 

“Kok malah menanam bibit besi”

“Kok malah memupuk dengan batu bata”

“Kok malah menutup siraman dengan genteng”

“Kok malah menganti sawah menjadi rumah mewah”

Akankah Indonesia Bubar?

Jokowi: “Aduh, modyar iki dab”

Dulu saya berfikir, dengan banyak membaca media akan membuat saya berilmu, pintar dan berpengetahuan luas. Maka saat itu saya wajib tiap hari baca koran sambil ngopi pagi, lalu beralih baca media online dan televisi.

Ternyata saya salah. Saya malah mengijinkan media menguasai diri saya, menguasai pikiran dan hati hingga lupa akan jati diri saya yang sebenarnya. Informasi sangat licin, tidak bisa saya kuasai. Malah justru sebaliknya, saya dikuasai informasi hingga ia memenjarakan pikiran saya.

Karena penasaran dengan hal ini, tahun 2014 saya pun nekad untuk mengorbankan kegiatan itu. Sudah 2 tahun lebih saya tidak nonton tv sama sekali, tidak baca koran blas, tidak baca berita media apapun. Ya hanya sesekali baca dan tonton untuk mencari sesuatu yang memang relevan dengan kebutuhan saya.

Ternyata benar, ilmu itu tidak datang dari media, ilmu datang dari dalam diri sendiri. Ilmu adalah sebuah pola dalam obyek yang ketika obyek tersebut diganti, maka ilmu itu akan tetap berlaku. Benar-benar hal ini mulai saya rasakan akhir-akhir ini.

Memang tanpa media, tanpa kartu pers, saya bukanlah siapa-siapa. Sudah tidak ada pejabat maupun polisi yang bersikap sopan sopan takut kepada saya. Tapi dengan menjadi biasa, pemahaman akal saya lebih mendapatkan posisi ditengah. Karena di tengah itu ternyata nikmat, diapit itu nikmat. Tapi tetep, posisi menentukan durasi 😄 Seperti angka 7 yang mudah turun menjadi 5 dan mudah naik menjadi 9.

Kalau tidak karena temen-temen facebook yang share sesuatu di beranda, saya blank tidak tau sama sekali perkembngan info dari media usai demo kemarin.

Kalau itu tulisan pribadi, ocehan blog seperti ini, atau media lokal, boleh lah sesekali saya baca. Tapi kalau media media nasional, maaf judul pun tidak minat saya baca.

Diluar sepengetahuan ini Saya tidak berani menyalahkan siapapun, tidak berani juga membenarkan siapapun. Ya siapapun mereka, dari kalangan ataupun pihak manapun mereka, sungguh saya tidak berani ambil sikap. Karena saya tau, permasalahan ini sangatlah panjang, luas dan dalam. Lebih dalam dari saat dimana rambutmu ketemu rambutnya, kulitmu ketemu kulitnya, airmu ketemu airnya dan cintamu ketemu cintanya.

Saya menyebutnya “angin jakarta 4 november 2016”. Memang bukan hari biasa, bukan hanya soal-soal yang dipersoalkan di panggung panggung itu, di media media itu. Bukan hanya soal Ahok, bukan hanya FPI, HMI, Jokowi, Tax Amnesty apalagi Ahmad Dhani.

Apalagi penistaan ayat Allah, itu bukan lah akar masalah. Bukan asal-usul perkara. Itu hanya salah satu produk masalah globalisasi. Tahun 2012 Mbah Nun pernah berkata

“itu seperti seseorang terpeleset kakinya dan terjatuh menimpa orang-orang di sekitarnya. Masalah utamanya bukan terpelesetnya itu, melainkan ada jalan panjang yang licin”

Orang maiyah tau, bahwa sudah lama ada pergerakan antara hitam dan putih yang samar untuk merampok kekayaan indonesia dengan strategi awal yaitu merapuhkan para penghuninya. Penghuni utama Negeri ini adalah Ummat Muhammad terbesar di dunia. Maka paket utama dalam strategi itu adalah mengadu-domba ummat itu melalui UUD 2002, ulama, ustad, media sehingga penduduk Negeri ini menjadi rapuh, rentan dan lumpuh soliditas kebersatuannya. 

Ya, sangat masuk akal. Dengan menggunakan 1 juta saudara-saudara kita yang sudah singgah di ibu kota kemarin, jangan lupa bahwa disisi lain masih ada lebih dari 299 juta saudara kita yang bingung karena ulah media. Mereka sibuk menyerap berita dan menelan langsung tanpa mengunyahnya. Apapun dimasukkan, mereka telan mentah-mentah. Kemajuan teknologi “Klik dan share “adalah sebuah domino effect yang powerfull yang dimanfaatkan para elit dunia. 

Dhani pun katanya terseret seret. Lha kok nyebut presiden, nama dewa saja berani ia sebut bahkan ia kuasai. Para dewa dewa jadi bingung dan bilang pada saya, “kampret bocah kae, jenengku di nggo jeneng band”. Bahkan Mahadewi pun ia pakai. Sayangnya Maha Segalanya tidak pernah berkata “anjing”, karena anjing adalah mahklukNya yang mulia. Ya, Tuhan begitu Maha Mulia dan Maha Eman (sayang) sama si gundul yang satu itu. 

Pernah nggak kalian berfikir, Apa mungkin negeri ini akan hancur ditahun 2016? atau 2018? atau 2024? atau 2038? Seperti orang orang meramalkan atau memprediksi. Atau malah tahun tahun itu cuma lewat saja? Seperti angin yang menggugurkan daun-daun itu.

Sungguh, aku pun tak tahu. Tapi kalau memang benar akan bubar, Aku sudah siap lahir dan batin. Sepertinya rakyat indonesia juga sudah siap, karena kita ini memang terlahir sebagai generasi manusia yang sangat kuat dari pada negara-negara lainnya. Namanya generasi milenial. Karena,

“Kita bisa mengubah tai menjadi roti dalam beberapa kali kunyahan saja”

“Kita bisa merubah tahu menjadi daging sapi dalam beberapa gigitan saja” 

“Kita bisa mengubah arang menjadi secangkir kopi dalam beberapa kali srutupan saja” 

“Kita bisa merubah pemimpin buruk menjadi baik dalam beberapa kali pandangan saja”

Dan masih banyak sekali hal-hal yang tak disangka dari kekuatan rakyat indonesia.

“Hai para negara negara penjajah, hai para kartel kartel dunia. Tunjukkan hidungmu! Jangan kau jadi pengecut saja. Tak semudah itu kau bisa robohkan kami rakyat indonesia. Nanti kau akan capek sendiri dengan apa yang kau lakukan kepada kami sejauh ini, bahkan sudah 600 tahun ini kau hanya bersembunyi saja”

“Sekaya apa sih Negeri ini sampai sampai kalian memperebutkan tanah kami? Dan memperkosa kami tanpa henti dari pagi, siang hingga malam”

“Sejengkal tanah kau pajaki, sesuap nasi kau pajaki, apa tidak sekalian saja kami bayar denda untuk setiap tai yang kami keluarkan setiap hari. Juga membayar wajib setiap pipis dan tangis yang membasahi tanah kami ini. Ayo gpp wes, kami ikhlas. Kami sayang kalian, kami tidak akan memberaki dan mempipisi muka kalian”

Cuma kadang saya bingung. Ya Tuhan, sebenarnya yang gendheng itu saya atau mereka?

Seorang pujangga di kediri, keturunan sunan kalijaga, seorang pangeran yang hidupnya merdeka, pernah berkata kepada saya (dalam mimpi), bahwa suatu saat memang akan datang hari-hari dimana,

Akeh udan salah mangsa, Pitik jago tarung sekandang

Wong tani ditali-tali, wong ngapusi berdendang dendang

Kanca dadi musuh, sedulur mangan sedulur

Wong jahat munggah pangkat, wong apik kepidak pidak

Wong dagang soyo laris dagangane, soyo ludes bondone

Para juragan menjadi umpan, yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

Si pandai direcoki, Si jahat dimanjakan

Sementara orang yang mengerti makan hati.

~ Sri Aji Joyoboyo, tahun 1666 

Tulisan ini tidak perlu dipercaya, tidak perlu dibenarkan. Kalau disalahkan malah bagus, karena saya cuma tutur-tutur saja, ya anggap saja ini obrolan biasanya kita kalau lagi di warung kopi. Jadi tulisan ini langsung muncul begitu saja, otentik saat itu juga dan bisa berubah sewaktu waktu semau-mau hati dan pikiran saya. Semau Tuhan memberi petunjuk kepada saya.

Terimakasih, salam kekopian ☕😁

Doa Hari Pahlawan Untuk Pemimpin Kita

Foto: Bung Tomo

​10 november 1945 telah kita sepakati sebagai hari pahlawan. Mari hari ini kita berdoa, semoga pemimpin kita tercinta bisa “tiba tiba berubah 180°”. 

Semoga Dia mau belajar ke surabaya. Belajar dari bung Tomo, belajar dari Hasyim Asyari, belajar dari seorang pemuda yg berani membunuh Jendral kolonial mereka, Mallaby dan sampai saat ini tidak diketahui siapa pemuda tersebut. 

Semoga pemimpin kita berani memakai peci setiap hari, meskipun saat itu juga akan mereka lengserkan. Semoga dia bisa membedakan antara pidato dan sholat, kalau pidato itu dengan tangan diatas dan suara lantang. 

Semoga dia berani berjabat tangan dengan pemimpin negara lain tanpa membungkuk dan bahkan yang utama adalah dia berani mati untuk menjadi pahlawan indonesia sehingga hidupnya dikenang kedalam jiwa anak cucu kita sepanjang massa. Aamiin 😁

Setiap hari diri saya masih berharap punya pemimpin seperti itu 😁 tapi diri saya yg lain selalu berkata.. “DOBOL, RA MUNGKIN WANI LEH” 😩

DIPERKOSA MACAN

Memang betul, server database E-KTP kita sudah ada di tangan macan. Jadi macan sudah punya seluruh data personal kita. Data hampir 300 juta makhluk di hutan rimba ini. 

Sudah banyak ditemukan kasus kasus EKTP palsu tapi asli yang mereka buat dan mereka gunakan untuk menyusup ke hutan ini. 

Macan-macan mulai menyusup, berbekal KTP WNI. Entah berapa jumlahnya, entah macan biasa atau macan biasa yang siap militer atau malah murni macan militer. Mereka sudah masuk jauh sebelum ada cucu macan menjadi pemimpin daerah. 

Macan-macan akan bersatu dalam rerumputan yang lebat itu. Memang benar, pemimpin tidak akan mencalonkan diri. Pemimpin selalu didorong dorong kawannya untuk bersedia memimpin kaumnya. Menjadi pemimpin tertinggi di hutan rimba ini adalah awal dari kepemimpinan kaumnya.

Semisal tidak jadi pemimpin daerah, tidak jadi pemimpin tertinggi, alias lengser suatu saat, macan-macan pun selalu punya cara lain untuk mencari mangsa. Bertahan hidup demi perut dan kekuasaan rimba.

Sebagian penghuni rimba tau bahwa ada proyek besar reklamasi sepanjang pantai utara yang memakai 30% pekerjanya adalah macan, bahan baku, dan pinjaman modal juga dari kawanan macan. Bahkan, bangunan itu belum jadi pun, semuanya sudah laku dibeli macan macan kaya di hutan asalnya, karena memang mereka sudah sepakat hanya mengiklankan itu di hutan asalnya. 

Kepemilikan senjata api juga diperbolehkan di hutan ini. Ya, karena memang senjata ini untuk berburu binatang. Jadi ya boleh. Tapi perijinannya mahal, hanya macan-macan kaya yang mampu membayarnya, yang mampu memilikinya. Penghuni di hutan ini mana mungkin semampu itu. Untuk memberi makan anak saja masih terpincang-pincang. Mereka lebih memilih makan rumput dan dedaunan ketimbang makan daging yang mahal. 

Ah sudahlah, memang masih banyak sekali yang tidak kita ketahui soal strategi itu. Kita keluar saja dari hutan itu. Lalu menikmati kopi di warung kecil biasanya. 

Semua orang tau kalau PELACUR itu manusia buruk. Bahkan sebelum ada agama saja manusia tidak mau jadi pelacur. Hanya kaum kaum tertentu yang memang ditakdirkan jadi pelacur. Tapi kata Tuhan, tidak ada 1 hal pun yang buruk di dunia ini. Maka yang relevan dan ‘apik’ berlaku adalah ilmu bulat, kalau di jawa namanya ‘ilmu papan panggonan’ berdasarkan atau berlandaskan rasa.  Yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya, sehingga akan menciptakan 3 nilai yaitu bener, baik dan apik yang menjadi nilai tertingginya.

Lalu, kalau ada seorang manusia yang “melacur” untuk membebaskan ibunya yang terus diperkosa karena hutang keluarga, Apakah kau anggap itu buruk? 

Kopi Kontinuasi dan Kopi Adopsi


KEKOPIAN. Aku memandang dalam bingung. Menoleh ke pohon pohon kopi pagi itu. Ditemani segelas kopi hitam aku bertanya kepada Tuhan, 

“Ya Tuhan, Kenapa mereka bilang support petani kopi indonesia jika yang mereka sebarkan adalah gaya hidup kemewahan kota?” 

“Ya Tuhan, Kenapa penikmat kopi seperti kami mereka sebut target market. Apa kami hanya target bagi mereka-mereka untuk terus mengeruk uang kami” 

“Ya Tuhan, Kenapa domino effect bisa sampai ke negeriku yang sudah kaya ini” 

Di lain hari seorang petani juga bingung dan bertanya kepadaku, 

“Mas, bagaimana cara membuat kopi yg ada gambarnya itu” 

Aku pun tak bisa menjawabnya, karna untuk grinder kopi saja ia tak punya 😥 

Berdasarkan riset iseng sederhana yang dilakukan @hendry__art di dunia maya, ternyata lebih dari 90% postingan akun pribadi, kedai, cafe dan media kopi terus mengunggah kemewahan. Mereka berkompetisi dagang dan popularitas. Entah seberapa tinggi nilai advetorial yang mereka komunikasikan dari belakang panggung. Kami yakin itu tidak lah cuma-cuma. Sementara kurang dari 10% saja kopi hitam mereka angkat. 

Bukan aku anti gaya hidup kota, anti modern dan tidak support petani. Tapi mbok ya nggak perlu munafik. Lantang memuliakan petani tapi tak sebanding dengan apa yang kita lakukan untuk mereka. Lha beli bean saja masih nawar-nawar kok bilang support. Kalau support ya ajari mereka mandiri, sampai bisa memasarkan produknya sendiri, sampai keluarga keluarganya bisa membuka kedai kedai sendiri. Ilmu kok diperjual belikan, ilmu itu ya dibagi. 

Takut miskin kan? Ya betul, karena kita memang tidak seberani seperti para petani. Mereka tak takut miskin, tak takut makan apa, kita yang takut makan apa. Kok malah kita yang “ngajari” bertahan hidup kepada petani. 

Dilain sudut, aku faham betul orang-orang kekopian. Aku kenal baik beberapa dari mereka. Mulai dari tukang ngopi sepertiku, petani, barista, roaster ternama hingga pejabat pejabat pemerintahan. Mereka begitu mencintai kopi, dan bercita-cita sama, agar kopi ini bisa dinikmati semua kalangan. 

Tapi selalu saja ada hal-hal yang membuat kami terkotak-kotak. Memang betul syair prabu Joyoboyo, “Wong tani ditali-tali”. Gak bisa bergerak, nggak bisa bertindak. Meski semua orang memuliakan petani, tapi tindakan-tindakan kita tak pernah benar-benar sejalan dengan petani. 

Jika petani menganut paham kontinuasi, kita menganut paham adopsi. Jika petani belajar banyak dengan tradisi, dengan budaya, dengan sesepuh-sesepuhnya. Kita justru merusak tradisi mereka dengan pengetahuan modern kemarin sore yang kita miliki. Memang, Isu kesehatan selalu menjadi strategi jitu setelah isu agama. 

Kalau kata senior saya, Amron, jangan sampai kita menganut agama diam. Yaitu manusia dengan nilai-nilai cuek, acuh tak acuh dengan hal-hal yang sederhana disekekilingnya. Tak penting untuk dirinya sendiri. 

Mungkin mereka lupa kalau manusia itu punya 3 peran di dunia. Yaitu manusia sebagai makhluk hidup, manusia sebagai kekasih Tuhan dan manusia sebagai khilafah atas dirinya sendiri. Persis seperti filosofi kopi yang terdiri dari kulit, buah dan biji kopi. 

Ingin aku pergi dari keramaian ini, tapi aku masih butuh kopi dalam hari hariku. 

Aku memilih berhenti saja dulu jualan kopi dan menjadi penikmat saja. Aku tidak takut pelangganku hilang, karena aku tak punya “target market”. Aku tak faham apa itu kesuksesan. Bingung, harus mulai dari mana aku. Petani, proses lepas panen, roaster, barista atau pemilik kedai saja? 

Kemana kesedihanku ini akan mengalir? Apakah benar liberalisme dunia juga ada dalam dunia kekopian kita? 

Melalui dunia kekopian, Kami sudah terbiasa berbeda, jadi dunia kami sangat menyenangkan. Berbeda itu sehat. 

Tapi aku sadar, kesedihan memang sesekali perlu datang. Agar aku kuat mengolah kesedihan ini. 


Teman-temanku pasti akan bilang, “jangan sedih mas, ngopi saja dulu”. 

Dan aku juga bilang, jangan percaya dengan omonganku. Jangan membenarkan dan menyalahkan dengan tidak merangkulku. Karena aku cuma tutur-tutur saja, bisa berubah pikiran kapan saja semau hati dan pikiranku. 


Photo by: Camera Indonesia @anak_dusun_ 

#kopi #kopiindonesia #budayangopi #budayakopi #barista #coffee #ngopi #kopinusantara #kopiindonesiakeren