Filosofi Kekopian

Budaya ngopi
Kulit kopi, buah kopi dan biji kopi

Terimakasih buat temen temen setia pembaca blog ini atau pun instagram (@dickopurnomo). Sebuah kebanggan buat saya dipuji oleh kalian. Hal itu justru membuat saya perlu berdiplomasi, semakin merunduk, semakin rendah dan semakin merasa bukan siapa-siapa. Karena memang sejatinya yang memuji selalu lebih tinggi daripada yang dipuji. 

Kali ini saya membahas filosofi yang sangat dasar. Saya merasa ada hal yang perlu di “dandani”, diperbaiki atau direkonstruksi pemahamannya karena sudah salah kaprah dalam setahun ini. Meski tidak saya sebutkan secara “gamblang” (terbuka), semoga temen temen bisa menangkap apa yang saya maksud. 

Ini bukan soal buku, film ataupun kedai filosofi kopi itu. Ini filosofi kekopian (dunia kopi) yang saya pelajari beberapa tahun belakangan ini. 

Saya kira semua orang-orang panggung itu bukan Tuhan kok, bukan Malaikat kok, bukan Rosul utusan Tuhan kok. Semuanya sama kok, kita pun bisa menemukan filosofi diri kita sendiri. Justru itu akan menghasilkan sebuah filosofi yang otentik, yang original, murni, suci tanpa sekedar adopsi sana sini.

Oke? Kita buang saja kata filosofi, atau saya ganti dengan yang lebih sederhana. Saya akan mencoba memahami 1 red cherry coffee / satu buah kopi dengan Ilmu pendekatan budaya. Jika kita ingin membudayakan sesuatu, maka hal yang utama adalah rekonstruksi pemahaman, sesuai dengan urutan urutan dalam kebudayaan. Sebagaimana dipilihnya nama Bumi, ibu kota, ibu jari, ibu pertiwi. Karena pemilihan nama “ibu” tersebut adalah soal pendekatan budaya, yang bersifat feminim. 

Namanya Ilmu, maka sifatnya harus bisa berlaku untuk semua hal. Karena Ilmu adalah pola, atau sesuatu yang berpola adalah ilmu. Maka ia bukan hanya sekedar pengetahuan/informasi, ia lebih dari itu.

Dalam ilmu, ketika objek diganti, pola itu akan tetap berlaku. Pola ini bisa kita gunakan untuk pendekatan dalam dunia pendidikan, Agama, Strategi marketing, kekopian, hingga PDKT dengan cewek. 

Ya, berbagi ilmu itu gratis tanpa syarat, tanpa koma dan langsung titik. Kalau ada acara seminar, workshop atau apapun yang sejenis bersifat “berbagi ilmu” tapi wajib membayar, maka besar kemungkinan acara tersebut adalah acara bisnis. Hanya ada untung untungan. Berapa untungnya, apa keuntungannya dan untuk apa tujuannya. Makanya kita jangan “gumunan” mudah ikut ikutan ini itu. Telaah dulu, cari tau apa benar mereka berbagi, apa benar mereka sedekah? 

FILOSOFI KEKOPIAN 

  1. Kulit = Melindungi, mengayomi
  2. Buah = Menyayangi, mencintai, lembut, manis, feminimisme 
  3. Biji = Mengatur, keras, sistematis 

Urutannya itu 1 2 3, jangan kita balik balik, nanti kacau. Baru mau kenalan sama cewek kok udah ngatur ngatur (No.3 biji). Mau mengenalkan kopi kok udah ngatur ngatur harus ini harus itu. Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Ya pasti lari dong dia. Ya cuma ngopi sesekali, habis itu ya nyusu lagi, nyaset lagi 😄 

Banyak sekali aturan aturan yang diberlakukan dalam dunia kekopian yang bersifat “liberal monopoli”. 

Jujur, sebagai penikmat kopi saya takut, saya merasa di atur atur. Tidak boleh giling halus lah, tidak boleh suhu sekian lah, tidak boleh pakai ini lah, itu lah, harus pakai kopi ini lah, timbangan lah, timer lah, alat-alat khusus lah. 

Saya pun mbatin, Mereka ini berbudaya enggak ya? Kok saya heran, gak bisa dicerna dalam logika saya tentang aturan aturan itu πŸ˜• 

Kalau mau berfilosofi, mau pakai filosofi yang mana? Yunani atau jawa atau apa?

Mari sama sama kita belajar lagi, apa itu kulit kopi, apa itu buah kopi, apa itu biji kopi. Hal apa saja yang bisa kita pelajari dengan satu buah kopi ini. 

“Karena Firman Allah juga diturunkan melalui kopi”

Iklan

15 thoughts on “Filosofi Kekopian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s