Angin Jakarta 4 November 2016 

Foto: Acara Malam Puncak Bulan Bahasa dan Sastra bersama Caknun, Kiai Kanjeng, Iman, dll

Jangankan di jakarta, bahkan untuk menyebut Allahu akbar di masjid depan rumahku saja aku harus memfokuskan diri dan mencari cari dulu hal apa saja Hyang besar, Hyang agung, Hyang mengagumkan di alam semesta ini. 

Tidak ada Allahuakbar gorok, Allahuakbar bacok dalam sejarah Islam yg ku pelajari kemaren sore. Kalaupun ada, itu karna kondisinya berbeda. Perang misalnya, Itupun hanya untuk bentuk simbolis persatuan militer kaumnya. Biar gampang, biar tergerak hatinya. 

Ucapan Allahu akbar mulai dari Adzan di masjid sampai yg di katakan dalam hati seseorang, Kok menurutku kita harus kagum dulu, baru tidak malu mengucapkan itu. Mungkin lebih baik kita ucapkan, asu, celeng, bajingan, jancuk dalam setiap “adzan adzan” itu. Lebih baik aku diam, saat kekaguman belum kutemukan. 

Aku yg bukan islam saja malu dengan Jibril dan para staf staf Allah ini. 

Wahai Jibril, kata Allah ada wahyu yang datang dari angin jakarta. Tapi kenapa orang2 yg bertopi islam itu tidak malu denganmu? Padahal topi, baju hingga hp mereka mereka itu dibuat oleh kaum lain yg mereka musuhi. Jibril malah balik tanya, 

“sing Allahu akbar ki apane cuk?” 

Ternyata, Jibril juga bingung dan berkata “Sudah, nikmati saja kopimu” ☕

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s