Segelas Kopi Leng Cuk

โ€‹

Celeng bertanya kepada Jancuk. “Cuk, kita ini sebenernya haus apa doyan to? Kalau haus kan gak harus minumnya kopi? Kalau doyan kenapa rakus. Kita ini sebenernya doyan kopi apa? Kok semua kopi kita minum. Dari sachet sampe spesialty” 

Jancuk menjawab, “Iyo leng, hari ini Kita minum segelas kopi saja dulu, kita makan sepiring saja dulu, kita pahami seilmu saja dulu”

Satu saja yang sederhana, 

Satu saja yang mudah dipahami, 

Satu saja yang menyatukan, 

Satu saja yang selalu ditengah.

Celeng bertutur. Dalam bahasa indonesia, Mutlak = penuh, genap, utuh, 100%, tidak boleh tidak. Itu bersifat mengikat. 

“Bukannya estimologinya dari bahasa arab Muthlaq = tidak terikat? Kenapa gitu cuk?”

“Ya sementara ini kita ambil jalan tengah saja, yang selalu lebih baik. Bisa betmakna penuh, bisa hampir penuh, bisa setengah penuh dan opacity serta gradasi lainnya 😁” 
“Dari pengamatanku, Sepertinya akan bubar Negeri ini. Tapi gimana, Aku bangun setiap pagi saja sudah repot dengan urusan keluargaku, sudah bingung dengan cicilan cicilan yang sudah jatuh tempo. Jadi, misalkan bubar juga nggak penting penting amat bagiku. Tinggal kita hijrah ke keraton atau ke jawa timur bukan?” 

Iya lah cuk, Hidup disini kita musti “nyicil” memahami asal usul kata perkata, biar kita makin lama makin tau, kata apa saja yang sudah mengalami pergeseran makna dari tahun 1800 an – 2016 sekarang. 

Karena hanya dengan “modal” 1 kata saja, sebuah generasi bisa dirusak/dirobohkan. Semakin jauh kita kebelakang menyusuri 400-600 tahun yang lalu. 

Kita diinjak dengan kaki tak tampak

Kita ditonjok dengan tangan tak tampak

Kita dihina dengan suara suara merdu

Kita diberaki dengan roti roti rasa pisang cokelat dan keju

Makanya leng, aku memilih menyerah saja jadi wartawan dan sementara ini memilih menjadi seniman pencari hakikat saja, pencari Tauhid 😁 

Bagus cuk. Biar tetep kuat otak kita, akal sehat kita, kita perlu kopi lagi nih.

“Sik sik leng.. pancen celeng kowe. Bentar dulu” 

Kalau yang namanya akal ya mesti sehat lah 😦 Jadi nggak ada apa itu akal sehat, kalau berakal itu pastinya sudah sehat otaknya. Otak sehat, maka jadilah akal. Gimana to leng?” ๐Ÿ˜•

“Oh iya juga cuk. Sorry sorry, khilaf 😁. Aku juga manusia leng, banyak salah. Gara gara ngopi kok jadi pinter juga kamu leng” 

Lha iya to leng. Biar otak maksimal maka dibutuhkan lah kopi. Kalau temen kita gak biasa ngopi ya suruh coba aja sekali kali kalau mau, segelas saja dulu lah, sehari 1x di pagi hari udah cukup kan leng. Kalau kerja otaknya lebih keras ya tinggal nanti siang tambah segelas lagi. Bagus gak leng? โ˜•😁 

Lha iya, “Kita sendiri yang tau kebutuhan diri kita”

Iklan

4 thoughts on “Segelas Kopi Leng Cuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s