Pemahaman Budaya Kopi Bertitik Pusat

โ€‹

Aku punya temen yg sangat perfecsionis soal kopi, sampai sampai ia “mentuhankan arabica” dan “mengibliskan robusta” dengan akalnya. Cara berfikirnya seperti seniman top dengan keotentikannya. Tapi bukan ke arah “kopi matematikawan” seperti seperti orang orang yg mengaku ahli itu. Pokoknya sering gak sampe akal ku menerima cara berfikirnya itu. Logikanya gak masuk akal. Lha gimana, 

“robusta yg dikasih sedikit jeruk nipis = arabica bercitrus tinggi”.

Pinter opo Gendheng ki bocah 😵

Cukup layak disebut cendekiawan, lha gimana? semua tukang seduh, semua kedai kopi berani ia cacat habis dari kualitas kopi, seduhan kopi, penyajian, marketing sampai konsep konsepnya, seperti seorang pengamat yg derajatnya selalu lebih tinggi dibanding para pelakunya. Ia meniru, eksperimen, improve, bahkan ia berani berfikir terbang, melambung, absurd, berfatamorgana hingga mencapai puncak romantisme romantisme rasa. Duh edan edan edan 😦

Tapi kesalahannya adalah satu, yaitu berani sekali kau mengadu hal ini kepadaku .. hahaha 😄 

Kan sudah ku bilang, “Kemana pun, sejauh apapun kau pergi, kau akan kembali ke titik pusat”. Tergantung pemahamanmu berapa lama nanti. Ketika pola pola pemahaman akal, hati dan hasratmu mulai terbentuk, mulai membijak, mulai saat itu lah energimu akan mencari akar dan mencenderungkan diri ke “titik pusat”. 

Pemimpin, pekerja, pelukis, pemusik, bahkan pengopi pun akan seperti seperti itu. Contoh aja yg gampang, figur figur top seperti Soekarno, Suharto, KoesPlus, Iwan Fals, Umbu, Rendra, Caknun dsb. Apakah mereka kembali ke titik pusat dalam ujung pencariannya? 

Dunia kekopian juga seperti itu. Lha gimana, masak gara gara kamu kenal cewek lain, cewekmu sendiri kau tinggalkan. Malah milih lstri orang yg lebih subur. ๐Ÿ˜• Kalau kamu ketemu orang orang seperti ini, udah lah jangan diganggu. Biarkan saja sebiar biarmu, yg penting masih berhubungan baik bersaudara. 

Jika mereka sekarang meninggalkan robusta, cuma doyan arabika, tapi secara otomatis mereka akan menghargai petani. Tidak mungkin tidak. Bagus kan? Tapi tunggu dulu, nanti mereka akan jenuh dengan sendirinya, lalu kembali doyan robusta, lalu kembali juga doyan kopi sachet, doyan kopi cap “kapal keruk” (meskipun kadang kadang saja karena sikon lah) 😄, lalu mereka akan menuju ke titik spiritual, yg saya menyebutnya “God Spot” atau titik ketuhanan (Bukan Tuhan, tapi sifat Tuhan dengan imbuhan ke-an). Sebuah titik tengah dalam dimensi lingkaran dengan arahnya tak terhingga, sifatnya banyak, sifatnya beragam dan bisa berubah ubah. Gak perlu percaya, saya ini cuma tutur tutur saja disini. Anggaplah ini obrolan hangat biasa di sebuah warung kopi kecil. 

Lalu saya bertanya kepada temenku ini, 

“Modern coffee itu salah satu produk budaya kopi atau budaya kopi yg lebih luas?”

“Hasrat pencarian dan pengetahuanmu itu apakah bener bener bisa memuaskan ‘Rasa kebudayaan’?”

“Atau malah tidak sama sekali?”

Ya tidak perlu dijawab juga, karena setiap manusia memiliki alam rasa dan kesadaran naluriah terhadap `titik pusat’ sendiri sendiri. 

Ini bukan kemunduran, bukan konservatisme, bukan pembelaan orang pribumi. Saya tidak berani mengarahkan apapun, tidak berani menyuruh, apalagi menyalahkan. Tidak, aku bener bener tidak berani. Maksudku, agar kita sama sama belajar tentang budaya yang “Semakin berisi, semakin merunduk”. Kalau versi jawa timur, jok kemaki kon.. haha 😄 

Semua kopi itu baik kok teman teman, gak ada yg salah. Kopi pecah pun juga tak minum kok dirumah. Tapi bisa menjadi gak baik kalau kopi pecah dikelola oleh orang orang yg tidak benar. Apalagi kopi kualitas bagus. Karena benar belum tentu baik, tapi kalo baik pasti benar. Syukur syukur mulia, ya baik ya benar 😁 

Akhirnya temen saya ini kembali lagi doyan kopi hitam jenis apapun tanpa gula, setelah saya bilang bahwa “bitter atau pahit pada kopi arabika mustahil bisa lebih nikmat dari pait kopi robusta”. Modyar.. mumet mumet sisan. Haha 😄 

Salam kekopian 😁

Iklan

4 thoughts on “Pemahaman Budaya Kopi Bertitik Pusat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s