Hilangnya Kemuliaan Kopi dan Petani 

Kopi cacat
“Biji kopi dengan kondisi apa adanya”
Baru kenal kopi arabika kemarin, sekarang udah gak doyan kopi robusta. Mau minum kopi tanya banyak banget. Varietas lah, prosesnya lah, roastingannya lah, mesin apa lah. Duh iki penikmat kopi apa Q grader sih? 😦 Mas mbak, mbok wes diminum dulu baru tanya, baru ngobrol.

Hampir semua orang anti kopi pecah, katanya itu deffect/cacat. Hlo gimana to ini, klo mau nyacat ya jangan kopi yg dicacat. Dia kan gak salah. Sortir itu bagus untuk memaksimalkan rasa yg kita inginkan. Tapi saya rasa gak bagus kalau yg dianggap “cacat” ini dibuang atau dijual murah. Kenapa enggak buat kopi spesial karena kecacatannya yg otentik. Bisa to? Ada flavour taste tertentu yg membuat ia spesial. 

Jadi saya rasa, kopi jenis apapun, pake proses apapun itu bagus bagus aja, gak ada yg salah tok (titik), tapi salah dari apa subjeknya. Petik buah kopi dari pohon langsung lalu dikunyah dan ditelen itu juga bagus kok. Ada dalam budaya kopi tertua, yaitu budaya kopi primitif

Kopi yang tidak bagus itu kopi yang dikelola oleh orang yang tidak tepat, apalagi yg mengelola bukan orang kita sendiri. Tapi orang kita malah cuma jadi jongos, cuma buruh yang cuma bisa manut, manut, manut aja. Mereka sudah enggak berdaulat sebagai petani. Jelas ada keuntungan sepihak, ada indikasi ke arah liberal kapitalis. Para petani dan pelaku kopi lainnya sudah enggak bisa “bebrayan”, bareng bareng lagi. 

Miris, kalau saya buka terang terangan lebih dalam, bisa bisa udah nggak mau jualan kopi. Karena petani kita sudah tidak mulia dihadapan Tuhan. Karena mereka sudah tidak berdaulat, tidak bisa menentukan harga. Karena dalam hukum Tuhan, petani akan mulia jika ia berdagang, setidaknya bisa menentukan harga. Kalau kalian ketemu petani yang gak mau menentukan harga karena ketidak fahaman dia, maka tugas kita ya menjelaskan dulu ini itu secara jujur. Dari biaya biaya yang kita perlukan hingga hasil penjualannya.

Piye to iki, mosok semua pihak malah memihakkan dirinya sendiri. Ini dunia kekopian apa politik senayan? Semua jadi industri. Mbok mas mas, mbak mbak, om om, yang ahli ahli, yg kaya kaya, yg punya jabatan itu bikin buku, program tv apa film dengan sudut dan jarak pandang otentik yg lebih jauh untuk kepentingan bersama. Jangan malah takut besuk makan apa. Lalu cuma ngekor ngekor aja sama SCAA. Klo mereka para barista, Q grader atau apapun itu yg populer populer itu ya cuma artis biasa, ia belum bisa disebut selebriti. Toh mereka juga gak faham, gak merasa klo dirinya itu cuma produk dari dunia kekopian skala global. 

Para selebriti yg sebenernya itu ya pasti gak tersorot, mereka ada di daerah daerah, mereka para pelaku kopi yg setiap hari berjuang didaerahnya, berjuang dengan kenikmatan, rahmatan lil alamin, karna besar kecilnya untung mereka tetap dilakukan bersama sama. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s