Pemahaman Puasa dengan Segelas Kopi

​Puasa itu terhadap semua hal. Puasa itu bukan soal kealiman, agama dan hal baku lainnya. Kalau kita makan 1 piring, menahan 2 piring. Itu namanya juga berpuasa. Menuduri 1 istri, berarti berpuasa meniduri wanita lain. Minum 1 gelas, menahan 1 galon. Seperti itu, jadi manusia sudah diciptakan seperti ini adanya. 

Termasuk dalam berjualan juga butuh ilmu puasa, kalau pengen rejeki kita lancar selama puluhan tahun. Misalnya buka warung, kedai atau cafe. Di setiap daerah pasti ada pedagang2 kecil seperti ini disekitar kita. Coba dilihat, coba lebih peka memahami perilaku orang lain. Benda benda apaoun. Bahkan dalam selembar daun yang jatuh pun terdapat Firman Tuhan. 

Kalau di daerah magelang seseorang bernama ada ibu Agustin. Seorang ibu berumur sekitar 80 tahun yang membuka usaha warung kecil berukuran 3×6 meter. Beliau menjual wedhang kacang. Tempat ini buka cuma 4 jam saja setiap harinya. Mulai jam 5 sore sampai jam 9 malam. 90% pelanggannya adalah orang chinese di sekitaran magelang. Warung belum buka aja mereka udah mau nungguin. Orang orang cina itu rela nunggu, antri. Lha kowe opo, malah dadi pekerja cina. 😕 

Pernah saya ngobrol serius dengan bu agustin. Beliau baik banget, sampai sampai saya tidak boleh membayar apa yang sudah saya makan diwarungnya. Lumayan to 😁 rejeki. Beliau bilang kalau resepnya mau dibeli seharga 50 juta oleh seorang cina di semarang, tapi beliau menolak. Bukan karena sombong dan gila uang, tapi ini soal keris, soal martabat, soal kedaulatan dan prinsip hidup.

Dalam dunia kekopian juga ada mas pepeng klinikkopi yang juga membatasi jam buka. Orang kopi mana yang gak tau mas pepeng. Dia buka kedai, melayani pembeli cuma 4-5 jam saja dalam sehari. Buka jam 6-10 malam. Bukan sombong, bukan sakarepe dewe, bukan males. Saya yakin ini soal berpuasa, membatasi “kepuasan konsumen”. Kalau mas pepeng konsisten dan terus menjaga hubungan baik dengan pelanggannya, insyaAllah sampai anaknya pun masih jualan kopi seperti itu. 

Bahkan sakit pun juga berpuasa. Seperti mbak Ajeng yang kmrn batuk dan gak bisa ngopi. “Bang aku batuk, pengen ngopi 😥”. Lalu Kubilang jangan ngopi dulu, puasa dulu. Dalam sakit pun sesungguhnya kamu itu sedang berpuasa.

Kalau konteks kita perluas, ternyata Ilmu ekonomi itu bukan hanya berasal dari Adam Smith. Wong itu baru ada di tahun 1800. Kan yo mung yahudi wingi sore to rek, klo dibandingkan jaman sebelum masehi, jaman muhammad,  yesus, musa, sudah ada ilmu ekonomi. Cuma namanya bukan ekonomi, tapi ilmunya kan sama. Yaitu memahami perilaku manusia dalam memakmurkan diri dan lingkungannya.

Dalam dunia ini tidak ada yang benar benar berubah. Tapi gpp, sing penting ojo koyo pemerintahanmu sing njlimet kui. Begitu Merdeka dengan bahasa nasional bahasa indonesia, tahun 1950 dibuat lah Balai bahasa, ganti menjadi lembaga bahasa, ganti lagi direktorat bahasa, ganti ganti terus sampai jaman presidenmu yang amsekarang ini juga pasti udah ganti nama lagi. Tambah ra cetho, 😕 padahal intinya kan ya sama 😕 Badan badan lain juga gitu, gonta ganti nama. Owalah pak, mbok ya kalian itu juga berpuasa. Jd umur 60 tahun itu badan masih sehat, bisa makan nasi anget lawuh pindang lombok ijo. Bisa minum kopi nasgitel, panas legi kenthel 😁  pakai gelas kopi di bukalapak.com/dickopurnomo (kekopian) 

Haha.. yang terakhir itu guna mencukupi kebutuhan saja. Jadi kalau ada pemasukan, blog ini (kekopian.com) bisa lebih baik, bisa digunakan semua orang untuk sedekah rekonstruksi pemikiran untuk kita semua, rakyat nusantara. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s