Retorika Kopi Semesta dan Insting Peminumnya

image

Kopinya udah jadi. Seperti biasa, hujan turun di sore hari. Tanpa pikir panjang, kuseduh salah satu kopi terbaik indonesia. Dan “Saatnya beretorika”, kata salah satu temenku yang saat ini di jakarta. Dia lagi kangen kopi buatanku. Katanya, puluhan kedai kopi yang ia coba selama ini memang enak, tapi tak ada kopi yang seperti kopiku: otentik, berkharisma.

Aku pun tiba-tiba ingin beretorika seperti yang biasa dia lakukan. Nggak tau kenapa, pokoknya saat ini Aku mau aja. Ku awali dengan srutupan pertama 59Β°C. Wow, kemudian aku berkaca. Ternyata aku merasa bodoh. “Iya, Kau bodoh!”, jawab semesta kepadaku. Aku sadar kalau ternyata selama ini tentangku hanya lah kehidupan politik cinta penuh kemunafikan. Sebuah “gengsi saintifik” buah pikiran-pikiran orang di sekitarku. Bukan murni hasil pikirku dan inginku.

Ku lanjutkan srutupan kedua 49Β°C. Dalam renung, lalu Aku tanya Kepada semesta. “Hai Semesta, jujur, di titik ini aku merasa bingung. Akan Engkau bawa kemana Aku? Haruskah ku menjadi apa adanya mengikutimu: flow stage sesuai kemurnian insting
ku, bukan pikiranku, bukan pula pendidikanku?”

Hai semesta, Aku tau semua atom di seluruh alam semesta Mu ini terhubung. Meski tak kasat mata, aku bisa merasakannya. Seperti saat merasakan proses bernafas tubuhku ini, atau proses menggerakkan kedua tanganku ini. Semua terasa sangat sempurna dan terstruktur langkah demi langkah. Tik tak tik tak … mereka (atom) dengan setianya bekerja tanpa henti sepanjang hari untukku.

Hai semesta, berikan aku keberanian untuk melangkah tanpa sadar berfikir, tanpa sebab, tanpa syarat dan tanpa pertimbangan rasa yang tersirat. Aku tau, pertimbangan hanya berlaku bagi mereka mereka di bangku kuliah, mereka yang diciptakan untuk sebuah tujuan. Sementara aku, sudah lama tidak percaya kepada kurikulum. Aku lebih percaya kepadaMu.

Menurutku, insting pemberianMu ini sudah sangat sempurna dan terbaik dalam sejarah peradaban manusia. Seperti insting Muhammad Ali dalam ring tinju, atau Bruce Lee dengan gerakan spontannya. Mereka tak pernah sadar, hanya mengikuti insting pemberianMu.

Lalu Kuhabiskan kopiku. Seketika Aku telah menjadi pria tanpa tujuan yang terpilih yang terlahir menjadi pemimpin: memimpin milyaran molekul atom dalam tubuhku. Sebagaimana telah Kau pilihnya Aku dari panjangnya peradaban ini.

Hai semesta, ijinkan “Si Tampan Bali Kintamani” ini menyatu ke dalam atom-atom dalam tubuhku. Bekerja dan setia sepanjang hidupku, sebagaimana orang-orang sebelumku yang memperlakukan ia dengan baik. Aku hanya mengikuti kesucian instingku, meneruskan apa yang Kau telah Kau hadirkan untukku.Β 

Iklan

15 thoughts on “Retorika Kopi Semesta dan Insting Peminumnya

      1. Saya lebih baru lagi Mas. .
        Sebenernya dari dulu suka ngopi, tapi ngopi yg nggak bener (kopi sachet) 😁
        Setelah saya tahu, kalau kopi sachet itu ternyata minuman rasa kopi. Akhirnya saya cari tahu dan nemu bagaimana kopi itu sebenernya. Nah, sekarang saya pengen mempelajari lebih jauh lagi tentang kopi Mas,
        Masih sekadar baca baca artikel tentang kopi aja si Mas dan saya tertarik ke manual brew.

        Bisa nih, Mas Dicko sharing juga ke saya πŸ™‚

        Wah, panjang ya jawaban saya, πŸ˜€

        Suka

      2. Haha.. iya Mas
        Kalau instagram saya aktif kok
        Cuma saya masih kesulitan buat nemuin karakteristik rasa di setiap kopi. .
        Beberapa kali udah nyoba black coffee dri kopi daerah si. Tapi kadang masih susah nemuin bedanya,

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s