Mendingin dalam Kesejukan Rasa

image

Kemarin, saat awan-awat putih berganti menjadi awan gelap, pohon-pohon terliat riang gembira menyambutnya. Mengharap air dan udara lekas mendingin dalam kesejukan rasa. Tepat seperti wajah seorang wanita masalalu ku yang saat itu yang selalu “heboh” setiap menyambut kedatanganku.

Sesekali marah boleh kok, tapi jangan larut bersedih. Biar lah kopi saja yang gelap, hatimu jangan. Oh iya, kamu udah ngopi kan? Seduh kopi apa hari ini? Pakai kopi specialty kan? Bukan kopi sachet?

Pernah aku bilang, “Apa yg kita minum (konsumsi untuk tubuh), akan mempengaruhi perilaku kita”. Sebagai contoh kecil dalam dunia perkopian ini. Peminum kopi rakyat/kopi komersial akan bilang “ngopi dulu bos, ndak edan”, ungkapnya sambil motret cangkir & rokok ditangannya. Ya.. nggak salah sih, aku juga dulu mengalaminya.

Sementara peminum kopi specialty seperti kita, punya ungkapan berbeda. Bersyukur, melalui kopi ini Kita bicara proses, seni, rasa syukur dan rasa keingintahuan akan banyak hal apapun yg lebih baik, termasuk perihal asmara Kita. Seperti kataku baru-baru ini, “Baiknya, perbincangan hangat diawali dengan segelas kopi”. Lalu biarkan gelas kedua dan ketiga mendekap erat, menempel tanpa batasan gengsi.

Itu baru kopi, belum minuman lain yg sering kita kosumsi. Hujan pun datang, namun perbincangan tetap menghangat ditemani tetesan akhir kopi sunda gulali sebagai tanda perpisahan. Kita pun pulang menjadi pohon, yang mendingin dalam kesejukan rasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s