Si Montok Menyihirku

Siang ini sangat berbeda dari siang-siang sebelumnya. “Aku Menyiang” alias bangun siang, setelah melewati malam minggu yang panjang.

Bangun tapi belum mau ngapa-ngapain. Tiba-tiba mataku terpesona manja melihat parasmu. Angin lembut pun membujukku, mengirimkan sedikit demi sedikit aroma wangimu. Ah pelit nih angin, kadang tercium jelas, kadang cuma samar-samar. Makin penasaran, tanpa pikir panjang, langsung aja kunikmati kau yang berbodi montok. Ku tak menyangka, goyanganmu justru membuatku tak mampu bergerak, apalagi beranjak. Aku pun nurut, hanya duduk, bersandar dan mencoba rileks dalam diam menikmati moment ini. Tak lama sakit, klimaks pun kau rubah menjadi nikmat. Oh, sepandai ini kah kau memanjakanku? 🙂

Aku pun tersihir, seketika terpikat senyummu. Ada ruang hatiku mampu kau temukan. Meskipun kemarin kau sempat aku lupakan, kini kau sentuh kembali aku dengan caramu. Dengan nostalgia rasa di memoriku.

image

Aku menyebutmu “Si Montok Robusta Gunung Kelir“. Kopi robusta pertama kali yang membuatku kembali jatuh hati. Cinta emang banyak bentuknya. Ia pandai menyentuh ruang di hati. Mengagumkan rasa, cinta dan mata tentang cara melihat dunia, tentang cara memandang dan dipandan, tentang selera dan diselerakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s